Australia Negara Pertama di Luar AS Pengguna Rudal Canggih AIM-260 JATM

Super Hornet AL AS bawa rudal AIM-260A JATMJonathan Tweedy
Jet Super Hornet AL AS membawa rudal AIM-260A JATM.

AIRSPACE REVIEW – Australia kembali mengambil langkah strategis dalam memodernisasi armada militernya dengan mengakuisisi Joint Advanced Tactical Missile (JATM) AIM-260. Langkah ini mencatatkan Australia sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang mendapatkan izin untuk mengoperasikan rudal udara ke udara jarak jauh generasi terbaru tersebut.

Dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar 736 juta USD (sekitar Rp13,10 triliun), pengadaan ini secara signifikan memperkuat posisi Angkatan Udara Kerajaan Australia (Royal Australian Air Force/RAAF) sebagai salah satu kekuatan udara paling maju di kawasan Indo-Pasifik.

Pengumuman akuisisi bersejarah ini disampaikan di tengah gelaran latihan militer multinasional Exercise Pitch Black 2026 di Pangkalan Udara Darwin. Paket kesepakatan tersebut mencakup pengadaan hingga 450 unit rudal AIM-260, lengkap dengan peralatan pendukung, sistem pengujian, suku cadang, dukungan logistik, hingga penyediaan infrastruktur operasional.

Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi pertahanan Canberra untuk meningkatkan daya tangkal (deterrence) di tengah meningkatnya dinamika dan persaingan militer di kawasan.

Untuk F-18F dan F-35A

Pada tahap awal, rudal AIM-260 rencananya akan diintegrasikan pada armada jet tempur F/A-18F Super Hornet RAAF. Selanjutnya, integrasi akan diperluas ke jet tempur siluman F-35A Lightning II serta pesawat perang elektronik EA-18G Growler.

Selain memperluas jangkauan tempur di luar jarak pandang (beyond visual range/BVR), pengoperasian sistem senjata ini memastikan interoperabilitas tingkat tinggi antara militer Australia dan pasukan sekutu Amerika Serikat.

Dikembangkan secara rahasia sejak 2017 oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS, AIM-260 dirancang untuk melengkapi sekaligus menggantikan peran rudal legendaris AIM-120 AMRAAM.

Meskipun spesifikasi detailnya masih dirahasiakan, para analis militer menilai senjata baru ini memiliki jangkauan yang lebih jauh, kecepatan lebih tinggi, serta ketahanan luar biasa terhadap serangan siber dan penanggulangan elektronik (electronic countermeasures). Karakteristik canggih ini disiapkan secara khusus untuk mengimbangi potensi ancaman dari rudal-rudal modern buatan China, seperti PL-15.

Menariknya, dimensi fisik AIM-260 dirancang tetap mirip dengan AIM-120 agar dapat diangkut di dalam ruang senjata internal (internal weapon bay) jet tempur siluman seperti F-35 dan F-22 Raptor tanpa mengorbankan profil silumannya. Keunggulan teknis ini bertujuan untuk merebut kembali dominasi pertempuran udara jarak jauh bagi militer AS dan sekutu utamanya.

Memperkokoh Aliansi Keamanan di Indo-Pasifik

Keputusan Washington mengizinkan ekspor AIM-260 ke Australia juga menjadi penanda penting dalam kebijakan pertahanan AS. Biasanya, AS baru membuka akses penjualan sistem senjata baru kepada sekutu setelah platform tersebut resmi masuk dan dioperasikan oleh inventaris militernya sendiri.

Pemberian akses awal ini mencerminkan tingkat kepercayaan strategis yang sangat tinggi antara kedua negara, sekaligus memperkokoh aliansi keamanan di Indo-Pasifik.

Pengadaan rudal canggih ini melengkapi program modernisasi pertahanan Australia yang tengah berlangsung masif, mencakup penguatan armada F-35A, pengadaan kapal selam bernuklir melalui kemitraan AUKUS, serta pengembangan rudal serang jarak jauh lainnya.

Bagi Amerika Serikat sendiri, memperlengkapi sekutu terdekat dengan teknologi pertahanan mutakhir merupakan bagian mendasar dari strategi integrasi operasi dalam menghadapi potensi konflik berintensitas tinggi di masa depan. (RW)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *