Sekelumit Cerita tentang Su-27SK PLAAF yang Dibeli China dari Rusia
China Military, KanwaAIRSPACE REVIEW – Sebuah sumber militer tepercaya di Beijing menyampaikan kepada majalah Kanwa Asian Defence edisi Januari 2008 bahwa dalam dua tahun terakhir (sejak 2006) China telah meningkatkan kemampuan 70 unit pesawat Su-27SK dan J-11 model dasar. J-11 adalah versi lokal dari produksi lisensi Su-27SK Rusia oleh pabrik Shenyang, China.
Peningkatan kemampuan yang dilakukan oleh industri pesawat China, tidak lepas dari bantuan industri dirgantara Rusia, Sukhoi.
Dikatakan bahwa standar peningkatan secara keseluruhan berada di bawah versi Su-27SKM Rusia. Meski demikian, perangkat lunak kendali tembak (fire control software) pada komputer misi telah ditingkatkan sehingga jet tempur tersebut kini dapat mengusung rudal udara ke udara berpemandu radar aktif RVV-AE.
Pertama Kali Diungkapkan oleh China
Ini merupakan pertama kalinya sumber tepercaya dari industri militer mengungkapkan kepada publik bahwa jet tempur Su-27 dan J-11 milik Angkatan Udara China (PLAAF) telah menjalani modernisasi teknologi. Perkembangan ini diyakini akan meningkatkan kemampuan menyeluruh PLAAF secara signifikan dalam pertempuran udara.
Hal ini juga menandakan bahwa jumlah jet tempur generasi ketiga milik PLAAF yang mampu mengoperasikan rudal berpemandu radar aktif jauh lebih banyak dari perkiraan pihak luar. China secara total mengakuisisi 48 unit Su-27SK dari Rusia dan membuat setidaknya 22 unit J-11 versi dasar di dalam negeri. Seluruh pesawat ini berhasil ditingkatkan kemampuannya di dalam negeri.
Setelah program tersebut, China menggunakan teknologi dalam negerinya untuk mengintegrasikan peningkatan pada varian J-11A. Selanjutnya, China bersiap memulai produksi penuh (full-rate production) untuk varian lokal yang telah ditingkatkan, yang kemudian diberi kode J-11B.
Varian Su-27SKM sebenarnya memiliki kemampuan untuk meluncurkan serangan presisi terhadap sasaran di darat maupun laut. Namun, proyek peningkatan pada 70 unit Su-27SK dan J-11 tersebut tidak mencakup kemampuan itu dan fokus utamanya adalah pada penguatan pencegahan sasaran di udara.
Su-30MKK dan Su-30MK2
Selain mengakuisisi Su-27SK dari Rusia, China disebut juga mengakuisisi sekitar 76 unit jet tempur Su-30MKK dan Su-30MK2 dari Rusia. Sumber tersebut mengungkapkan bahwa satu unit Su-30MK2 pernah mengalami kecelakaan. Atas peristiwa ini, pihak China dan Rusia memiliki perbedaan pandangan mengenai penyebab jatuhnya pesawat tersebut.
PLAAF secara resmi menyatakan tidak membutuhkan tambahan unit Su-30. Secara umum, pihak Angkatan Udara China menegaskan cukup puas dengan operasional serial jet tempur Su-30 di dalam negeri mereka.
Meskipun sempat timbul beberapa masalah kecil pada fase awal pengoperasiannya, pihak Rusia merespons dan menyelesaikannya dengan tepat waktu. Su-30MKK dan Su-30MK2 sendiri dirancang khusus untuk kebutuhan PLAAF sehingga unit yang diekspor masuk dalam lini produksi tahap awal.
Masalah teknis pada fase awal dianggap wajar sebagaimana produk teknologi baru yang baru diproduksi. Melalui penyempurnaan berbasis pengalaman China, jet tempur Su-30MK2 yang kemudian diekspor ke Aljazair dan Venezuela, sudah dalam kondisi matang secara teknologi.
J-11B
Sumber militer tersebut juga membeberkan perkembangan produksi jet tempur J-11B di China. Kanwa sebelumnya melaporkan bahwa J-11B memiliki tingkat kandungan lokal yang sangat tinggi berdasarkan kemajuan produksi suku cadang yang dipublikasikan.
Namun, sumber di Beijing mengklaim bahwa setidaknya 50 persen komponen suku cadang J-11B masih harus diimpor dari Rusia. Perbedaan penilaian ini terjadi karena banyak suku cadang kecil buatan Rusia yang diimpor untuk dirakit menjadi komponen utuh di China.
Sebagai contoh, sejak November 2006 China telah menandatangani empat perjanjian pembelian sistem pencari dan penjejak elektro-optik (IRST) dari Rusia.
Laporan Kanwa sebelumnya juga mengutip sumber industri militer Barat di Beijing yang menyebutkan produksi massal J-11B akan dimulai pada tahun 2008. Saat itu, varian percontohan (pilot variant) dari J-11B sudah menjalani tahap pengujian di Divisi No. 1 PLAAF.
Kini Telah Ditarik dari Operasional Tempurnya
Armada jet tempur Su-27SK buatan Rusia yang dibeli oleh PLAAF sejak awal dekade 1990-an kini secara bertahap telah ditarik dari lini depan operasional. Seiring berjalannya waktu, airframe dari pesawat generasi awal ini telah mendekati bahkan melampaui batas jam terbang resminya (service life).
Langkah penonaktifannya dari operasional ini merupakan bagian alami dari modernisasi alutsista China, di mana pesawat-pesawat veteran tersebut tidak lagi menjadi tulang punggung utama pertahanan udara nasional.
Setelah tidak lagi difungsikan untuk misi tempur aktif, unit yang tersisa dialihfungsikan untuk mendukung pendidikan penerbang di akademi militer serta menjadi sarana pelatihan praktis bagi teknisi pemeliharaan darat (ground crew).
Baca Juga: Hadapi Su-30MKI, Pakistan mungkin akan membeli J-11B dari China
Saat ini, peran penjamin keunggulan udara yang dahulu diampu oleh Su-27SK telah sepenuhnya digantikan oleh jajaran jet tempur turunan Flanker hasil penguasaan teknologi domestik China yang jauh lebih canggih, seperti Shenyang J-11B, J-16, dan J-15 yang sudah dilengkapi radar AESA serta sistem avionik modern.
Pengoperasian platform-platform dalam negeri ini juga dikombinasikan dengan hadirnya jet tempur siluman generasi kelima seperti Chengdu J-20 dan Shenyang J-35 untuk menjaga kesiapan tempur PLAAF di kawasan. (PN)
