TNI AU Bantu AS Lacak Prajurit yang Gugur saat PD II di Biak

TNI AU bantu AS cari prajurit yang gugur di Biak saat PD IIUS Embassy, Kemendikbud
TNI AU bantu AS cari prajurit yang gugur di Biak saat PD II.

AIRSPACE REVIEW – Badan Pencarian dan Identifikasi Tentara Hilang/Tawanan Perang Departemen Pertahanan AS (DPAA) merampungkan misi investigasi sejarah di Pulau Biak, Papua. Kunjungan yang berlangsung pada 20–23 Juli 2026 ini menjadi langkah awal implementasi Nota Kesepahaman (MoU) kemanusiaan yang disepakati kedua negara pada April lalu.

Misi ini bertujuan memperluas pencarian artefak sejarah serta jasad personel militer Amerika Serikat yang hilang pada era Perang Dunia II.

Apresiasi Khusus untuk Koopsud III

Dalam kunjungan tersebut, tim gabungan DPAA dan Atase Pertahanan (DAO) Kedubes AS bertemu langsung dengan Panglima Komando Operasi Udara (Pangkoopsud) III Marsda TNI Azhar Aditama.

DPAA menyerahkan surat penghargaan dan plakat komando sebagai bentuk apresiasi atas dukungan penuh TNI AU dalam proses penyerahan artefak dan dugaan kerangka tentara AS.

Baca Juga: Beruntung Banget Bisa Melihat Si Beruang Udara Rusia di Tanah Biak

“Kemitraan kami dengan Pemerintah Indonesia, khususnya dukungan luar biasa dari Marsda TNI Azhar Aditama, merupakan landasan keberhasilan misi di kawasan ini,” ujar Wakil Direktur DPAA Indo-Pasifik, Letkol USMC Jeremy Smith, dikutip dari rilis Kedutaan Besar AS di Jakarta.

Telusuri Jejak Pertempuran Biak 1944

Dua sejarawan DPAA, Dr. Kyle Bracken dan Dr. Alex Peterson, menyisir wilayah konflik bersejarah dengan mengumpulkan sejarah lisan dari para tetua desa setempat.

Selain survei lapangan di lokasi Pertempuran Biak 1944, tim DPAA juga menggelar edukasi interaktif bersama para siswa di Desa Parai serta berziarah ke Tugu Peringatan PD II.

Baca Juga: BRIN mempercepat pembangunan Bandar Antariksa Nasional di Biak

Misi di Biak ini terasa sangat personal bagi pimpinan rombongan, Letkol Jeremy Smith. Paman buyutnya, Sersan Teknis Henry “Buddy” Daugherty, gugur di Pulau Biak setelah pesawat angkut C-47 yang ditumpanginya jatuh pada 27 September 1944.

“Berdiri di lokasi gugurnya paman buyut saya 82 tahun lalu merupakan kehormatan seumur hidup. Ini bukti janji negara kami untuk tidak pernah meninggalkan mereka yang gugur,” ungkap Smith. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *