Panas di Kutub Utara: AS kirim kapal USCG bayangi 2 kapal riset China di Alaska

Kapal Cutter USCGC MunroWikipedia
Kapal Cutter USCGC Munro.

AIRSPACE REVIEW – Ketegangan geopolitik di kawasan strategis Kutub Utara kembali memanas setelah Penjaga Pantai Amerika Serikat (U.S. Coast Guard/USCG) mengerahkan kapal patroli (cutter) kelas Legend, USCGC Munro, untuk membayangi secara ketat dua kapal pemecah es riset milik China yang berlayar di dekat perairan Alaska.

Operasi pengawasan ini diumumkan menyusul masuknya kapal pemecah es riset utama China, Xue Long, ke dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Amerika Serikat serta perlintasannya di atas landas kontinen yang diperluas di Laut Bering.

Tidak hanya mengawasi Xue Long, kapal USCGC Munro juga secara intensif memantau pergerakan kapal pemecah es generasi baru Beijing, Xue Long 2, yang berlayar beriringan menuju Samudra Arktik. Langkah responsif Washington ini mencerminkan kekhawatiran yang kian mendalam bahwa aktivitas riset sipil yang diklaim oleh China dapat berfungsi ganda sebagai pengumpulan data intelijen strategis atau persiapan operasi militer di masa depan.

Riset dan Kegunaan Ganda

Meskipun secara resmi kedua kapal China tersebut diklasifikasikan sebagai wahana penelitian ilmiah tanpa persenjataan militer, Washington dan sekutunya menaruh perhatian penuh pada spesifikasi canggih yang diusung oleh kapal-kapal tersebut. Xue Long 2, misalnya, memiliki dimensi panjang 122,5 meter dan bobot 14.300 ton dengan kemampuan bidirectional icebreaking, yakni dapat memecah lapisan es tebal hingga 1,5 meter baik saat bergerak maju maupun mundur.

Kapal ini juga dilengkapi dengan serangkaian instrumen pemetaan bawah laut termutakhir, termasuk multibeam echo sounders air dalam, sub-bottom profiler, sonar omnidireksional, hingga sistem penduga kedalaman yang mampu beroperasi hingga 10.000 m.

Keberadaan fasilitas moon pool berukuran 3,2×3,2 m serta derek (crane) berkemampuan angkut tinggi memungkinkan awak kapal menurunkan berbagai instrumen oseanografi secara presisi di tengah kondisi es yang ekstrem.

Menunjang Navigasi Kapal Selam Militer

Bagi para pengamat pertahanan, data batimetri (topografi bawah air), profil sedimen, dan kondisi akustik bawah air yang dikumpulkan oleh armada riset ini memiliki nilai strategis ganda (dual-use). Kumpulan data oseanografi tersebut tidak hanya berguna untuk kepentingan geologi dan iklim, melainkan sangat vital untuk menunjang navigasi kapal selam militer, optimalisasi jangkauan sonar, penempatan sensor bawah laut secara tersembunyi, hingga operasional kendaraan nirawak (unmanned underwater vehicle) di bawah lapisan es.

Walaupun instrumen-instrumen ini tidak serta-merta membuktikan adanya tindakan spionase langsung di zona sumber daya AS, potensi penggunaan militer inilah yang mendorong Penjaga Pantai AS untuk mempertahankan kehadiran pengawasan yang konstan.

Baca Juga: Beli 12 kapal selam Type 212CD dari Jerman, Kanada siapkan pemburu monster besi di Arktik

Pengumpulan data batimetri dilakukan menggunakan teknologi canggih seperti sonar pemancar ganda (multibeam echo sounder), layaknya instrumen yang terpasang pada kapal riset China, Xue Long 2. Alat ini bekerja dengan cara memancarkan gelombang suara secara terus-menerus ke arah dasar laut, lalu mengukur dengan presisi waktu yang dibutuhkan oleh gelombang tersebut untuk memantul kembali ke sensor di kapal.

Melalui kalkulasi durasi pantulan gelombang suara tersebut, para peneliti dapat memetakan tingkat kedalaman serta kontur bentuk relief dasar laut secara akurat.

Adu Pengaruh di Pintu Arktik

Kawasan Laut Bering dan Selat Bering merupakan satu-satunya koridor maritim krusial yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Arktik. Bagi China, ekspedisi rutin ke wilayah utara ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menguji ketahanan fisik kru, menyempurnakan model navigasi es, serta memperluas kehadiran operasional di kawasan yang tidak memiliki kedaulatan teritorial langsung bagi Beijing.

Seiring dengan mencairnya es kutub yang membuka potensi jalur pelayaran baru serta cadangan energi melimpah di dasar laut. Estimasi geologis mencatat Arktik dapat menyimpan hingga 13% minyak dan 30% gas alam dunia yang belum terjamah.

Baca Juga: Kapal Bakamla melakukan latihan dengan kapal USCG

Di sisi lain, tantangan operasional yang dihadapi Amerika Serikat terletak pada tingkat persistensi pengawasan. Sementara kapal USCGC Munro mampu berpatroli secara efektif di perairan terbuka dengan jangkauan jelajah hingga 12.000 mil laut, keterbatasan armada pemecah es berat milik AS membuat pemantauan hingga ke dalam wilayah es tebal menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Situasi ini menegaskan bahwa perebutan pengaruh di Arktik bukan lagi sekadar perebutan klaim teritorial, melainkan perlombaan penguasaan domain maritim untuk memastikan kedaulatan sumber daya dan keamanan nasional di masa depan. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *