Saab sepakati kontrak Rp42,5 triliun untuk pasok 16 jet tempur Gripen E ke Ukraina

Saab Gripen ESaab
Saab Gripen E.

AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan asal Swedia, Saab, resmi mengonfirmasi penandatanganan kontrak dengan Administrasi Bahan Pertahanan Swedia (FMV) untuk memasok 16 unit jet tempur generasi terbaru, Gripen E, bagi Ukraina.

Kesepakatan ini menjadi salah satu program kerja sama militer terbesar antara kedua negara sejak dimulainya perang melawan Rusia.

Nilai kontrak mencapai sekitar 24,6 miliar krona Swedia atau setara 2,6 billion USD (sekitar Rp42,5 triliun).

Kesepakatan tersebut akan dicatatkan dalam pembukuan keuangan Saab pada kuartal ketiga tahun 2026, sementara pengiriman armada pesawat dijadwalkan berlangsung antara tahun 2029 hingga 2030.

Paket Modernisasi Jangka Panjang

Kontrak ini tidak hanya mencakup pengadaan unit pesawat, melainkan sebuah paket komprehensif yang meliput suku cadang, peralatan pendukung darat (ground support), sistem logistik, peralatan kerja (ferramental), dokumentasi teknis, serta pelatihan intensif bagi personel Ukraina.

Langkah ini dirancang agar armada baru tersebut memiliki tingkat kesiapan operasional yang tinggi sejak tahun-tahun pertama kedatangannya, sekaligus meletakkan dasar bagi rekonstrução penerbangan tempur Ukraina di masa pascaperang.

Presiden dan CEO Saab, Micael Johansson, menegaskan bahwa momen ini sangat bersejarah bagi industri pertahanan Swedia maupun Ukraina.

Menurutnya, Gripen E akan memberikan lompatan kapasitas operasional yang signifikan bagi Angkatan Udara Ukraina untuk memperkuat pertahanan udara nasional serta melindungi warga sipil dan infrastruktur kritis dari ancaman Rusia.

Strategi Transisi Angkatan Udara Ukraina

Kesepakatan ini merupakan buah dari negosiasi panjang antara Stockholm dan Kyiv yang diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman pada tahun 2025.

Guna memberikan bantuan pertahanan segera, pemerintah Swedia sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk mengganti sebagian armada Gripen C/D miliknya dengan versi Gripen E terbaru, sehingga memungkinkan transfer hingga 16 unit Gripen generasi lama (C/D) tersebut ke Ukraina dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Ukraina menyatakan intensinya untuk mengakuisisi hingga 20 unit Gripen E/F sebagai tahap awal dari rencana jangka panjang mereka yang menargetkan kepemilikan hingga 150 jet tempur dalam beberapa dekade mendatang.

Pembelian tahap pertama ini didanai melalui program pembiayaan dari Uni Eropa.

Kombinasi antara jet Gripen C/D yang akan tiba lebih awal dan Gripen E yang menyusul kemudian diprediksi akan mempermudah transisi bertahap bagi para pilot, mekanik, dan kru pendukung Ukraina dalam mengadopsi armada modern.

Keunggulan Teknologi Gripen E

Sebagai salah satu jet tempur multiperan paling canggih saat ini, Gripen E dibekali teknologi mutakhir termasuk radar AESA Raven ES-05 buatan Leonardo yang memiliki mekanisme reposisi antena untuk memperluas jangkauan deteksi.

Pesawat ini juga dilengkapi sistem pencari pasif inframerah Skyward-G (IRST), sensor peperangan elektronik canggih, serta arsitektur digital berbasis perangkat lunak yang memudahkan pembaruan sistem secara cepat terhadap ancaman baru.

Dapur pacunya ditenagai oleh mesin General Electric F414G yang menghasilkan gaya dorong 22% lebih besar dibanding versi Gripen C/D.

Peningkatan ini mendongkrak kemampuan akselerasi, performa tempur, serta kapasitas angkut bahan bakar dan persenjataan.

Untuk urusan senjata, jet ini sangat kompatibel dengan berbagai persenjataan Barat. Salah satu yang paling diandalkan adalah rudal udara ke udara jarak jauh Eropa, Meteor, yang menggunakan propulsi ramjet dan memiliki “zona nihil lolos” (no-escape zone) yang sangat tinggi.

Selain itu, Gripen E dapat mengusung rudal IRIS-T, AIM-9X Sidewinder, AIM-120 AMRAAM, Taurus KEPD 350, AGM-65 Maverick, hingga bom pintar GBU-39.

Cocok untuk Medan Ukraina

Faktor utama yang membuat Ukraina sangat tertarik dengan Gripen adalah filosofi desainnya.

Dikembangkan sejak era Perang Dingin agar bisa bertahan dari serangan langsung ke pangkalan militer, Gripen E dirancang untuk dapat lepas landas dan mendarat di jalan raya biasa, landasan pacu darurat, maupun aerodrom kecil dengan dukungan infrastruktur minimal.

Kemampuan dispersi (penyebaran) ini sangat krusial bagi Ukraina demi menghindari deteksi dan serangan rudal balistik atau jelajah Rusia.

Selain itu, jet ini menawarkan efisiensi tinggi dengan waktu putar balik (turnaround time) yang sangat singkat; tim kecil dapat mengisi ulang bahan bakar dan persenjataan hanya dalam hitungan menit.

Dari sisi finansial, Gripen juga terkenal memiliki salah satu biaya operasional per jam terbang terendah di kelas jet tempur generasi 4,5, menjadikannya pilihan ideal untuk konflik yang berkepanjangan.

Ke depan, Saab juga mengonfirmasi tengah menjajaki kemitraan industri langsung dengan Ukraina dalam hal pemeliharaan, perbaikan besar (overhaul), fabrikasi komponen, dan dukungan logistik pascakonflik guna membantu Ukraina membangun basis industri pertahanannya sendiri.

Bersama jet F-16 yang telah diterima sebelumnya dan sistem pertahanan udara Barat lainnya, kehadiran Gripen E dipandang sebagai pelipat ganda kekuatan (force multiplier) yang signifikan bagi ruang udara Ukraina. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *