Trump perkenalkan VC-25B Bridge: Pesawat Air Force One baru dengan corak yang baru pula
USAFAIRSPACE REVIEW – Presiden AS Donald Trump, pada 19 Juni 2026, secara resmi memperkenalkan VC-25B Bridge, pesawat Air Force One terbaru dalam sebuah upacara di Pangkalan Bersama Andrews, Maryland.
Pesawat berbasis Boeing 747-8 ini dihadirkan sebagai solusi sementara (bridge) untuk menjamin kelancaran mobilisasi presiden sebelum jet kepresidenan utama generasi berikutnya selesai dikerjakan.
Penggunaan pesawat transisi ini dilakukan akibat rangkaian keterlambatan pada program pengembangan VC-25B definitif yang digarap oleh Boeing.
Menunggu Air Force One Masa Depan
Pada tahun 2018, Boeing menyepakati kontrak senilai sekitar 3,9 miliar USD (setara Rp69,42 triliun) untuk mengubah dua unit Boeing 747-8 menjadi Air Force One masa depan.
Namun, kendala rantai pasok, masalah sertifikasi, dan kelangkaan tenaga ahli membuat proyek tersebut tertunda hingga beberapa tahun.
Perkiraan terbaru menunjukkan pesawat Air Force One utama tersebut baru siap dikirim pada tahun 2028.
Untuk mencegah kekosongan operasional, pemerintah AS memanfaatkan satu unit Boeing 747-8 Intercontinental hibah dari keluarga kerajaan Qatar.
Pesawat inilah yang kemudian dimodifikasi secara ekstensif oleh L3Harris Technologies di Texas untuk melahirkan VC-25B Bridge.
Tampilan Baru, Tinggalkan Corak Lama
Salah satu poin yang paling menarik perhatian publik adalah skema warna (livery) baru pada bodi pesawat VC-25B Bridge.
Berbeda dari desain ikonik biru muda dan putih peninggalan era Presiden John F. Kennedy, Boeing 747-8 ini tampil beda dengan kombinasi warna biru tua, merah, branco (putih), serta aksen emas.
Presiden Trump menyatakan bahwa identitas visual baru ini akan menjadi acuan estetika bagi pesawat eksekutif pemerintah AS ke depan.
Dalam pidatonya, Presiden AS ke-47 menyebut pesawat baru ini sebagai “Gedung Putih Terbang” (Flying White House) yang mencerminkan kepemimpinan modern Amerika Serikat di kancah internasional.
Ia juga memuji kualitas interior pesawat yang menggabungkan kemewahan standar tinggi dengan fungsionalitas mutakhir.
Menggantikan Armada Klasik
Kehadiran VC-25B Bridge akan langsung mengurangi beban kerja armada VC-25A saat ini (berbasis Boeing 747-200B) yang sudah mengudara sejak tahun 1990.
Pesawat klasik tersebut kini membutuhkan biaya perawatan yang semakin membengkak dan waktu inspeksi yang kian lama akibat faktor usia.
Menurut Angkatan Udara AS (USAF), VC-25B Bridge telah menyelesaikan serangkaian uji terbang utama dan kini memasuki fase akhir komisioning di Pangkalan Andrews, termasuk pelatihan kru dan integrasi sistem global.
Pesawat transisi ini ditargetkan mulai menerbangkan misi kepresidenan resmi pada musim panas tahun ini.
Eks Jet Pribadi Kerajaan Qatar
Sebelum diresmikan Trump sebagai VC-25B Bridge, pesawat varian Boeing Business Jet (BBJ) 747-8KB ini dioperasikan oleh Qatar Amiri Flight sebagai armada penerbangan khusus berskala kerajaan/pemerintah Qatar sejak tahun 2012 untuk melayani keluarga kerajaan Al-Thani.
Pesawat ini kemudian secara resmi dihibahkan ke AS dan diterima oleh Menteri Pertahanan AS pada Mei 2025 sebagai hibah dari Pemerintah Qatar.
Karena nilainya yang sangat tinggi, proses penerimaannya sempat memicu perdebatan hukum dan etika di AS terkait klausul konstitusi mengenai hadiah dari pemerintah asing (Foreign Emoluments Clause).
Pesawat ini memiliki interior mewah karena memang sejak awal didesain untuk keluarga kerajaan Qatar.
Interiornya dikerjakan oleh biro desain Cabinet Alberto Pinto dari Prancis, lengkap dengan kamar tidur utama, ruang santai, hingga fasilitas kelas bisnis.
Penambahan Sistem Komunikasi dan Keamanan Baru
Setelah diserahkan kepada AS, Angkatan Udara AS (USAF) sengaja melakukan modifikasi interior seminimal mungkin untuk mempercepat waktu penyerahan pesawat, sehingga kemewahan khas jet VIP Qatar tersebut sebagian besar tetap dipertahankan.
Meskipun interior utamanya tidak banyak diubah, perusahaan pertahanan L3Harris di Texas melakukan perombakan besar-besaran pada aspek teknis militer.
Antara lain adalah dengan memasang sistem komunikasi terenkripsi rahasia, perangkat komando, pertahanan siber, elektronik bersertifikasi militer, dan sistem proteksi diri guna memenuhi standar operasional kepresidenan AS. (RNS)
