Riyadh Air siap terbang ke Amerika Serikat setelah kantongi izin dari Paman Sam

Boeing 787-9 Dreamliner Riyadh AirRiyadh Air
Boeing 787-9 Riyadh Air.

AIRSPACE REVIEW – Maskapai penerbangan baru asal Arab Saudi, Riyadh Air, secara resmi telah mendapatkan persetujuan dari Departemen Transportasi Amerika Serikat (DOT) untuk mengoperasikan penerbangan dari dan ke wilayah Amerika Serikat.

Keputusan ini membuka jalan lebar bagi Riyadh Air untuk merambah salah satu pasar internasional paling potensial yang masuk dalam rencana strategis mereka.

Izin operasional diberikan oleh otoritas penerbangan AS pada Selasa, 16 Juni 2026, setelah Riyadh Air mengajukan permohonan izin maskapai asing (foreign air carrier permit) pada bulan lalu.

Pihak DOT menyatakan bahwa masuknya Riyadh Air ke pasar penerbangan Amerika Serikat dinilai sejalan dengan kepentingan publik.

Pantai Timur Prioritas Utama Riyadh Air

Dengan adanya lampu hijau ini, Riyadh Air dapat segera merealisasikan rencana peluncuran rute penerbangan menuju AS.

CEO Riyadh Air, Tony Douglas, sebelumnya sempat menegaskan bahwa pasar Amerika Serikat —khususnya destinasi di Pantai Timur (East Coast)— merupakan salah satu prioritas utama maskapai.

Langkah ekspansi global ini diraih hanya berselang kurang dari seminggu setelah Riyadh Air sukses meluncurkan penerbangan berjadwal pertamanya ke London, Inggris.

Penerbangan tersebut menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya maskapai menggunakan armada milik mereka sendiri, yaitu pesawat berbadan lebar Boeing 787-9 Dreamliner.

Sebelumnya, Riyadh Air hanya mengoperasikan layanan komersial melalui sistem sewa pesawat beserta kru (wet-lease) sembari menunggu pengiriman armada jet mereka.

Pertumbuhan Armada yang Agresif

Pertumbuhan jumlah armada Riyadh Air terbilang sangat masif dalam beberapa hari terakhir.

Pada periode 4 hingga 14 Juni 2026, maskapai ini telah menerima empat unit pesawat Boeing 787-9 baru. Tambahan armada ini kian mendekatkan Riyadh Air pada targetnya untuk mengoperasikan total delapan pesawat pada akhir Juli mendatang.

Didirikan pada tahun 2023 dengan dukungan finansial penuh dari Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, Riyadh Air sengaja dibentuk oleh pemerintah kerajaan untuk memperluas sektor penerbangan dan pariwisata negara tersebut.

Langkah ini merupakan bagian dari visi jangka panjang Arab Saudi untuk mendiversifikasi ekonomi agar tidak lagi bergantung pada sektor minyak bumi.

Sejauh ini, Riyadh Air telah mengumumkan rencana rute penerbangan ke sejumlah kota besar dunia, seperti Kairo, Dubai, Jeddah, Madrid, Manchester, dan London, disusul dengan target ekspansi ke India.

Daftar Pesanan Pesawat Berbadan Lebar

Tony Douglas menyatakan pekan lalu bahwa Riyadh Air menargetkan dapat melayani 22 kota pada Maret 2027, dan terus tumbuh hingga menjangkau lebih dari 100 destinasi pada akhir dekade ini.

Guna mendukung target ambisius tersebut, maskapai telah memesan hingga 72 unit Boeing 787, 60 unit Airbus A321neo, dan hingga 50 unit Airbus A350.

Selain itu, mereka juga telah menjalin kemitraan strategis dengan beberapa maskapai internasional, termasuk Delta Air Lines dari AS, yang dijadwalkan akan membuka penerbangan langsung nonstop dari Atlanta ke Riyadh pada Oktober mendatang.

Saat ini, Arab Saudi memiliki dua maskapai nasional utama. Di saat Saudia tetap memegang peran sebagai maskapai bendera nasional (flag carrier), Riyadh Air diproyeksikan sebagai maskapai jaringan global baru yang berbasis di ibu kota Riyadh. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *