Rusia modernisasi rudal jelajah Kh-101 dengan lapisan siluman baru: Lebih sulit dideteksi
WikimediaAIRSPACE REVIEW – Rusia dilaporkan telah melakukan modernisasi besar-besaran terhadap rudal jelajah udara Kh-101 miliknya. Salah satu pembaruan paling signifikan adalah penyematan lapisan penyerap gelombang radar (radar-absorbing coating) pada bagian badan pesawat (fuselage) guna mengurangi jarak deteksi sistem pertahanan udara.
Informasi tersebut diungkapkan oleh Kolonel Oleksandr Zaruba, peneliti utama di Institut Riset Ilmiah Negara untuk Pengujian dan Sertifikasi Persenjataan dan Peralatan Militer Ukraina baru-baru ini.
Menurut Zaruba, Kh-101 sebenarnya merupakan desain rudal yang sudah cukup lama, namun kini telah mengalami transformasi radikal.
Pembaruan Sistem Rudal Dilakukan Sejak Awal 2022
Sejak awal tahun 2022, Rusia disinyalir secara bertahap memperbarui sistem navigasi, hulu ledak, badan rudal, serta menambahkan unit pengecoh (passive jamming).
“Badan rudal telah diperbarui dengan lapisan penyerap radar untuk memperkecil penampang radarnya (radar cross-section). Ini berarti rudal akan terdeteksi dalam jarak yang lebih dekat, sehingga probabilitas untuk menjatuhkannya menjadi berkurang,” jelas Zaruba.
Selain itu, rudal ini dilengkapi dengan sistem pertahanan internal selama penerbangan.
Kh-101 kini membawa modul untuk melontarkan suar pengecoh (decoys) dan reflektor dipole (chaff), yang akan aktif secara otomatis begitu mendeteksi radar pertahanan udara musuh atau saat mendekati target.
Perubahan Komponen dan Hulu Ledak Ganda
Seperti diberitakan Militarnyi, analisis terhadap puing-puing rudal yang jatuh pada periode 2024–2025 menunjukkan bahwa Rusia telah beralih dari chip sipil serbaguna ke komponen khusus militer.
Perangkat tersebut diduga sebagian besar diperoleh melalui jaringan pasokan di negara-negara Asia untuk menyiasati sanksi Barat.
Modifikasi ekstrem juga terlihat pada kapasitas hulu ledaknya. Sejak musim semi 2024, Rusia mulai mengerahkan Kh-101 dengan hulu ledak ganda (dual warheads), meningkatkan bobot total hulu ledak dari 450 kilogram menjadi sekitar 800 kilogram.
Untuk mengakomodasi hulu ledak yang lebih besar ini, Rusia memangkas kapasitas tangki bahan bakar. Akibatnya, jarak tempuh operasional maksimal rudal merosot dari 5.500 kilometer menjadi 2.500 kilometer.
Kendati demikian, pengurangan jarak ini dinilai tidak kritikal bagi Rusia jika melihat posisi geografis peluncuran dan luas wilayah Ukraina.
Menariknya, hulu ledak kedua pada rudal ini dapat diarahkan, dijatuhkan, dan diledakkan pada ketinggian tertentu (100–200 m), yang sangat efektif untuk penggunaan jenis hulu ledak klaster (cluster warheads).
Kejar Tayang: Diproduksi dan Langsung Digunakan
Tingkat produksi Kh-101 Rusia saat ini diperkirakan mencapai 40 hingga 50 unit per bulan.
Berdasarkan analisis sisa-sisa rudal dari serangan terbaru, Rusia tampaknya langsung membawa rudal-rudal ini dari lini perakitan ke medan perang.
Banyak dari rudal yang ditembakkan baru diproduksi beberapa minggu sebelum serangan diluncurkan.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Vladislav Vlasiuk, Perwakilan Presiden Ukraina untuk Kebijakan Sanksi.
Ia menyebutkan bahwa dalam serangan besar-besaran yang terjadi pada 14 Mei 2026, rudal Kh-101 yang digunakan berasal dari satu batch produksi tunggal yang baru dibuat pada kuartal kedua tahun 2026.
Sebagai catatan, dalam serangan udara besar pada pertengahan Mei tersebut, Rusia meluncurkan kombinasi 35 rudal jelajah Kh-101, bersama rudal aerobalistik Kh-47 Kinzhal dan rudal balistik Iskander-M.
Meskipun pertahanan udara Ukraina berhasil merontokkan 29 dari 35 rudal Kh-101 yang ditembakkan, beberapa rudal yang lolos tetap menimbulkan kerusakan parah, termasuk sebuah rudal Kh-101 yang menghantam gedung apartemen sembilan lantai di distrik Darnytskyi, Kyiv, dan menewaskan 24 warga sipil. (RNS)
