Ulala… Boeing mundur dari kompetisi jet latih pengganti T-45 Goshawk Angkatan Laut AS

Jet latih T-45 Goshawk Angkatan Laut ASUS Navy
Jet latih T-45 Goshawk Angkatan Laut AS.

AIRSPACE REVIEW – Raksasa dirgantara Boeing secara resmi memutuskan untuk mundur dari kompetisi program Undergraduate Jet Training System (UJTS). Ini adalah proyek pengadaan strategis untuk menggantikan armada jet latih T-45 Goshawk Angkatan Laut AS (US Navy) yang sudah menua.

Kabar mundurnya Boeing pertama kali dilaporkan oleh Aviation Week dan Breaking Defense pada Jumat (12/6).

Sebelumnya, Boeing dijadwalkan akan mengajukan proposal berbasis jet latih T-7A Red Hawk, pesawat bermesin tunggal yang sedang diproduksi massal untuk Angkatan Udara AS (USAF).

Dalam pernyataan resminya, pihak Boeing menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melalui evaluasi mendalam. Disebutkan bahwa T-7A tidak dapat memenuhi kriteria ketat yang diminta oleh US Navy.

“Setelah evaluasi yang cermat, kami menetapkan bahwa T-7A tidak memenuhi persyaratan Sistem Pelatihan Jet Sarjana (UJTS) Angkatan Laut AS. Oleh karena itu, kami telah mengumumkan kepada Angkatan Laut bahwa kami tidak akan mengajukan penawaran pada RFP (Request for Proposals) saat ini,” ujar juru bicara Boeing.

Masalah utama mundurnya Boeing kabarnya berkaitan dengan proses kualifikasi mesin turbofan General Electric F404 yang diadopsi oleh T-7A.

Walaupun Boeing menegaskan bahwa mesin F404 adalah desain yang sangat teruji dengan jutaan jam terbang di berbagai platform, persyaratan kualifikasi mesin khusus dari Angkatan Laut AS dianggap memerlukan pekerjaan pengembangan siklus panjang (long-cycle development work).

Pengembangan tambahan ini dinilai berisiko menghambat kemampuan Boeing untuk memenuhi target kemampuan operasional awal (IOC) yang ditetapkan oleh Angkatan Laut.

Mundurnya Boeing menyusul langkah Lockheed Martin yang sudah lebih dulu keluar dari kompetisi pada April lalu, saat mereka membatalkan penawaran jet TF-50N yang dikembangkan bersama Korea Aerospace Industries (KAI).

Dengan absennya dua raksasa pertahanan tersebut, kompetisi UJTS kini menyisakan dua tim kandidat kuat yang bertahan, di mana keduanya menawarkan desain pesawat bermesin ganda.

Keduanya adalah Sierra Nevada Corporation (SNC), yang berkolaborasi dengan Northrop Grumman dan General Atomics mengusung jet latih bernama Freedom, serta kemitraan Leonardo dan Textron, yang menawarkan varian khusus jet latih M-346N (yang kini dipasarkan di bawah merek Beechcraft).

Penggunaan mesin ganda menjadi salah satu poin keunggulan yang dilirik, di mana statistik menunjukkan banyak kerugian armada T-45 bermesin tunggal di masa lalu diakibatkan oleh insiden masuknya burung ke dalam mesin pesawat (bird strike).

Program UJTS merupakan bagian penting dari modernisasi pendidikan penerbang militer AS. Menariknya, dalam draf persyaratan terbaru, Angkatan Laut AS memutuskan bahwa jet latih pengganti T-45 ini nantinya tidak diwajibkan untuk memiliki kemampuan mendarat atau lepas landas langsung di atas dek kapal induk (carrier capability).

Perubahan besar ini sengaja diambil demi mempercepat jalur pelatihan bagi calon pilot jet tempur generasi ke-4, ke-5, dan ke-6.

Proyek penggantian T-45 Goshawk sendiri sempat mengalami beberapa kali penundaan dari jadwal awal.

Setelah mundurnya Boeing, Angkatan Laut AS menargetkan untuk meresmikan kontrak pemenang tender pada pertengahan tahun 2027.

T-45 Goshawk merupakan jet latih legendaris hasil perkawinan teknologi antara perusahaan Inggris, British Aerospace, dan pabrikan Amerika Serikat, McDonnell Douglas.

Pesawat ini resmi masuk layanan aktif di US Navy pada Januari 1992. Hak produksi pesawat ini kemudian beralih ke tangan Boeing setelah proses akuisisi pada tahun 1997. Proses produksi terus berlanjut dan diakhiri tahun 2009 dengan total produksi mencapai 221 unit.

Dikembangkan dari basis jet latih darat ikonik BAE Systems Hawk, T-45 dirancang ulang secara radikal agar tangguh menghadapi ganasnya operasional di laut lepas.

Struktur tubuhnya diperkuat, roda pendaratannya diganti dengan model ganda yang lebih kokoh untuk dicantolkan pada ketapel peluncur kapal induk, serta dilengkapi dengan kait ekor (tailhook) khusus guna menangkap kabel penahan saat mendarat darat di atas dek kapal yang bergoyang.

Sejak resmi masuk ke dalam dinas operasional US Navy, Goshawk memegang peran tunggal yang sangat krusial sebagai jembatan terakhir bagi calon penerbang militer sebelum pilot menerbangkan jet tempur garis depan seperti F/A-18E/F Super Hornet.

Sepanjang masa baktinya, jet bermesin tunggal Rolls-Royce Turbomeca ini sempat mengalami modernisasi besar-besaran dari varian awal T-45A yang berbasis kokpit analog tradisional menjadi varian T-45C yang mengadopsi teknologi glass cockpit digital lengkap dengan Head-Up Display (HUD).

Kini setelah mengabdi selama lebih dari tiga dekade dan meluluskan ribuan penerbang Angkatan Laut serta Korps Marinir AS, masa bakti T-45 Goshawk mulai memasuki babak akhir.

Armada yang kian menua ini mulai kerap menghadapi masalah teknis serius, seperti kelelahan struktur logam hingga gangguan pada sistem pasokan oksigen pilot yang beberapa kali memaksa otoritas militer untuk melarang terbang seluruh armada secara sementara.

Faktor-faktor keselamatan inilah yang mendorong Angkatan Laut AS untuk segera mempensiunkan sang elang laut dan mencari suksesor baru yang lebih modern, aman, dan efisien melalui program kompetisi jet latih masa depan. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *