PT PAL mendapatkan kontrak pesanan Kapal Selam Otonom (KSOT) dari Kemhan RI

PT PAL - Kapal Selam Otonom - KSOT - 001PT PAL Indonesia
Kapal Selam Otonom (KSOT) Prototipe 001 buatan PT PAL Indonesia.

AIRSPACE REVIEW – PT PAL Indonesia secara resmi telah mendapatkan kontrak dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) untuk pengadaan sejumlah Kapal Selam Otonom (KSOT).

Informasi penandatanganan kontrak ini dinyatakan langsung oleh Direktur Utama PT PAL, Kaharuddin Djenod, dalam wawancara eksklusif dengan media pertahanan Janes di Surabaya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi konfirmasi pertama bahwa program KSOT buatan dalam negeri telah sukses melewati fase prototipe serta demonstrasi, dan kini resmi melangkah ke tahap pengadaan evaluasi.

Lebih Besar dan Tambah Senjata

Meski detail kontrak masih dibatasi, Kaharuddin membocorkan bahwa varian KSOT yang dipesan oleh Kemhan ini akan memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan prototipe awal yang diuji coba pada Oktober 2025 lalu.

Kapal selam nirawak depan ini dirancang untuk mampu membawa hingga delapan torpedo ringan.

Rincian lebih lanjut mengenai nilai kontrak serta spesifikasi teknis armada ini dijadwalkan baru akan diungkap ke publik pada Oktober 2026, bertepatan dengan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Diperkenalkan Pertama Kali di Indo Defence 2022

Program inovatif KSOT pertama kali diperkenalkan oleh PT PAL di pameran Indo Defence 2022 sebagai bagian dari cetak biru kemandirian teknologi perang bawah laut Indonesia.

Konsep operasional KSOT berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk menjalankan misi pengawasan, pengintaian (reconnaissance), hingga infiltrasi serangan, dengan risiko nol terhadap personel (tanpa awak).

KSOT diposisikan sebagai pilar perang asimetris bawah laut. Melalui platform berbiaya rendah (low-cost) namun mematikan.

Dengan menggunakan KSOT, TNI Angkatan Laut sebagai penggunanya nanti diharapkan mampu melumpuhkan kekuatan armada musuh yang lebih besar melalui serangan torpedo jarak jauh.

Sistem Komando Jaringan: ASCC

Untuk mengoordinasikan misi, PT PAL melengkapi ekosistem KSOT dengan Autonomous Submarine Command Center (ASCC).

ASCC merupakan pusat komando bergerak berbasis truk yang bisa digelar di darat maupun di atas kapal perang permukaan TNI AL.

Komunikasi dari pusat komando ke KSOT dilakukan menggunakan jaringan komunikasi satelit aman atau modem akustik bawah air.

Melalui sistem ini, data intelijen yang dikumpulkan oleh KSOT bisa langsung dikirim ke kapal perang utama atau pesawat patroli maritim, seperti CN235 MPA, secara waktu nyata.

Secara taktis, KSOT dirancang untuk menjawab tantangan luasnya wilayah laut Indonesia dengan anggaran yang efisien.

Membangun atau membeli kapal selam berawak konvensional membutuhkan biaya triliunan rupiah dan waktu bertahun-tahun. Namun dengan KSOT, biaya jauh lebih rendah (low-cost), dapat diproduksi lebih cepat, dan menghilangkan risiko kehilangan nyawa prajurit.

Di dalam skenario konflik bawah laut, sekelompok KSOT dapat disebar di titik-titik penyekatan (choke points) selat-selat Indonesia untuk menyergap armada musuh yang jauh lebih besar dari jarak jauh.

Uji Coba Berjalan Mulus

Sebelumnya pada Oktober 2025, PT PAL telah sukses melakukan uji coba varian KSOT sepanjang 15 m dengan bobot sekitar 37 ton. Ukuran ini setara dengan kapal selam kerdil (midget submarine) berawak, namun seluruh ruangnya dioptimalkan untuk mesin, baterai, dan komputer AI karena tidak membawa kru.

Uji coba yang digelar di fasilitas TNI AL Surabaya tersebut berhasil mendemonstrasikan peluncuran torpedo ringan dari tabung eksternal kapal.

Untuk tenaga penggerak, KSOT menggunakan sistem baterai Lithium-ion. Teknologi ini memberikan keuntungan berupa tanda akustik yang sangat rendah (ultra-low acoustic signature), membuat KSOT sangat senyap dan sulit dideteksi oleh sonar musuh.

Kapal selam mini ini mampu melaju hingga kecepatan puncak saat menyelam (top submerged speed) sebesar 20 knot (sekitar 37 km/jam), dengan kecepatan jelajah operasional di angka 12 knot.

KSOT dapat beroperasi secara mandiri di bawah air selama 72 jam (tiga hari) tanpa perlu muncul ke permukaan, dengan daya jelajah mencapai 320 km (200 mil laut).

Kontrak Terpisah untuk Torpedo Piranha

Selain KSOT, Kaharuddin juga mengatakan bahwa saat ini PT PAL tengah mengantisipasi kontrak terpisah untuk pengadaan torpedo ringan Piranha.

Torpedo ini, yang juga dikembangkan oleh PT PAL di dalam negeri, dirancang untuk mempersenjatai KSOT dan kapal perang permukaan kelas ringan TNI AL.

Torpedo Piranha masuk ke dalam kategori Lightweight Torpedo (LWT) dengan standar internasional yang dioptimalkan untuk perairan dangkal maupun laut dalam.

Torpedo ini berdiameter 324 mm, yang merupakan ukuran standar global untuk torpedo ringan. Piranha sangat fleksibel untuk diluncurkan dari berbagai platform, baik tabung peluncur di kapal perang, helikopter antikapal selam, maupun tabung eksternal KSOT.

Bobot yang ringkas, sekitar 200-300 kg, memungkinkan torpedo ini dimuat dalam jumlah banyak, seperti pada varian baru KSOT PT PAL yang mampu membawa hingga delapan unit sekaligus.

Untuk sistem pendorong, torpedo Piranha menggunakan motor listrik berperforma tinggi yang ditenagai oleh baterai modern.

Penggunaan motor listrik ini membuat Piranha bergerak sangat senyap di bawah air, meminimalkan deteksi dini oleh sistem sonar kapal musuh. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *