Persaingan sengit drone tempur di ILA Berlin 2026: Raksasa pertahanan dunia berebut kontrak CCA Jerman
AirbusAIRSPACE REVIEW – Ajang pameran kedirgantaraan Berlin Air Show (ILA Berlin 2026) menjadi panggung persaingan panas bagi sejumlah perusahaan pertahanan global.
Para raksasa pertahanan berlomba-lomba memamerkan teknologi Collaborative Combat Aircraft (CCA) atau drone pendamping jet tempur berawak (loyal wingman) demi memikat Angkatan Udara Jerman.
Pada hari pra-pembukaan pameran, Rabu (10/6), Boeing Australia bersama perusahaan pertahanan asal Jerman, Rheinmetall, secara dramatis membuka selubung kain putih untuk meluncurkan drone MQ-28 Ghost Bat.
Drone ini diterbangkan langsung dari Australia, menyusul kesepakatan kemitraan yang diumumkan kedua perusahaan kurang dari tiga bulan lalu untuk membidik proyek CCA Jerman.
CEO Rheinmetall, Armin Papperger, seperti dilaporkan Breaking Defense, mengungkapkan pihaknya tengah dalam proses negosiasi dengan pemerintah Jerman.
“Jika mereka ingin pesawat ini siap pada tahun 2029, ekspektasi saya adalah setidaknya tahun depan kita sudah harus memasuki tahap akhir negosiasi kontrak,” ujar Papperger.
Tim Boeing-Rheinmetall memamerkan sejumlah peningkatan performa pada Ghost Bat, termasuk penambahan rentang sayap sebesar 25 persen yang memungkinkannya mengangkut ekstra 2.000 pon bahan bakar dan muatan misi.
Menurut Glen Ferguson, Direktur Program Global MQ-28, drone yang telah membukukan lebih dari 200 jam terbang ini mampu membawa dua rudal AMRAAM atau empat bom berdiameter kecil (small-diameter bombs) di dalam ruang senjata internalnya (internal weapons bay).
Kompetitor Membawa Jagoan Masing-masing
Langkah Boeing dan Rheinmetall langsung direspons oleh para kompetitor yang juga membawa pembaruan teknologi mereka ke Berlin.
Helsing dari Jerman, perusahaan teknologi pertahanan ini memperkenalkan varian baru dari platform yang sedang mereka kembangkan, yaitu CA-1 Europa.
Varian baru ini didedikasikan untuk serangan elektronik (electronic attack) dengan nama CA-1EA.
Varian ini melengkapi model pendahulunya, CA-1KA (kinetic attack), yang dijadwalkan melakukan penerbangan perdana pada awal tahun 2027.
Sementara Airbus, raksasa penerbangan Eropa ini memamerkan model skala penuh (1:1) dari konsep CCA baru mereka yang diberi nama U760 Ravenstorm.
Proyek ini merupakan kelanjutan dari kerja sama Airbus dengan perusahaan berbasis di AS, Kratos, setelah tahun lalu keduanya sepakat memodifikasi dua drone XQ-58A Valkyrie untuk pasar Eropa.
Kemudian, General Atomics Aeronautical Systems dari AS, menghadirkan model ukuran penuh dari lini drone keluarga Gambit.
Varian dari lini ini sebelumnya telah dipilih oleh Angkatan Udara AS (USAF) untuk fase pertama program CCA mereka.
Pihak General Atomics menegaskan, produk mereka adalah CCA paling canggih di dunia yang sudah siap pakai saat ini tanpa perlu pengembangan blok tambahan untuk ruang persenjataan.
Kerjar Target Tahun 2029
Meskipun juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman menolak berkomentar mengenai detail proyek pengadaan sebelum adanya pembahasan di parlemen, urgensi waktu sangat dirasakan oleh para produsen.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, sebelumnya pernah memperingatkan bahwa pada tahun 2029—tahun yang sama dengan target kesiapan drone yang disebut oleh CEO Rheinmetall— Rusia diprediksi sudah memiliki kesiapan penuh untuk potensi konfrontasi atau serangan terhadap wilayah NATO.
Situasi geopolitik ini membuat garis waktu pengadaan drone tempur otonom menjadi sangat krusial bagi lini pertahanan udara Jerman di masa depan. (RNS)
