Gideon tiba, kemampuan serang jarak jauh Angkatan Udara Israel di Timur Tengah meningkat tajam
IAF AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Israel (IAF) bersiap memasuki era baru dalam proyeksi strategisnya di Timur Tengah. Langkah ini ditandai dengan uji coba terbang perdana sekaligus persiapan pengiriman pesawat tanker Boeing KC-46A Pegasus pertama miliknya, yang telah resmi diberi nama baptis “Gideon” dalam bahasa Ibrani.
Pesawat tanker modern ini merupakan unit pertama dari total enam armada yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan Israel melalui misi pengadaannya di Amerika Serikat.
Kehadiran KC-46 Gideon menjadi bagian dari program modernisasi skala besar Angkatan Pertahanan Israel (IDF) untuk memperkuat superioritas udara di berbagai medan operasional.
Fungsi utama dari KC-46 Gideon bagi IAF adalah memperluas radius terbang serta waktu bertahan jet-jet tempur IAF di udara tanpa harus mendarat untuk mengisi bahan bakar.
Dengan kapasitas angkut bahan bakar yang masif dan sistem pengisian yang canggih (menggunakan metode fly-by-wire boom dan hose-and-drogue), Gideon secara drastis meningkatkan kemampuan serang jarak jauh Israel untuk menjangkau target-target yang berada jauh di luar ruang udara domestik mereka.
Pesawat unit pertama ini dilaporkan akan menjalani serangkaian prosedur penerimaan di Amerika Serikat sebelum diterbangkan langsung menuju Israel dalam waktu dekat.
Berbeda dengan versi standar, varian Gideon milik IAF akan diintegrasikan dengan sistem peperangan dan teknologi khusus buatan domestik Israel untuk menyesuaikan kebutuhan taktis yang spesifik.
Menggantikan Boeing 707 Re’em Berusia 60 Tahun
Kedatangan KC-46 akan memulai fase pensiun bagi armada tanker lawas Israel, Boeing 707 Re’em, yang telah beroperasi selama hampir 60 tahun sejak era 1960-an.
Di tengah tensi geopolitik yang tinggi dan tuntutan misi yang padat, armada Boeing 707 dinilai sudah mencapai batas operasional maksimalnya.
Kontrak pengadaan ini awalnya disepakati pada tahun 2022 senilai 930 juta USD (Rp16,6 triliun) untuk empat pesawat pertama.
Kemudian pada pertengahan 2025, Israel mengeksekusi opsi penambahan dua unit lagi dengan nilai kontrak tambahan sekitar setengah miliar dolar, sehingga total armada yang dikonfirmasi berjumlah enam unit.
Seluruh sisa pesawat dijadwalkan akan dikirim secara bertahap hingga periode 2027-2028.
Dengan hadirnya Gideon, IAF kini memiliki sokongan logistik udara yang jauh lebih tangguh, mendukung operasi tempur skala besar di seluruh kawasan Timur Tengah. (RW)
