Northrop Grumman menguji coba Lumberjack, drone kamikaze murah berbasis AI dan bermesin jet
Northrop Grumman AIRSPACE REVIEW – Raksasa kedirgantaraan Amerika Serikat, Northrop Grumman, resmi memperkenalkan Lumberjack, drone serang satu arah (one-way attack) berbiaya rendah.
Langkah ini mempertegas tren penggunaan amunisi loitering sebagai alternatif hemat biaya dibandingkan rudal jelajah konvensional.
Lumberjack telah menjalani uji coba lapangan pada 31 Maret 2026 dalam latihan bersandi Operation Lethal Eagle bersama Divisi Lintas Udara ke-101 Angkatan Darat AS (US Army).
Dalam simulasi tersebut, drone ini memamerkan kemampuan kendali misi otonom penuh yang terintegrasi dengan Sistem Cerdas Maven milik US Army.
Salah satu fitur unggulan yang didemonstrasikan adalah penargetan adaptif berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui Agentic Effects Agent besutan Palantir.
Teknologi ini memungkinkan Lumberjack mendeteksi target secara otomatis dan menyesuaikan diri dengan dinamika medan perang di bawah pengawasan operator manusia.
Dari sisi teknis, Lumberjack dibekali mesin jet mini yang mampu memacu kecepatan hingga 250 knot (460 km/jam).
Dengan jangkauan operasi mencapai 200 mil (321 km), drone ini tetap mampu menjaga komunikasi di luar jangkauan pandang (beyond line-of-sight) melalui tautan data satelit untuk pembaruan misi secara waktu nyata.
Aspek modularitas juga menjadi nilai tambah signifikan. Kompartemen tengah drone dirancang fleksibel, memungkinkan operator menukar muatan hingga kapasitas 35 kg. Hal ini baik untuk efek serangan kinetik maupun perlengkapan non-kinetik seperti sensor intelijen dan pengawasan (ISR).
Fleksibilitas operasional Lumberjack diperkuat dengan kemampuan peluncuran dari platform udara maupun darat. Hal ini memberikan opsi pengerahan yang lebih luas bagi pasukan manuver di garis depan, terutama untuk menjangkau target dari jarak aman.
Dengan target harga per unit di kisaran 75.000 hingga 100.000 USD, Lumberjack diposisikan sebagai solusi amunisi presisi yang jauh lebih ekonomis.
Penggunaannya diharapkan mampu menekan biaya operasional militer tanpa mengorbankan efektivitas penghancuran target. (RBS)

