RTX mengamankan kontrak 3,81 miliar USD untuk pengadaan mesin jet F-35 pada Lot 18 dan 19
Lockheed Martin AIRSPACE REVIEW – RTX mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung pertahanan udara global setelah resmi mendapatkan modifikasi kontrak masif senilai 3,81 miliar USD.
Kontrak tersebut untuk penyediaan mesin F135 bagi jet tempur F-35 Lightning II pada Lot 18 dan Lot 19.
Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan jaminan keberlangsungan supremasi udara bagi militer Amerika Serikat beserta barisan mitra internasionalnya hingga Maret 2028.
Dengan total nilai yang mencakup dana pengadaan lintas matra dan pesanan luar negeri sebesar 1,47 miliar USD, kontrak ini menegaskan betapa tingginya ketergantungan dunia pada teknologi propulsi milik RTX di tengah eskalasi geopolitik yang kian memanas.
Mesin F135 bukanlah sekadar perangkat mekanis, melainkan keajaiban rekayasa yang mendefinisikan kemampuan tempur generasi kelima.
Dengan kemampuan menghasilkan daya dorong monster lebih dari 40.000 pon, mesin ini dirancang untuk memberikan performa tak tertandingi, mulai dari karakteristik siluman yang sulit dideteksi hingga sistem manajemen termal mutakhir yang mampu meredam jejak panas di wilayah musuh.
Keandalan teknologi ini telah teruji secara nyata, di mana lebih dari 1.300 unit mesin F135 yang beroperasi saat ini baru saja melampaui rekor satu juta jam terbang, sebuah pencapaian yang memperkuat statusnya sebagai komponen paling kritis dalam ekosistem pesawat tempur global.
Di saat armada F-35 semakin intensif dikerahkan ke titik-titik panas seperti Eropa, Indo-Pasifik, dan Timur Tengah, kesinambungan produksi mesinnya menjadi penentu apakah kekuatan udara sekutu tetap mampu bertahan dan mendominasi di lingkungan misi yang paling menantang sekalipun.
Rantai produksi raksasa ini akan digerakkan dari pusatnya di East Hartford, Connecticut, sebelum menyebar ke berbagai negara bagian lainnya di AS hingga ke jejaring internasional.
Dengan pendanaan tahun fiskal 2024 dan 2025 yang telah dialokasikan, RTX kini memegang kendali penuh atas produksi mesin cadangan dan unit baru F-35. (RNS)

