Korea Selatan luncurkan unit produksi pertama jet tempur KF-21 Boramae untuk ROKAF
Yonhap AIRSPACE REVIEW – Militer Korea Selatan memasuki babak baru. Pada 25 Maret 2026, Seoul resmi memperkenalkan unit KF-21 Boramae seri produksi pertama.
Berbeda dengan prototipe yang selama ini kita lihat di uji coba, unit ini adalah standar operasional yang akan segera diserahkan kepada Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF).
Upacara peluncuran di Sacheon ini dipimpin oleh Presiden Lee Jae-myung, menandai berakhirnya masa eksperimen dan dimulainya fase pembentukan skadron tempur yang nyata.
Berbeda dari pesawat prototipe, pesawat ini sudah memiliki konfigurasi final untuk pertempuran, bukan lagi sekadar platform untuk menguji sensor atau mesin.
ROKAF dijadwalkan menerima unit ini dalam waktu dekat, dengan target pengerahan operasional (siap tugas) pada September 2026.
Unit-unit produksi ini akan langsung diprioritaskan untuk memensiunkan jet tempur tua F-4 Phantom II dan F-5 Tiger II yang sudah puluhan tahun mengabdi.
KF-21 produksi massal ini menempatkan ROKAF dalam posisi yang sangat strategis.
Pesawat dilengkapi dengan radar AESA & sensor IRST, yang mampu melacak musuh dari jarak jauh tanpa terdeteksi dengan mudah.
Dalam hal konektivitas data, KF-21 bertindak sebagai “manajer pertempuran” yang bisa berbagi data dengan jet F-35 maupun pasukan darat secara real-time.
Meskipun saat ini masih menggunakan cantelan senjata eksternal, desain KF-21 produksi ini sudah disiapkan agar nantinya bisa ditingkatkan menjadi jet tempur siluman penuh (Block II/III) dengan ruang senjata internal.
Bagi ROKAF, KF-21 bukan sekadar penambah jumlah pesawat. Ini adalah tulang punggung kemandirian.
Dengan memiliki jet buatan sendiri, Korea Selatan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada suku cadang atau izin dari negara lain saat terjadi konflik.
Presiden Lee menekankan bahwa keberhasilan produksi ini membuktikan bahwa industri dalam negeri mampu memproduksi komponen inti seperti mesin dan material canggih secara mandiri.
“Hari ini kita tidak hanya meluncurkan pesawat, tetapi kita meluncurkan masa depan kedaulatan wilayah udara kita,” tegas Presiden Lee di hadapan para pejabat militer.
Setelah peluncuran ini, unit produksi pertama akan menjalani serangkaian uji coba akhir sebelum benar-benar masuk ke hanggar pangkalan udara aktif.
Dengan dimulainya lini produksi massal, langit Semenanjung Korea akan segera diramaikan oleh raungan mesin “Elang Muda” (Boramae) yang siap menjaga kedaulatan setiap saat. (RNS)

