Siap tempur! F-35C Marinir AS menuju Timur Tengah: Varian kapal induk kini kuasai pangkalan darat
USAF AIRSPACE REVIEW – Kekuatan udara Amerika Serikat di Timur Tengah dipastikan akan semakin masif. Jet tempur siluman F-35C milik Korps Marinir AS (USMC) kini tengah dalam perjalanan menuju wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM).
Langkah ini mencetak sejarah baru karena menjadi pengerahan tempur pertama bagi varian kapal induk tersebut yang dioperasikan sepenuhnya dari pangkalan darat.
Berdasarkan laporan terbaru dari The War Zone (24/3), lima unit pertama dari total sepuluh F-35C milik Skadron Serang Penempur Marinir 311 (VMFA-311) “Tomcats” telah mendarat di pangkalan RAF Lakenheath, Inggris.
Pesawat-pesawat canggih ini lepas landas dari markas mereka di Miramar, California, pada 10 Maret lalu sebagai bagian dari Operasi Epic Fury.
Pengerahan F-35C ini akan melengkapi armada tempur AS yang sudah lebih dulu berada di kawasan konflik.
Sebelumnya AS telah mengerahkan armada F-35A Angkatan Udara AS yang berbasis di darat, F-35C US Navy yang beroperasi dari kapal induk USS Abraham Lincoln, dan F-35B (varian vertical takeoff) yang dilaporkan sedang menuju kawasan menggunakan kapal serbu amfibi USS Boxer dan USS Tripoli.
Kehadiran F-35 varian C di pangkalan darat ini dinilai krusial untuk memberikan dukungan udara jarak dekat (Close Air Support) bagi 2.200 Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir (MEU) ke-31 yang diperkirakan akan memasuki area CENTCOM pada akhir pekan ini.
Pengerahan besar-besaran ini terjadi saat ketegangan mencapai titik didih. Presiden Donald Trump telah menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran dilaporkan mulai memasang ranjau bawah air jenis Maham 3 dan Maham 7, serta menarik “pungutan liar” hingga 2 juta USD per kapal yang ingin melintas dengan aman.
Situasi semakin panas setelah Iran meluncurkan gelombang rudal balistik Sejjil ke Tel Aviv, yang dibalas oleh Israel dengan gempuran udara ke pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Teheran selama dua hari berturut-turut.
Meski militer kedua belah pihak bersiap di garis depan, jalur belakang diplomasi dikabarkan mulai terbuka.
Pakistan muncul sebagai mediator kunci, dengan laporan bahwa perundingan langsung mungkin akan segera digelar di Islamabad.
Menteri Perang AS, Pete Hegseth, menyatakan operasi ini telah menunjukkan kekuatan penghancur yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap infrastruktur militer modern.
Sementara itu, dunia kini menunggu apakah kehadiran “Tomcats” di daratan Timur Tengah akan menjadi penentu akhir konflik atau justru memicu eskalasi yang lebih luas. (RNS)

