Perakitan akhir F-35A pertama Jerman dimulai, tandai era baru Luftwaffe

F-35A Jerman mulai memasuki perakitan akhirLockheed Martin

AIRSPACE REVIEW – Raksasa dirgantara Lockheed Martin secara resmi memulai fase perakitan akhir (final assembly) untuk jet tempur F-35A Lightning II pertama pesanan Jerman.

Proses ini berlangsung di jalur produksi utama Fort Worth, Texas, menandai pencapaian krusial bagi modernisasi kekuatan udara Jerman (Luftwaffe).

Pesawat ini telah melewati tahap integrasi struktur utama, di mana bagian badan depan, tengah, belakang, serta sayap telah menyatu sepenuhnya.

Menggunakan sistem penyelarasan digital dan perangkat berpemandu laser, pesawat kini telah mencapai status “weight on wheels”.

Artinya, struktur utama jet tempur siluman ini sudah mampu menopang bobotnya sendiri dan siap memasuki fase instalasi sistem internal.

Akuisisi 35 unit F-35A merupakan bagian dari transformasi pertahanan Jerman yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Jet generasi kelima ini dipilih secara khusus untuk menggantikan armada veteran Panavia Tornado yang sudah memasuki masa pensiun.

Salah satu alasan strategis di balik pemilihan F-35A adalah kemampuannya dalam menjalankan misi pencegahan nuklir bersama NATO.

Hingga saat ini, F-35A merupakan satu-satunya platform siluman yang telah mendapatkan sertifikasi untuk membawa bom nuklir taktis B61-12, memastikan peran Jerman dalam arsitektur keamanan kolektif aliansi tetap terjaga.

Dalam beberapa bulan ke depan, jet ini akan menjalani pemasangan komponen vital, termasuk mesin Pratt & Whitney F135 dan rangkaian sensor avionik canggih.

Setelah perakitan sistem selesai, pesawat akan memasuki hanggar khusus untuk aplikasi lapisan penyerap radar (stealth coating) yang menjadi kunci kelangsungan hidupnya di lingkungan ancaman tinggi.

Sesuai jadwal, pengiriman perdana akan dimulai pada tahun 2026. Delapan unit pertama tidak langsung dikirim ke Jerman, melainkan akan ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Ebbing, Arkansas.

Di sana, para pilot dan awak teknisi Luftwaffe akan menjalani pelatihan intensif bersama instruktur Angkatan Udara AS (USAF) untuk memastikan transisi operasional yang mulus.

Sementara itu di Jerman, Pangkalan Udara Büchel tengah menjalani modernisasi besar-besaran.

Proyek ini mencakup pembangunan fasilitas pemeliharaan khusus jet siluman serta infrastruktur pendukung misi nuklir.

Luftwaffe menargetkan untuk mencapai Kemampuan Operasional Awal (IOC) pada rentang tahun 2028 hingga 2029.

Dengan teknologi fusi sensor yang mampu berbagi data secara real-time ke unit darat dan laut, kehadiran F-35A akan menempatkan Jerman sebagai salah satu pilar utama dalam koordinasi tempur digital di kawasan Eropa. (RNS)

You may also like...

2 Responses

  1. Leksi Pangandaheng says:

    USA dituduh mencuri oleh konoha yg bodoh. Padahal USA pintar produksi barang berkualitas lalu dijual & semakin kaya. Sekelas Jerman saja masih beli dari USA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *