Rafale tembak jatuh 60 drone Iran: Rekor baru pertahanan udara Prancis di Uni Emirat Arab
Istimewa AIRSPACE REVIEW – Jet tempur Dassault Rafale Prancis menembak jatuh sekitar 60 drone Iran selama operasi pertahanan udara baru-baru ini di atas Uni Emirat Arab (UEA), di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, menyatakan jet-jet tersebut terlibat dalam menetralisir ancaman yang ditujukan ke wilayah dan instalasi UEA, tempat keberadaan militer Prancis, seperti dilaporkan La Tribune .
Pengerahan jet tempur Rafale Prancis terjadi setelah serangan menghantam area strategis di dekat Abu Dhabi, termasuk kerusakan pada bangunan yang terkait dengan Prancis.
Sebagai tanggapan, Paris dengan cepat memperkuat kehadiran udaranya di wilayah tersebut, memperluas misi patroli dan pencegatan untuk melindungi pasukan, infrastruktur penting, dan warga negara Prancis di wilayah asing.
Intensitas operasi yang tinggi mencerminkan skala serangan Iran. Pihak berwenang di UEA menunjukkan bahwa sejak awal serangan, ratusan rudal balistik dan rudal jelajah telah diluncurkan, di samping sejumlah besar drone, yang kini berjumlah ribuan.
Dalam satu insiden, pertahanan udara setempat mencegat puluhan ancaman simultan, menunjukkan penggunaan taktik saturasi untuk melumpuhkan sistem pertahanan.
Skenario ini telah menimbulkan kekhawatiran yang semakin besar di kalangan militer, terutama karena dampak langsungnya terhadap persediaan senjata berteknologi tinggi.
Rafale terutama menggunakan rudal udara ke udara MICA untuk intersepsi, sebuah sistem canggih namun mahal yang biaya per unitnya dapat mencapai ratusan ribu euro.
Sebaliknya, drone tipe Shahed, yang banyak digunakan oleh Iran, diproduksi dengan biaya yang jauh lebih rendah, memungkinkan serangan skala besar dengan dampak finansial yang tidak proporsional bagi pihak yang bertahan.
Perbedaan biaya antara pencegat dan target telah menjadi salah satu tantangan utama peperangan modern, mengubah konflik menjadi kontes pengurangan logistik dan industri.
Konsumsi rudal yang tinggi dalam waktu singkat sudah memberikan tekanan pada kapasitas pengisian ulang industri Eropa, yang berupaya mempercepat produksi dan menghindari kesenjangan operasional jika terjadi permusuhan yang berkepanjangan.
Menghadapi realitas baru ini, angkatan bersenjata Eropa dan sekutunya telah mengintensifkan studi dan pengujian solusi yang lebih ekonomis untuk menetralisir drone.
Di antara alternatif yang sedang dievaluasi adalah roket berpemandu laser, senjata tabung seperti meriam dan senapan mesin, serta drone pencegat yang dirancang khusus untuk menghadapi gerombolan ancaman berbiaya rendah.
Prancis, melalui badan persenjataannya, sedang mengevaluasi penggunaan roket berpemandu laser 68 mm, yang sudah digunakan pada helikopter serang, sebagai opsi yang memungkinkan untuk mengurangi biaya dalam misi pertahanan udara.
Namun, masih ada keraguan tentang efektivitas sistem ini terhadap target udara yang cepat dan lincah, terutama dalam skenario pertempuran yang kompleks.
Negara-negara lain juga bergerak ke arah ini. Uji coba roket berpemandu pada jet tempur F-16 dan Eurofighter Typhoon menunjukkan tren yang jelas bahwa angkatan udara beradaptasi dengan jenis ancaman baru, di mana jumlah target sama pentingnya dengan kemampuan individu mereka.
Performa Rafale di Uni Emirat Arab memperkuat pentingnya penerbangan tempur dalam pertahanan udara modern, terutama karena fleksibilitas dan kemampuannya untuk mencegat ancaman dari jarak jauh.
Pada saat yang sama, episode ini menyoroti transformasi mendalam di medan perang, di mana drone murah yang diproduksi secara massal memaksa kekuatan militer untuk memikirkan kembali doktrin, persediaan, dan bahkan cara mereka melakukan operasi udara dalam konflik intensitas tinggi. (RNS)

