Lebih 42 kapal perang Iran telah dihancurkan AS, tetapi masih ada bahaya tinggi yang mengintai di Selat Hormuz: Azhdar UUV, sang ‘Naga Persia’

Azhdar UUV Iran - Sang Naga Bawah Laut PersiaIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan AS telah berhasil menghancurkan lebih dari 42 kapal perang Angkatan Laut Iran, yang menyebabkan kelumpuran Teheran di lautan, selain kelumpuhan di udara di mana aset-aset militer Angkatan Udara Iran telah berhasil dilumat pasukan AS.

Trump menyebut perang ini sebagai “ekskursi jangka pendek” (short-term excursion) untuk menyingkirkan apa yang ia sebut sebagai “kejahatan”.

Presiden AS menyatakan bahwa kekuatan militer Iran sudah “hampir habis” setelah angkatan laut dan angkatan udaranya hancur.

Meski optimis perang akan berakhir “segera”, Trump mengingatkan bahwa target-target paling penting sengaja disimpan untuk tahap akhir. Ia menuntut penyerahan tanpa syarat dari rezim Iran.

Trump secara tegas memberikan peringatan kepada Teheran bahwa jika mereka mencoba memblokir Selat Hormuz atau mengganggu aliran minyak global, AS akan membalas dengan serangan 20 kali lebih keras guna menghancurkan sektor energi Iran sedemikian rupa hingga tidak akan pernah bisa pulih.

Iran Masih Punya Banyak Senjata Pusaka

Sementara itu di pihak Iran, menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di awal perang, Iran kini telah menunjuk putra Khamenei, yakni Ayatollah Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.

Para ahli menilai, Iran terus menerapkan taktik perang atrisi (pengikisan) dalam melawan kekuatan AS-Israel.

Teheran sengaja menyimpan rudal balistik canggih dan menggunakan ribuan drone murah (Shahed) untuk menguras persediaan rudal pencegah (seperti Patriot dan THAAD) milik AS dan sekutunya terlebih dahulu.

Terkait kekuatan Iran di Selat Hormuz, yang diklaim AS telah dilumpuhkan, sejatinya Iran masih memiliki senjata-senjata pusaka lainnya yang sangat berbahaya dan sulit ditangkal.

Senjata tersebut, salah satunya, adalah kendaraan bawah air tak berawak (Unmanned Underwater Vehicle/UUV) Azhdar, yang dalam bahasa Persia berarti Naga.

Azhdar bukan sekadar drone bawah air biasa. Ada banyak fitur khusus yang membuatnya sangat berbahaya di perairan sempit.

    Berbeda dengan kapal selam mini (midget submarine) yang masih menghasilkan kebisingan mesin, penggunaan motor listrik dengan baterai Lithium memberikan jejak akustik yang sangat rendah (low acoustic signature), sehingga memungkinkan Azhdar sulit dideteksi oleh sonar pasif kapal perusak (DDG).

    Desain modular UUV ini memungkinkan pengangkutan ranjau dasar laut atau hulu ledak torpedo langsung, yang dapat diaktifkan melalui sensor magnetik atau akustik saat kapal lawan melintas.

    Selat Hormuz memiliki lebar titik tersempit hanya sekitar 33 km, namun jalur pelayaran yang aman (shipping lane) jauh lebih sempit dari itu.

      Dengan jarak tempuh 600 km, Azhdar UUV dapat diluncurkan dari berbagai titik tersembunyi di pesisir Teluk Persia atau pulau-pulau kecil seperti Abu Musa, yang tidak diketahui oleh AS.

      Dalam lingkungan pesisir (littoral) yang dangkal, sensor radar dan sonar kapal besar umumnya sering kali mengalami gangguan (clutter). Hal ini memberikan keunggulan (Choke Point Advantage) tambahan bagi UUV yang beroperasi di dekat dasar laut.

      Seperti halnya drone Shahed, biaya produksi satu unit UUV Azhdar juga murah, sehingga kemungkinan Iran telah memproduksinya dalam jumlah ratusan bahkan ribuan unit.

        Azhdar UUV memiliki panjang sekitar 8 m dan diameter 533 mm, memungkinkannya untuk diluncurkan dari tabung torpedo standar kapal selam kelas Kilo atau Ghadir milik Iran.

        UUV ini dapat beroperasi secara semi-otonom. Berbeda dengan torpedo yang meluncur cepat, Azhdar bergerak lambat namun sangat senyap, sehingga sulit dideteksi oleh sonar pasif kapal musuh.

        Azhdar mampu berpatroli hingga 24 jam dan menjangkau jarak sekitar 127 km. UUV ini juga bisa diperintahkan untuk menunggu di jalur pelayaran (loitering) sebelum menyerang target yang ditentukan.

        Azhdar diperkirakan membawa sekitar 200 kg (450 pon) bahan peledak tinggi. Ledakan di bawah garis air (waterline) dapat menyebabkan kerusakan struktural fatal bahkan pada kapal induk atau kapal perusak modern.

        Bayangkan jika puluhan Azhdar UUV dikerahkan sekaligus untuk membingungkan sistem pertahanan kapal (seperti sonar dan anti-torpedo decoys) sekaligus menyerang kapal yang menjadi targetnya.

        Karena sifatnya yang otonom dan sulit dilacak, serangan UUV dapat menciptakan ketidakpastian mengenai siapa pelakunya, terutama jika diluncurkan dari kapal komersial yang disamarkan.

          Kehadiran UUV ini yang pasti akan menyulitkan kapal-kapal perang AS untuk masuk ke Selat Hormuz karena ancaman dari bawah air tersebut.

          Saat kapal perang sibuk menghalau kawanan drone di udara atau menangkis serangan rudal, Azhdar UUV menjadi ancaman yang terabaikan dan sulit ditangkal.

          Artinya, kekuatan laut Iran, seperti diklaim Trump telah lumpuh, sejatinya masih menyisakan ratusan dan bahkan mungkin ribuan UUV berhulu ledak tinggi.

          Naga-naga bawah air Iran akan memangsa kapal-kapal yang datang, khususnya kapal AS, yang tidak tunduk pada aturan Iran di Selat Hormuz.

          Dalam eskalasi konflik di awal tahun 2026, laporan intelijen menunjukkan peningkatan aktivitas UUV Iran di wilayah Teluk Oman dan Selat Hormuz sebagai respons terhadap kehadiran gugus tugas kapal induk asing.

          Teknologi UUV terus dikembangkan, termasuk diintegrasikan dengan kecerdasan buatan (AI) untuk pengenalan profil lambung kapal, sehingga serangan menjadi lebih presisi.

          Amerika Serikat dituntut untuk dapat menetralisir Azhdar UUV, dengan cara apapun, bila ingin mengklaim kemenangan mutlak atas kekuatan laut Iran. (RNS)

          Leave a Reply

          Your email address will not be published. Required fields are marked *