Citra satelit China memperlihatkan 11 jet F-22 AS berada di Pangkalan Udara Ovda Israel

Satelit China memperlihatkan 11 F-22 di Pangkalan Udara Ovda IsraelMizarVision

AIRSPACE REVIEW – Citra satelit yang diterbitkan pada hari Jumat oleh perusahaan China MizarVision memperlihatkan 11 jet tempur F-22 Raptor Amerika Serikat telah berada di Pangkalan Udara Ovda di Israel selatan.

Perusahaan tersebut juga memperlihatkan gambar hasil pantauan satelit yang menunjukkan pesawat angkut C-17 Globemaster III AS, yang digunakan untuk mengirimkan peralatan ke pangkalan tersebut.

Citra tambahan lain yang dirilis Jumat adalah dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, memperlihatkan tidak adanya lagi pesawat tanker AS yang tersisa di pangkalan tersebut, sementara banyak pesawat semacam ini terlihat diparkir di Bandara Ben Gurion di Israel.

Menurut citra terbaru, 12 pesawat angkut masih berada di Al Udeid, terdiri dari enam C-17 dan enam C-130, bersama dengan tiga helikopter serang.

Rekaman dari Bandara Chania di Kreta juga menunjukkan aset militer AS, termasuk sekitar delapan pesawat pengisian bahan bakar, dua pesawat pengintai dan pengawasan RC-135, jet tempur F-15, dan sebuah pesawat angkut menengah.

Di Diego Garcia, yang sering disebut sebagai “Pulau Pengebom”, terlihat sekitar 14 pesawat Angkatan Udara AS (USAF), terdiri dari jet tempur, pesawat pengisian bahan bakar, pesawat angkut, dan pesawat P-8 yang digunakan untuk pengawasan, patroli maritim, peperangan anti-kapal selam, dan misi anti-kapal.

Di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, banyak pesawat terlihat, termasuk pesawat pengisian bahan bakar KC-135 dan pesawat E-11A yang digunakan untuk komando dan komunikasi.

Selama berminggu-minggu, Amerika Serikat telah memindahkan pasukan tambahan ke wilayah tersebut, karena kemungkinan serangan terhadap Iran semakin besar meskipun negosiasi sedang berlangsung.

MizarVision, yang didirikan lima tahun lalu, telah menarik perhatian karena secara teratur menyediakan citra satelit resolusi tinggi dari area yang strategis, termasuk instalasi militer dan kapal induk.

Sejak AS mengalihkan pasukan ke Timur Tengah, perusahaan tersebut telah melacak dan melaporkan pergerakan dan penempatan pasukan.

Perusahaan ini juga menggunakan model kecerdasan buatan secara ekstensif untuk mengidentifikasi objek dalam citra satelit dan memantau perubahan aset dan fasilitas.

Para ahli mengatakan publikasi perusahaan tersebut menyoroti kemampuan pengumpulan intelijen China.

Pemantauan ketatnya terhadap pergerakan pasukan AS, pangkalan, dan aset strategis lainnya menggarisbawahi kemampuan Beijing untuk melacak target bernilai tinggi secara real-time dan berpotensi bertindak sesuai dengan itu. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *