KAI mengincar rudal Meteor dan MICA untuk jet FA-50 di tengah perizinan AIM-120 yang belum tuntas dari AS

FA-50GFKAI

AIRSPACE REVIEW – Industri pertahanan Korea Selatan, Korea Aerospace Industries (KAI), mengincar rudal MBDA Meteor dan MICA dari Prancis untuk diintegrasikan ke jet tempur FA-50 Fighting Eagle.

Langkah ini dilakukan KAI di tengah perizinan integrasi rudal udara ke udara jarak menengah AIM-120 AMRAAM terhadap FA-50 yang belum tuntas dari Amerika Serikat.

AIM-120 AMRAAM adalah rudal udara ke udara andalan AS yang dikembangkan oleh Hughes Aircraft Company dan Raytheon, sekarang bagian dari RTX Corporation.

Seperti diberitakan sebelumnya, proses perizinan integrasi AMRAAM dari pemerintah AS untuk jet tempur non-AS seperti FA-50 seringkali memakan waktu lama dan birokrasi yang rumit.

Hambatan utama integrasi AIM-120 AMRAAM pada FA-50 bukan terletak pada masalah teknis, melainkan terkait izin ekspor dan integrasi teknologi dari pemerintah Amerika Serikat.

Tanpa izin ini, KAI tidak dapat menyatukan sistem radar dan kendali senjata pesawat dengan rudal tersebut.

Sebagian besar FA-50 yang beroperasi saat ini, seperti yang telah diekspor ke Filipina, Thailand, atau ke Indonesia (varian T-50i) lebih difokuskan untuk misi serangan darat dan pertempuran udara jarak dekat menggunakan rudal AIM-9 Sidewinder (satu kelas dengan rudal MICA).

Dengan mampu membawa rudal Eropa, FA-50 akan menjadi lebih menarik bagi negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada teknologi militer AS atau yang sudah menggunakan infrastruktur persenjataan Eropa.

“Meskipun integrasi AIM-120 AMRAAM saat ini menjadi prioritas kami karena minat yang kuat dari banyak negara, kami sedang dalam proses menangani beberapa persyaratan administratif. Kami juga tidak mengesampingkan kemungkinan mengintegrasikan alternatif seperti Meteor dan MICA,” kata perwakilan KAI kepada media.

Pengamat menilai, pilihan untuk menggunakan rudal Meteor dan MICA merupakan pilihan pragmatis bagi KAI untuk mengangkat FA-50 di pasar internasional.

KAI saat ini sedang mengembangkan varian FA-50 Block 20, seperti yang dipesan oleh Polandia dan Malaysia. Pesawat ini dirancang untuk memiliki kemampuan BVR (Beyond Visual Range).

Integrasi AMRAAM ditargetkan untuk varian ini, namun karena proses perizinan dari AS yang belum tuntas, KAI mulai mencari alternatif rudal lain, dalam hal ini rudal dari Eropa.

Kasus terhambatnya integrasi rudal AIM-120 AMRAAM pada jet FA-50 telah dialami Polandia baru-baru ini.

Seperti pernah diberitakan oleh Airspace Review, Polandia memesan 48 unit jet tempur FA-50 dari Korea Selatan, yang terdiri dari 12 unit varian FA-50GF (Block 10) dan 36 unit varian FA-50PL (Block 20).

Varian FA-50GF yang sudah dikirim ke Polandia saat ini hanya memiliki kemampuan tempur jarak dekat menggunakan rudal AIM-9L Sidewinder.

Sementara varian FA-50PL yang seharusnya memiliki kemampuan tempur jarak menengah dengan rudal AIM-120 AMRAAM, terhambat integrasinya karena memerlukan persetujuan dan lisensi dari Amerika Serikat, yang belum tuntas hingga saat ini.

Karena ketidakpastian tersebut, Polandia pun memutuskan untuk tidak mengupgrade FA-50GF yang sudah dimiliki ke Block 20. (RNS)

You may also like...

2 Responses

  1. Sepertinya Amerika tidak ingin penjualan F16 Viper nya kalah dengan FA 50, karena secara harga jauh lebih murah, dengan kelengkapan senjata BVR dan radar yg mumpuni jelas menjadi pesaing yg mengganggu, Polandia, Malaysia dan Filipina tentu saja kecewa dengan hilangnya kemampuan BVR krn terkendala AMRAAM

  2. Gatotkaca says:

    FA 50 bikinan korea + lockheed , BVR seharusnya bisa dibuat korsel tersendiri ..kmdn untuk KF 21 , penjualan kedepannya tdk semudah rencana awal . SEMUA NEGARA ikut2 an Indonesia untuk memilih KHAAN turki .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *