Anggaran masih kurang, kontrak pembelian Rafale menunggu keputusan presiden

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Indonesia berpeluang menjadi pengguna terbaru pesawat tempur Rafale buatan Dassault Aviation Perancis.

Harian La Tribune dari Perancis bahkan menyabut kalau peluang itu sudah sangat-sangat dekat bagi Indonesia terhadap Rafale.

“L’Indonésie très, très proche de monter à bord du Rafale,” tulis La Tribune dalam judul beritanya. Dapat diartikan bahwa Indonesia sudah sangat, sangat dekat dengan Rafale.

Meski demikian, tulis harian tersebut, kontrak akuisisi Rafale menunggu keputusan presiden, yang memungkinkan penambahan anggaran dari Kementerian Pertahanan untuk membiayai pembelian ini.

Jokowi dan Prabowo

Le contrat portant sur l’acquisition de Rafale attend un décret présidentiel, qui permettra d’abonder des lignes budgétaires du ministère de la Défense pour financer cet achat. Demikian tulis La Tribune.

Seperti diketahui, dalam pemberitaan sebelumnya La Tribune melaporkan bahwa Indonesia berkeinginan mengakuisisi 36 jet tempur Rafale.

Hal ini disiarkan seiring kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto ke Perancis pada 21 Oktober 2020.

Saat itu Menhan Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Florence Parly di Paris.

Prabowo menyampaikan kepada Parly mengenai ketertarikan Indonesia untuk mengakuisisi jet tempur Rafale.

Prabowo Subianto - Florence ParlyKBRI Paris

Lalu, berapa sebenarnya anggaran yang harus disediakan Indonesia untuk membeli 36 Rafale?

Sebagai bahan perbandingan saja, India pada 2016 menandatangani kontrak pembelian 36 Rafale senilai 8,78 miliar dolar AS atau setara Rp 115,25 triliun saat itu.

Kunjungan Tim Dassault ke Jakarta

Sementara itu pada 11 Februari 2021, tim dari pabrik Dassault Aviation mendatangi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia di Jakarta untuk merumuskan proses akuisisi jet tempur Rafale oleh Jakarta.

Tim Dassault terdiri dari Vice President Dassault Aviation Business Development Jean Claude Piccirillo dan Vice President Offset Dassault Michael Paskoff.

Kedatangan mereka diterima oleh Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Ditjen Pothan) Kemhan Mayjen TNI Dadang Hendrayudha dan Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Laksma TNI Sri Yanto.

Tim Dassault Rafale dan Ditjen Pothan_2Kemhan

Dadang berharap, kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Perancis ini banyak memberi manfaat bagi kedua belah pihak serta dapat memajukan industri pertahanan Indonesia.

Rhandy F

8 Replies to “Anggaran masih kurang, kontrak pembelian Rafale menunggu keputusan presiden”

  1. Mahal ya… Knp ngga gripen aja, secara teknologi sma2 pake radar aesa. Mesin satu lbh efisien dalam hal perawatan. Dapat full ToT pula.

    1. Gripen juga musti dapat izin AS dan UK om, sepertinya cukup banyak komponen buatan non Swedia. Kalau Rafale mayoritas disupply Perancis meski tetap ada komponen non perancis Juga.

  2. Gripen juga mahal paling realistis klo ambil rafale yg paket murmer kyk Mesir klo paket dpt india y terlalu mahal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *