Rencana Pertahanan Korea, membuat tiruan Iron Dome dan kapal induk ringan

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Korea Selatan akan membuat sistem pertahanan udara yang dapat menangkal serangan roket menyerupai sistem Iron Dome buatan Israel. Sistem kubah besi ini akan digunakan untuk melindungi infrastruktur Seoul dari serangan-serangan roket Korea Utara.

Hal ini tertuang dalam cetak biru pertahanan Korea Selatan untuk periode 2021-2025.

Selain sistem pertahanan udara, Seoul juga akan membangun kapal induk ringan dan memproduksi jet tempur buatan dalam negeri yang kini sedang dikembangkan yaitu KF-X.

Seperti Airspace Review kutip dari kantor berita Yonhap, program pertahanan Korea Selatan memerlukan alokasi anggaran 300,7 triliun won (253 miliar dolar AS), atau meningkat rata-rata 6,1 persen per tahun selama lima tahun ke depan.

Dari total anggaran tersebut, sebanyak 100 triliun won dialokasikan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan. Sedangkan 200 triliun won lainnya digunakan untuk manajemen kekuatan.

Seorang pejabat di Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan, Seoul mewaspadai rudal-rudal Scud atau yang lebih kuat dari itu milik Korea Utara. Akan tetapi, sistem pertahanan udara baru yang akan dikembangkan oleh Korea Selatan adalah sistem pecegat serangan roket-roket artileri jarak jauh Korea Utara.

“Sistem pencegat baru ini akan fokus untuk melindungi wilayah ibu kota dari artileri jarak jauh Korea Utara, seperti peluncur roket multi kaliber 240 mm atau 300 mm,” ujarnya.

Sistem Iron Dome versi Korea Selatan diharapkan sudah dapat beroperasi pada akhir 2020-an atau awal 2030-an.

Selain yang telah disebutkan di atas, Korea Selatan juga akan mengembangkan rudal udara ke permukaan jarak jauh dan rudal udara anti-kapal. Rudal-rudal ini akan melengkapi jet-jet tempur buatan dalam negeri.

Untuk bidang maritim, Korea Selatan akan membangun kapal selam berbobot 3.600 – 4.000 ton. Kapal ini akan dilengkapi dengan rudal peluncur kapal selam (SLBM). Namun belum diputuskan apakah kapal selam yang akan dibangun bertenaga nuklir atau tidak.

Pengembangan lainnya adalah roket peluncur satelit berukuran kecil ke ruang angkasa. Bulan lalu Seoul mengumumkan telah berhasil membuat roket ruang angkasa berbahan bakar padat bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Seoul menargetkan pengoperasian satelit-satelit pengawasan berukuran kecil dan pesawat intai tanpa awak pada 2025.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *