Dahsyat, Militan Suriah Gunakan Senjata Runduk Improvisasi Kaliber 23mm

ANGKASAREVIEW.COM – Pada umumnya senapan runduk berat (heavy sniper rifle) biasanya menggunakan peluru kaliber 12,7×99mm NATO seperti Barrett M82A1 (M107) buatan AS dan Pindad SPR-2 buatan Indonesia. Rusia dan eks negara Blok Timur biasanya memakai peluru 12,7×108mm seperti KSVK dan OSV-96 buatan Rusia atau sedikit lebih besar lagi dengan munisi 14,5×114mm sebagai contoh Gepard AMR dari Hungaria dan PDSHP garapan Georgia.

Belakangan, banyak produsen yang melansir senjata dengan kaliber yang lebih besar. Sebagai contoh Truvelo dengan SR-20 dan Denel yang menjagokan NTW-20. Keduanya adalah produksi Afrika Selatan yang didapuk untuk melontarkan pelulu 20x82mm atau 20x110mm. Kedua senapan ini juga dimiliki oleh Korps Marinir TNI AL.

Senjata antimaterial dirancang untuk digunakan merusak atau menghancurkan peralatan/material militer terutama yang diam (stasioner) seperti kendaraan lapis baja ringan, pesawat terbang yang diparkir, tempat penyimpanan bbm dan lainnya. Namun, bisa juga untuk melahap personel (prajurit) meskipun berlindung di balik tembok. Jarak jangkau efektinya dalam kisaran 1.500 hingga 2.500 meter.

Penggunaan senapan antimaterial kaliber 12,7 atau 14,5mm ini sudah jamak baik di tangan militer maupun para gerilyawan. Namun baru bikin heboh bila senapan runduk dengan kaliber yang lebih besar lagi yang menggunakan peluru kanon 23mm hasil modifikasi dan digunakan oleh para pemberontak atau gerilyawan.

Istimewa

Ini terjadi dalam Perang Saudara di Suriah yang masih berlangsung saat ini. Seperti berita yang dilansir defence-blog di mana gerombolan separatis yang didukung Rusia terlihat menggunakan senapan sniper 23mm hasil improvisasi.

Dari gambar foto terlihat senjata sedang diuji di daerah bersalju, kemungkinan di Rusia. Namun disebutkan asal komponen senjata ini didapatkan dari Ukraina. Tidak dijelaskan bagaimana bisa sampai ke tangan para militan.

Dari sosoknya, senjata ini terlihat gambot dan larasnya sangat panjang, disokong oleh tripod yang juga berukuran besar. Dikabarkan peluru yang dilontarkannya bisa melejit hingga sejauh 3.000 meter. Meski secara efektif penyebarannya akan sulit karena dimensi dan bobotnya, juga akurasinya yang dipertanyakan, senapan sniper improvisasi ini pastinya efektif sebagai senjata penggentar.

Istimewa

Senapan runduk antimaterial kaliber 23mm juga telah di produksi oleh negara Iran yang dijuluki Baher-23. Senapan ini muncul di hadapan publik pertama kali dalam sebuah parade militer bulan April 2015. Berat kosongnya mencapai 24 kg. Bila ditambah munisi dan tripod beratnya mencapai 60 kg lebih, sehingga dibutuhkan 2-3 orang untuk bisa menggesernya.

Baher-23 mengadopsi peluru kaliber 23x115mm, digadang jangkauannya mencapai 3.000 meter. Sebagai negara pendukung Pemerintah Suriah, bisa saja Iran menyumbangkan Baher-23 ke milisi pro Pemerintah Suriah. Jika ini dilakukan tentu Iran bisa mengevaluasi kinerja senapan sniper super-nya ini dan pastinya mendapatkan cap battle proven secara gratis. RANGGA BASWARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *