Krisis Suku Cadang, Jepang Terpaksa Kanibal Pesawat Patroli Maritim Kawasaki P-1
JMSDFAIRSPACE REVIEW – Armada pesawat patroli maritim canggih milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF), Kawasaki P-1, kini tengah menghadapi krisis operasional yang cukup serius. Berdasarkan laporan investigasi dan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (Board of Audit) Jepang, kelangkaan suku cadang parah memaksa para teknisi melakukan praktik kanibalisasi pada pesawat yang dikandangkan agar unit lainnya tetap bisa mengudara.
Laporan dari Nippon Television (NTV) mengungkap bahwa dari sekitar 40 unit P-1 yang dimiliki Jepang saat ini, hanya 8 hingga 12 unit (20-30%) saja yang benar-benar siap menjalankan misi patroli. Kondisi ini bahkan memicu keprihatinan publik di media sosial X, di mana ribuan warganet dan penggiat aviasi menyuarakan simpati atas kesulitan yang dihadapi oleh personel militer di lapangan.
Krisis ini makin diperparah oleh kedatangan unit-unit P-1 baru yang terkadang hanya dikirim dalam kondisi bisa terbang tanpa dilengkapi peralatan misi patroli utama, sehingga langsung dijadikan sumber pencopotan suku cadang.
Korosi pada Mesin
Audit pemerintah menemukan bahwa masalah utama berakar dari korosi pada mesin turbofan IHI F7-10 akibat paparan udara laut bergaram selama penerbangan patroli jarak rendah. Selain itu, sekitar 30 persen pesanan suku cadang pengganti mengalami keterlambatan pengiriman hingga lebih dari satu tahun akibat gangguan rantai pasok global, kelangkaan semikonduktor, mundurnya sejumlah vendor dari program pembuatan, serta lonjakan harga komponen imbas inflasi dan konflik geopolitik global.
Situasi teknis yang rumit ini berbanding terbalik dengan lonjakan biaya pengadaan armada tersebut. Pesawat bermesin empat buatan Kawasaki Heavy Industries yang dirancang sebagai pengganti Lockheed P-3C Orion ini mengalami lonjakan harga yang signifikan.
Harga per unit yang awalnya diproyeksikan sekitar 10 miliar yen (sekitar 64 juta USD), melonjak drastis hingga mencapai 42,4 miliar yen (sekitar 270 juta USD) pada tahun fiskal 2024, bahkan Kementerian Pertahanan Jepang mengajukan anggaran sebesar 47,3 miliar yen per pesawat untuk tahun fiskal 2026.
Berjuang di Tengah Keterbatasan
Di tengah membengkaknya biaya ini, beberapa pihak mengusulkan agar pemerintah mengalihkan fokus anggaran untuk memperbaiki armada P-1 yang ada atau mengalokasikannya ke pengembangan pesawat nirawak (drone).
Menanggapi hasil audit tersebut, Kementerian Pertahanan Jepang berjanji akan serius menangani temuan ini dan menargetkan masalah krisis suku cadang dapat teratasi sepenuhnya pada tahun fiskal 2027 melalui skema kontrak pemeliharaan jangka panjang yang terintegrasi.
Kendati harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan kanibalisasi komponen, kualitas para awak pesawat Jepang terbukti tetap sangat andal. Hal ini ditunjukkan oleh unit P-1 dari Wing Udara ke-3 yang berhasil menyabet gelar juara dalam ajang latihan perang anti-kapal selam Sea Dragon 2026 yang dipimpin oleh Angkatan Laut Amerika Serikat awal tahun ini. (PN)
