Cerita Prajurit Ukraina Harus Amputasi Kaki Sendiri dan Saksikan Temannya Gugur Saat Ulang Tahun ke-50
Via XAIRSPACE REVIEW – Sengitnya perang telah menyisakan cerita kegetiran yang sulit dilupakan, seperti dialami seorang prajurit Ukraina bernama Konstyantyn (49 tahun). Dalam situasi yang tak terduga ia dan rekannya terkena ledakan amunisi yang dilepaskan oleh drone pasukan Rusia di wilayah Kharkyv.
Kala itu ia bersama prajurit lainnya sedang bertugas berbulan-bulan menjaga sebuah pos pengamatan di sektor garis depan Kupiansk. Tiba-tiba, sebuah drone Rusia datang dan menjatuhkan amunisi.
Akibat ledakan yang keras di mana bom tersebut tepat jatuh di dekat rekannya, seketika itu pula rekannya gugur di tempat. Kostyantyn sendiri mengalami cedera parah pada kedua kakinya dan ia bertahan dengan luka yang pedih serta darah yang mengucur dari kedua kakinya.
“Serangan drone itu datang tepat di hari ulang tahun rekan saya,” Konstyanyn menceritakan dengan suara yang tertahan.
“Saya tidak bisa menyelamatkannya,” lanjut dia.
Pada bulan April, Konstyantyn kehilangan kaki kanannya, dan pada bulan Mei, ia terpaksa mengamputasi sendiri kaki kirinya saya karena tulangnya mencuat keluar.
“Saya tidak bisa merangkak untuk mengambil makanan, obat-obatan, dan air yang dijatuhkan oleh rekan-rekan saya. Saya menggunakan pisau tumpul —pisau yang sebelumnya saya pakai untuk membuka kaleng daging,” ujar Kostyantyn mengenang masa dukanya di medan pertempuran sebelum akhirnya ia berhasil dievakuasi menggunakan drone.
Operasi Penyelamatan Seperti Film Star Wars
Operasi penyelamatan Konstyantyn melibatkan risiko yang sangat besar, namun tidak ada cara lain untuk membawa pria yang terluka itu ke tempat yang aman.
Evakuasi menggunakan drone merupakan upaya yang sangat kompleks dan berlapis, melibatkan puluhan personel dari berbagai brigade, bahkan dari korps tentara yang berbeda, serta pihak pembuat drone jenis heksakopter yang digunakan.
Para pilot mengibaratkan keseluruhan operasi ini seperti adegan dalam film Star Wars, yaitu demi memastikan Kostyantyn dapat dievakuasi dengan aman, ia harus dilindungi oleh unit-unit yang mengoperasikan drone, artileri, spesialis peperangan elektronik, dan tim pertahanan udara.
Prajurit dari Korps Tentara ke-10, Brigade ke-92, Brigade Mekanis Terpisah ke-30, dan Brigade Mekanis Terpisah ke-14 turut berpartisipasi dalam misi tersebut.
“Sebelum melakukan evakuasi, pasukan menanyakan kepada saya seberapa tinggi posisi saya saat itu. Ya kira-kira setara dengan tiga gedung sepuluh lantai yang ditumpuk satu sama lain,” jawab Konstyantyn.
Ia sebenarnya bukanlah prajurit yang takut ketinggian, tetapi saat terbang dievakuasi menggunakan drone dan melintasi perairan, ia benar-benar ketakutan karena tidak bisa berenang.
Drone yang dikerahkan oleh pasukan Ukraina harus terbang sejauh 62 km melintasi daerah musuh yang penuh risiko.
Kontyantyn dievakuasi menggunakan Ayudag-6, yaitu sebuah varian dari drone Heavy Shot. Untuk misi penuh riskio tersebut, para insinyur dari Gurzuf Defence, bekerja sama dengan pihak militer melakukan modifikasi terlebih dahulu.
Ia berhasil diselamatkan ke wilayah yang aman sejauh 15 km untuk kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Konstyantyn terbaring di kasur rumah sakit dan mendapatkan penanganan dokter untuk pemulihan sepenuhnya. Ia memandang kedua telapak kakinya yang sudah hilang. Matanya menerawang, namun bibirnya masih bisa tersenyum. (ON)
