Tolak Usulan Gencatan Senjata 60 Hari Zelensky, Kremlin Pilih Kesepakatan Damai Jangka Panjang

Juru Bicara Kremlin Dmitry PeskovAP
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Rusia (Kremlin) secara resmi menolak usulan gencatan senjata selama 60 hari yang diajukan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Kremlin menegaskan, Moskow lebih memilih kesepakatan perdamaian jangka panjang daripada penghentian pertempuran sementara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada media pada Senin, 12 Oktober 2026.

“Di Kremlin, baik Presiden Putin maupun para pejabat di tingkat lainnya telah berulang kali menyatakan bahwa kami tidak menginginkan gencatan senjata (sementara),” ujar Peskov.

“Kami menginginkan perdamaian jangka panjang dan siap melakukan segala hal yang memungkinkan untuk mencapainya,” tegasnya.

Usulan Gencatan Senjata untuk Pemilu

Usulan gencatan senjata selama total 60 hari sebelumnya disampaikan oleh Zelensky dalam wawancaranya di acara “This Week” dengan ABC pada Minggu (11/10).

Zelensky mengajukan jeda pertempuran total selama total dua bulan agar Ukraina dapat menyelenggarakan pemilihan presiden.

“Tolong sampaikan kepada Putin, berilah kami waktu dua bulan, 60 hari gencatan senjata total, dan kami akan mengorganisasi pemilihan umum,” kata Zelensky.

Baca di Sini: Tanggapi Trump, Zelensky Siap Gelar Pemilu Asal Gencatan Senjata Total 60 Hari dengan Rusia

Pernyataan Zelensky tersebut sebagai respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa Ukraina perlu mendapat presiden baru.

Pemerintah Rusia sendiri selama ini kerap menekan Ukraina untuk menggelar pemilu dan menilai kepemimpinan Zelensky tidak lagi legitimat karena masa jabatannya terus berlanjut tanpa pemilu.

Namun, di bawah hukum nasional Ukraina, penyelenggaraan pemilu memang dilarang selama negara dalam keadaan darurat militer (wartime), tulis Reuters.

Gencatan Senjata Sektor Energi

Di sisi lain, Kremlin mengonfirmasi bahwa komunikasi masih terus berjalan mengenai kemungkinan gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina. Ini adalah sebuah kabar yang sebelumnya sempat diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Peskov menolak memberikan rincian apakah jeda serangan tersebut hanya berlaku untuk fasilitas kilang minyak atau mencakup infrastruktur energi secara luas. Ia menyebutkan bahwa informasi lebih lanjut akan disampaikan pada waktunya.

Pernyataan dari Trump terkait potensi gencatan senjata sektor energi tersebut muncul tak lama setelah wawancara Zelensky, di mana pemimpin Ukraina itu menegaskan bahwa AS harus mencegah Rusia menyerang infrastruktur energi Ukraina jika ingin Ukraina menghentikan serangan balasan terhadap aset energi Rusia. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *