Musuh Amerika Gunakan AI Claude untuk Operasi Militer hingga Pengembangan Senjata Presisi Tinggi

Ilustrasi penggunaan AI Claude untuk operasi militerby Gemini AI
Ilustrasi penggunaan AI Claude untuk operasi militer.

AIRSPACE REVIEW – Laporan terbaru setebal 154 halaman yang dirilis oleh Anthropic mengungkapkan maraknya penyalahgunaan model kecerdasan buatan (AI) Claude oleh aktor-aktor berbahaya dari Iran, Yaman, China, hingga Rusia.

Platform AI komersial asal Amerika Serikat tersebut dimanfaatkan secara ilegal untuk mendukung operasi militer, peretasan, pengumpulan intelijen, hingga pengembangan senjata presisi tinggi.

Salah satu temuan utama (kode kasus GTG-30005) menunjukkan bahwa aktor yang terafiliasi dengan Iran menggunakan Claude untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna menyusun rekomendasi penargetan terhadap armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Timur Tengah.

Seperti diberitakan TWZ, aktor tersebut mengompilasi daftar personel militer dari foto publik, pelacakan posisi kapal dan pesawat, serta menganalisis kerentanan pada terminal VSAT maritim dan sistem komunikasi kapal perang.

Akun-Akun Telah Diblokir

Di Yaman, kelompok milisi yang didukung Iran memanfaatkan Claude (kasus GTG-87001) sebagai pengganti insinyur perangkat lunak untuk merancang sistem kendali, navigasi, dan kontrol (GNC) rudal balistik, roket terpandu, hingga kendaraan jelajah hipersonik.

Tim di Yaman ini mengelola beberapa instansi Claude secara bersamaan untuk menulis kode, melakukan riset, dan meninjau ulang program navigasi sebelum akhirnya melakukan uji tembak roket terpandu.

Sementara itu, riset di China (kasus GTG-17001) terdeteksi menggunakan Claude untuk membuat spesifikasi teknis sistem kendali penembakan senjata anti-torpedo dan menyusun analisis perbandingan terhadap program anti-kapal selam milik Angkatan Laut AS.

Aktor asal China lainnya (kasus GTG-17002) memanfaatkan fitur pengodean Claude untuk membangun perangkat lunak perang elektronik dan penekanan pertahanan udara musuh (SEAD), dengan skenario simulasi penargetan fasilitas militer vital di Taiwan.

Di Rusia, tim independen (kasus GTG-27005) tercatat menggunakan Claude Code untuk merancang sistem operasi kawanan drone kamikaze otonom berbasis First-Person View (FPV) bernama DronDoc atau Serafim.

Perangkat lunak kawanan drone tersebut dibekali kemampuan pengenalan target berbasis visi komputer yang dilatih dari rekaman tempur di Ukraina, sehingga mampu memilih sasaran dan mengeksekusi peledakan secara mandiri tanpa campur tangan manusia.

Anthropic mengatakan telah memblokir seluruh akun yang terlibat, meningkatkan proteksi keamanan, serta membagikan intelijen ancaman ini kepada otoritas pemerintah guna menekan risiko penyalahgunaan AI dalam ranah militer. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *