Turkiye Tingkatkan Drone AKSUNGUR: Dari Pengintai Udara Jadi Pengawal Perairan Kawasan

AksungurTUSAS
Drone kelas MALE AKSUNGUR buatan Turkiye.

AIRSPACE REVIEW – Industri Kedirgantaraan Turkiye, Turkish Aerospace (TA alias TUSAS), bersiap membawa platform pesawat nirawak kelas MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) AKSUNGUR ke tingkat kemampuan operasional yang jauh lebih tinggi.

Pengumuman mendasar ini disampaikan langsung oleh General Manager TA, Mehmet Demiroğlu, pada akhir Agustus 2026.

Dalam keterangannya, TA menargetkan lonjakan kapasitas muatan hingga 1.250 kg serta perpanjangan daya tahan terbang hingga mendekati 60 jam pada tahun 2027.

Peningkatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan militer Turkiye dalam menjalankan misi pengawasan jarak jauh dan serangan udara secara berkelanjutan, terutama di wilayah perairan yang strategis.

Lompatan Performa yang Signifikan

Lompatan performa ini menjadi sangat signifikan ketika disandingkan dengan rekam jejak teknis AKSUNGUR saat ini.

Drone yang memiliki rentang sayap 24 m dan berat lepas landas maksimum 3.300 kg tersebut secara resmi tercatat memiliki daya tahan terbang hingga 50 jam dengan kapasitas muatan di atas 750 kg.

Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa platform ini telah mampu bertahan di udara melampaui batas 50 jam tersebut.

Rencana penambahan beban muatan sebesar 500 kg (naik sekitar 67 persen) yang dicapai secara simultan dengan peningkatan waktu jelajah menunjukkan efisiensi rekayasa sistem yang sangat matang dari para insinyur TA, tanpa harus mengorbankan durasi penerbangan.

Kemampuan membawa muatan yang lebih berat memberikan fleksibilitas taktis yang luar biasa bagi komandan lapangan.

Beragam Muatan

AKSUNGUR dirancang untuk mengakomodasi berbagai sistem modular, mulai dari sensor elektro-optik, radar SAR/GMTI-ISAR, perangkat intelijen sinyal dan komunikasi (COMINT/ELINT), hingga sistem peperangan elektronik.

Dari segi penyerangan, drone ini mampu mengusung munisi presisi, roket berpemandu laser, dan rudal anti-tank.

Kemandirian teknologi Turki juga makin diperkuat lewat integrasi mesin buatan dalam negeri, TEI-PD170, yang telah sukses membawa drone ini terbang melampaui ketinggian 40.000 kaki.

Salah satu fokus utama dari peningkatan ini adalah memperluas peran AKSUNGUR ke dalam doktrin pertahanan maritim dan peperangan kapal selam (Anti-Submarine Warfare/ASW).

TA saat ini bekerja sama erat dengan Angkatan Laut Turkiye untuk mengintegrasikan peluncuran sonobuoy, penempatan torpedo, serta penggunaan radar maritim canggih.

Kehadiran drone otonom dengan daya jelajah sangat panjang yang mampu menyebar sensor akustik dan membawa torpedo akan memberikan lapisan pertahanan baru yang sangat efektif.

Pengganda Kekuatan

AKSUNGUR tidak bertugas menggantikan pesawat patroli maritim berawak, melainkan bertindak sebagai pengganda kekuatan (force multiplier) yang mampu mengawasi wilayah perairan luas dengan biaya operasional yang jauh lebih efisien.

Secara strategis, pengembangan ini memberikan keuntungan berlipat ganda baik bagi Turki maupun aliansi pertahanan NATO.

Di kawasan vital seperti Laut Hitam dan Mediterania Timur, keberadaan AKSUNGUR memastikan pengawasan tanpa putus terhadap jalur komunikasi laut dan infrastruktur penting bawah laut.

Sementara bagi NATO, armada drone otonom yang dapat dioperasikan secara terintegrasi ini menjadi kontribusi berharga Turkiye dalam memperkuat kesadaran situasi maritim aliansi.

Jika target muatan 1.250 kg dan ketahanan 60 jam ini sukses divalidasi pada 2027, AKSUNGUR akan mengukuhkan posisinya dalam kategori baru platform nirawak berdaya jelajah strategis yang sangat tangguh.

Sekilas Pengembangan AKSUNGUR

Secara historis, pengembangan AKSUNGUR berawal dari kebutuhan Turkiye untuk memiliki armada drone berkemampuan tempur dan pengintaian tinggi melebihi platform terdahulunya, ANKA.

Proses perancangan dan manufakturnya diselesaikan oleh para insinyur TA dalam tempo yang cukup singkat, yakni sekitar 18 bulan.

AKSUNGUR kemudian sukses melakukan penerbangan perdananya pada 20 Maret 2019 selama 4 jam 20 menit, sebelum akhirnya diperkenalkan secara resmi kepada publik dalam ajang International Defence Industry Fair (IDEF) di Istanbul pada April 2019.

Setelah melalui serangkaian pengujian ketat serta integrasi avionik dan amunisi presisi, AKSUNGUR resmi menjalani misi lapangan pertamanya pada pertengahan tahun 2021.

Platform ini kemudian diserahterimakan secara bertahap kepada pengguna utamanya, termasuk Angkatan Laut Turki pada Oktober 2021.

Dari platform pengintai yang dikembangkan berbasis proyek ANKA hingga berkembang menjadi platform bersenjata dan perintis operasi maritim otonom, rekam jejak AKSUNGUR membuktikan kapasitas berkelanjutan ekosistem kedirgantaraan Turkiye dalam berinovasi.

Dalam Bahasa Turkiye, AKSUNGUR bermakna sebagai elang putih pengembara dari arktik. Ak berarti putih dan Sungur bermakna jenis elang pemburu. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *