Nama USS Donald Trump Muncul untuk CVN-81: Singkirkan Pahlawan Pearl Harbor Doris Miller?
WikipediaAIRSPACE REVIEW – Wacana penamaan ulang kapal induk bertenaga nuklir kelas Gerald R. Ford keempat, CVN-81, tengah menjadi sorotan hangat di lingkungan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy).
Berdasarkan laporan CNN pada Agustus 2026, nama USS Donald Trump muncul sebagai calon kuat pengganti nama resmi yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu USS Doris Miller.
Jika diresmikan, potensi penetapan nama USS Donald Trump ini secara langsung akan menggeser penghormatan bagi sang pahlawan Pearl Harbor, Doris Miller, yang semula diabadikan pada kapal perang bernilai miliaran dolar tersebut.
Isu perubahan nama ini mengemuka di tengah evaluasi teknis menyeluruh dan arahan Gedung Putih untuk meninjau ulang biaya pengadaan, kapasitas galangan kapal, serta konfigurasi teknis jelang peletakan lunas (keel-laying) pada akhir tahun 2026, seperti dilaporkan Army Recognition.
Bertolak Belakang dengan Nilai Historis
Rencana pembatalan nama USS Doris Miller ini dinilai pengamat bertolak belakang dengan nilai historis yang diusungnya. Seperti diketahui, pada 20 Januari 2020, Sekretaris Angkatan Laut saat itu, Thomas Modly, telah menetapkan nama USS Doris Miller untuk CVN-81.
Penamaan tersebut mengukir dua rekor bersejarah di lingkungan US Navy. Ini adalah kapal induk pertama yang akan dinamai dari seorang keturunan Afrika-Amerika sekaligus prajurit bertugas (enlisted sailor).
Doris Miller merupakan pahlawan Pearl Harbor yang meraih penghargaan Navy Cross atas keberaniannya memindahkan prajurit terluka dan mengoperasikan senapan mesin antipesawat tanpa pelatihan formal saat diserang pasukan Jepang pada 7 Desember 1941.
Miller kemudian gugur pada tahun 1943 ketika kapal induk pengawal USS Liscome Bay tenggelam akibat hantaman torpedo. Pangkat terakhirnya saat gugur adalah Cook Third Class (Koki Kelas Tiga), setara dengan Bintara Tingkat Rendah (Petty Officer Third Class).
Jika nama USS Donald Trump disahkan saat ia masih menjabat di Gedung Putih, hal tersebut akan menciptakan preseden baru dalam tradisi penamaan kapal induk AS.
Meskipun beberapa nama tokoh hidup seperti Carl Vinson, John C. Stennis, Ronald Reagan, dan George H.W. Bush pernah diabadikan sebagai nama kapal induk, penetapannya selalu dilakukan setelah masa jabatan mereka berakhir atau kepada tokoh non-presiden.
Mengubah nama CVN-81 akan membatalkan keputusan yang dibuat pada periode pertama kepemimpinan Trump sendiri.
Selain itu, makin memperkuat dominasi nama presiden pada armada kapal induk kelas Ford, bersanding dengan USS Gerald R. Ford (CVN-78), USS John F. Kennedy (CVN-79), USS William J. Clinton (CVN-82), dan USS George W. Bush (CVN-83).
Tantangan Teknis dan Logistik
Di luar perdebatan nama, CVN-81 menghadapi tantangan teknis dan logistik yang kompleks. Kapal senilai 15,2 miliar USD (setara Rp270 triliun) yang dipesan bersama USS Enterprise (CVN-80) ini mengalami penundaan jadwal penyerahan dari Februari 2032 menjadi Februari 2034 akibat keterbatasan ruang kerja di galangan kapal Newport News Shipbuilding.
Penundaan ini memicu pertimbangan teknis setelah adanya arahan untuk mengganti Sistem Peluncur Pesawat Elektromagnetik (EMALS) dan Elevator Persenjataan Canggih (AWE) bernilai miliaran dolar dengan sistem kerek uap (steam catapult) serta lift hidrolik konvensional.
Selain itu, terdapat opsi mendesain ulang posisi anjungan kapal (island) agar digeser ke depan sejauh 42,7 meter, menyerupai tata letak kapal induk terdahulu seperti kelas Nimitz.
Rencana perombakan desain teknis tersebut membawa konsekuensi biaya dan risiko operasional yang tidak sedikit.
Mengganti EMALS kembali ke sistem uap membutuhkan perubahan struktur kapal yang masif, mulai dari pemasangan pipa uap bertekanan tinggi, akumulator, hingga penyesuaian tata ruang internal.
Pembengkakan Biaya
Langkah penyesuaian ini berpotensi memicu pembengkakan biaya akibat penghentian kontrak yang sedang berjalan dengan General Atomics, sekaligus mengharuskan industri pertahanan menghidupkan kembali rantai pasok manufaktur peluncur uap yang telah dihentikan selama dua dekade.
Di sisi lain, pergeseran posisi anjungan dapat mengganggu optimalisasi operasional dek penerbangan kelas Ford yang sebelumnya telah dirancang untuk meningkatkan laju peluncuran pesawat (sortie generation rate) hingga 33 persen lebih tinggi dibandingkan kelas Nimitz.
Perubahan pada CVN-81 juga berdampak pada tenggat peremajaan armada dan peta kompetisi global. Penundaan konstruksi akan menekan jadwal pensiun kapal induk kelas Nimitz yang sudah uzur, seperti USS Nimitz (CVN-68) yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun.
Di kancah internasional, ketika AS mempertimbangkan untuk kembali ke teknologi uap, negara lain justru beralih ke teknologi elektromagnetik.
Kapal induk terbaru Tiongkok, Fujian, telah menerapkan sistem peluncur elektromagnetik, sementara Prancis berencana menggunakan teknologi EMALS buatan AS untuk kapal induk masa depan mereka, PA-NG.
Keputusan akhir mengenai CVN-81 kini menjadi pertaruhan penting antara nilai efisiensi anggaran, kesinambungan teknologi modern, serta tradisi penamaan dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat. (RNS)
