Gripen F Resmi Mengudara: Mampu Bawa 7 Rudal Meteor dan 2 IRIS-T Sekaligus
SaabAIRSPACE REVIEW – Jet tempur Gripen F, versi dua tempat duduk (tandem seat) dari Saab Gripen E, resmi menyelesaikan penerbangan perdana dari Bandara Saab di Linköping, Swedia pada 28 Agustus 2026.
Pesawat mengudara tepat pukul 09.40 waktu setempat dan melintas di langit selama 40 menit.
Penerbangan awal ini berhasil memverifikasi fungsionalitas sistem dasar serta performa penerbangan perdana.
Keberhasilan penerbangan ini sekaligus membuka jalan bagi Gripen F untuk masuk ke fase pengujian komprehensif.
Tonggak Sejarah Krusial
Uji coba lanjutan akan mencakup evaluasi performa di berbagai rentang kecepatan, ketinggian, ketahanan terhadap gaya G tinggi, hingga manuver ekstrem di udara.
Seluruh rangkaian pengujian akan dipusatkan di Pusat Uji Penerbangan Saab, Swedia. Tim penguji juga bakal mengevaluasi kemampuan taktis khusus kokpit belakang serta efisiensi pembagian beban kerja awak pesawat.
Presiden Saab Aviation Business, Lars Tossman, menegaskan pencapaian ini menjadi tonggak sejarah krusial bagi Swedia dan Angkatan Udara Brasil (FAB).
Proyek ini lahir dari kerja keras rekayasa bertahun-tahun untuk mempercepat pelatihan pilot sekaligus mendongkrak efisiensi misi tempur tingkat lanjut.
350 Insinyur Brasil Terlibat
Brasil memegang peran vital sebagai pelanggan pertama sekaligus mitra pengembang utama dalam Program Gripen Brasil.
Lebih dari 350 insinyur, teknisi, dan pilot asal Brasil terlibat langsung dalam fase pengembangan, produksi, uji terbang, hingga pemeliharaan.
Setelah seluruh prosedur penerimaan dan uji penerbangan selesai, unit pertama Gripen F akan langsung dikirim ke Angkatan Udara Brasil.
Dari segi teknis, Gripen F mengusung arsitektur avionik, sensor, dan sistem persenjataan yang identik dengan versi berkursi tunggal Gripen E.
Kehadiran kokpit kedua memberikan fleksibilitas tinggi, baik untuk instruktur penerbang maupun perwira sistem senjata (Weapon Systems Officer) dalam mengoperasikan sensor dan strategi tempur.
Radar AESA dan IRST
Jet tempur ini dibekali radar AESA, sensor pencari dan pelacak inframerah (IRST), sistem peperangan elektronik canggih, serta kemampuan berbagi data taktis secara waktu nyata.
Dapur pacunya mengandalkan mesin turbofan General Electric F414G yang bertenaga.
Terkait urusan daya gempur, dengan 10 titik muatan senjata (hardpoint), Gripen F mampu membawa kombinasi beragam rudal, bom, pod penargetan, hingga tangki bahan bakar eksternal.
Dalam konfigurasi supremasi udara, pesawat bahkan sanggup mengusung tujuh rudal udara ke udara jarak jauh Meteor dan dua rudal jarak pendek IRIS-T secara bersamaan.
Desain modular pada perangkat lunaknya juga memudahkan integrasi kecerdasan buatan (AI) serta persenjataan baru di masa depan.
Selain itu, pesawat ini dirancang memiliki efisiensi turn-around tinggi, di mana proses pengisian bahan bakar dan persenjataan ulang untuk misi udara ke udara hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Program Gripen Brasil
Pengembangan Gripen F merupakan bagian tak terpisahkan dari program akuisisi armada tempur utama FAB.
Di bawah kontrak senilai 4,5 miliar USD yang disepakati pada 2014, Brasil memesan sebanyak 36 unit jet tempur Gripen generasi baru. Paket akuisisi strategis ini mencakup 28 unit varian kursi tunggal Gripen E dan 8 unit varian kursi ganda Gripen F.
Oleh FAB keluarga jet tempur canggih ini secara resmi kemudian diberi penamaan militer lokal F-39. Varian kursi tunggal Gripen E diberi kode F-39E, sedangkan varian dua tempat duduk Gripen F menyandang kode F-39F.
Kehadiran F-39 diproyeksikan untuk menggantikan jajaran jet tempur lama FAB sekaligus mendongkrak supremasi udara negara tersebut di kawasan Amerika Latin.
Lebih dari sekadar pembelian alutsista, program F-39 membawa skema transfer teknologi (Offset) bernilai tinggi yang melibatkan manufaktur kedirgantaraan lokal, Embraer.
Melalui kemitraan erat dengan Saab, lini produksi Gripen bahkan telah dibangun di fasilitas Embraer di Gavião Peixoto, São Paulo.
Skema ini menjadikan Brasil tidak hanya sebagai pengguna akhir, tetapi juga basis manufaktur dan pusat pengembangan utama F-39 di luar Swedia. (RNS)
