Bukan Cuma Siluman, AS Bocorkan Rahasia Pengebom B-2 Jebol Fasilitas Nuklir Iran

B-2 SpiritUSAF
Pengebom siluman B-2 Spirit Angkatan Udara AS.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) membocorkan rahasia di balik keberhasilan pesawat pengebom B-2 Spirit saat menembus dan menjebol fasilitas nuklir Iran yang dibentengi secara ketat.

Berdasarkan laporan terbaru dari Pangkalan Udara Whiteman (Whiteman AFB), kuncinya bukan cuma pada teknologi pesawat siluman, melainkan strategi integrasi armada udara gabungan dan penggunaan amunisi khusus penghancur bunker.

Pengungkapan ini menyoroti pelaksanaan Operation Midnight Hammer yang digelar pada Juni 2025 lalu dan memberikan gambaran mendalam mengenai cara militer AS melancarkan serangan presisi jarak jauh ke target bawah tanah tanpa perlu bergantung pada pangkalan di luar negeri.

Bom Raksasa Penghancur Bunker

Seperti diulas Army Recognition, dalam operasi militer tersebut, sebanyak tujuh pengebom siluman B-2 Spirit dikerahkan untuk menghantam dua fasilitas nuklir bawah tanah Iran, yakni Fordow dan Natanz.

Misi ini mencatatkan sejarah sebagai penggunaan operasional pertama dari bom raksasa penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP).

Sebanyak 14 unit bom seberat 30.000 pon (sekitar 13,6 ton) dilepaskan dalam serangan tersebut, di mana enam pesawat menjatuhkan 12 bom ke situs Fordow dan satu pesawat sisanya meluncurkan dua bom ke sasaran di Natanz.

Misi serangan berjarak lebih dari 21.000 km (pulang-pergi) ini berlangsung selama kurang lebih 36 jam nonstop dari Whiteman AFB di Missouri.

Baca di Sini: Cerita di belakang layar “Operasi Palu Tengah Malam” dan taktik serangan pengebom B-2 AS terhadap fasilitas nuklir Iran

Kesuksesan penyerangan ini bergantung pada taktik pengecehan dan strategi gabungan skala besar yang melibatkan lebih dari 125 pesawat pendukung.

Ketika pesawat pengebom utama terbang ke arah timur dengan komunikasi minimal dan serangkaian pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling), kelompok B-2 lainnya diterbangkan ke arah Pasifik sebagai manuver tipuan.

Pada saat yang sama, jet-jet tempur pengawal dan pesawat pendukung dikerahkan lebih awal untuk membersihkan ancaman udara dan rudal darat-ke-udara, didampingi peluncuran rudal jelajah Tomahawk dari kapal selam AS untuk melumpuhkan jejaring pertahanan udara musuh secara berlapis.

Kemampuan Operasi Bersama

Rincian operasi ini menegaskan bahwa keunggulan B-2 Spirit tidak hanya bertumpu pada fitur low observability atau teknologi siluman semata, melainkan pada ekosistem operasi bersama (joint force architecture).

Kombinasi desain flying-wing, lapisan komposit penyerap radar, perang elektronik, pengawalan jet tempur, serta penumpasan sistem pertahanan musuh secara sistematis terbukti mampu membuka “jendela akses” bagi pesawat berharga tinggi ini untuk mendekati target dan melepaskan muatan presisi tingginya dari jarak yang aman.

Langkah operasional ini menjadi sangat krusial mengingat keterbatasan jumlah armada B-2 yang dimiliki Washington.

Saat ini, USAF hanya mengoperasikan 20 unit B-2 Spirit dengan pangkalan tunggal di Whiteman AFB.

Mengingat ukurannya yang kecil, setiap unit B-2 memiliki bobot strategis yang amat tinggi. Kesiapan armada terus dijaga melalui perawatan rutin dan modernisasi berkala bernilai miliaran dolar oleh Northrop Grumman, termasuk pemulihan lapisan anti-radar dan struktur pesawat.

Secara teknis, pesawat pengebom bersayap tunggal (flying wing) ini memiliki panjang 20,9 m, bentang sayap 52,12 m, serta bobot lepas landas maksimum mencapai 152,6 ton.

Ditenagai oleh empat mesin turbofan General Electric F118-GE-100 yang masing-masing menghasilkan daya dorong 17.300 pon, B-2 Mampu terbang pada kecepatan subsonik tinggi hingga ketinggian 15.240 meter.

Dengan jarak jelajah tanpa isi ulang bahan bakar mencapai 9.600 km dan ruang amunisi internal berkapasitas 27,2 ton, dua orang awak pilot di dalamnya sanggup mengendalikan daya hancur luar biasa terhadap target paling terlindungi di belahan bumi manapun.

Pemeliharaan yang Terprogram

Pentingnya menjaga kesiapan tiap unit B-2 terlihat jelas ketika salah satu armada, Spirit of Ohio, kembali bertugas aktif pada 23 Juni 2026 setelah menjalani perawatan berkala di fasilitas Northrop Grumman, Palmdale.

Proses pemeliharaan depot terprogram tersebut mencakup inspeksi struktur mendalam, penggantian komponen yang menua, hingga pemulihan material penyerap radar untuk memastikan karakteristik silumannya tetap optimal.

Mengingat jumlah armada yang sangat terbatas, penarikan atau kembalinya satu unit pesawat ke skuadron operasional memberikan dampak langsung terhadap jumlah pembom yang siap dikerahkan untuk misi tempur, latihan, maupun tugas penangkalan nuklir.

Info Lainnya: Memotret tanpa izin pembom B-2 Spirit di Pangkalan Udara Whiteman, seorang warga China dikenai dakwaan melakukan kejahatan

Penyingkapan taktik penyerangan ini sekaligus memberikan pesan peringatan strategis bagi para perencana militer dari China, Rusia, hingga Korea Utara.

Ancaman utama dari B-2 Spirit bukan sekadar kemampuannya menghindari radar, melainkan tantangan besar bagi negara rival dalam mempertahankan rantai deteksi dan penembakan (engagement chain) mereka ketika dihantam perang elektronik masif dan serangan udara terkoordinasi.

Rangkaian misi dari Operation Midnight Hammer di Timur Tengah hingga latihan anti-kapal Valiant Shield di Pasifik membuktikan mengapa doktrin penyerangan penetrasi jarak jauh tetap menjadi inti kekuatan militer AS, sembari secara bertahap menyiapkan transisi menuju pesawat pembom generasi berikutnya, B-21 Raider. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *