AIRSPACE REVIEW – Hati-hati bila Anda memotret pesawat militer tanpa izin di pangkalan udara, karena bisa dikenai dakwaan. Hal ini pula yang terjadi pada seorang warga negara China yang memotret pembom siluman B-2 Spirit di Pangkalan Udara Whiteman di Missouri, Amerika Serikat.
Otoritas federal AS telah mengajukan dakwaan resmi terhadap warga negara Tiongkok yang diidentifikasi bernama Qilin Wu, berusia 35 tahun. Kasus ini dipublikasikan oleh Departemen Kehakiman AS baru-baru ini.
Qilin Wu didakwa telah melakukan kejahatan dengan merekam gambar instalasi dan peralatan militer vital yang secara langsung melanggar hukum federal Amerika Serikat.
Hukum yang diterapkan dalam kasus ini adalah larangan untuk memproduksi foto, video, atau representasi grafis apa pun dari pangkalan dan infrastruktur militer yang dianggap penting bagi pertahanan nasional tanpa izin, terutama tanpa persetujuan dari komando yang bertanggung jawab.
Investigasi dimulai pada tanggal 2 Desember 2025, ketika Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara (AFOSI) menerima peringatan tentang sebuah minivan yang dianggap mencurigakan beredar di sekitar perimeter Pangkalan Angkatan Udara Whiteman.
Personel keamanan pangkalan pun dikirim ke lokasi dan mendekati sang fotografe. Warga negara China itu mengakui sedang mengamati pembom B-2 Spirit.
Menurut keterangan resmi, dia telah diperingatkan dengan jelas bahwa dia tidak diperbolehkan memotret atau merekam video bagian mana pun dari pangkalan atau peralatannya.
Keesokan harinya, kendaraan tersebut kembali teridentifikasi di dekat pagar perimeter fasilitas tersebut. Hal ini kemudian mendorong agen AFOSI untuk melakukan pendekatan baru.
Selama kontak kedua ini, Qilin mengakui telah merekam video pesawat pembom B-2 dan mengambil beberapa foto infrastruktur eksternal pangkalan, termasuk pagar, salah satu gerbang akses, dan peralatan militer yang terlihat.
Setelah menyerahkan ponselnya secara sukarela kepada penyidik, ditemukan 18 file termasuk gambar dan video yang terkait dengan Pangkalan Angkatan Udara Whiteman.
Menurut jaksa, terdakwa juga membenarkan telah memotret Pangkalan Angkatan Udara AS lainnya dan pesawat militer di lokasi yang berbeda.
Salah satu faktor yang sangat diperhitungkan dalam penilaian pihak berwenang adalah status imigrasi terdakwa.
Menurut Departemen Kehakiman, Qilin Wu memasuki Amerika Serikat secara ilegal pada bulan Juni 2023 melalui wilayah Nogales di Arizona. Ia ditahan oleh agen imigrasi pada saat itu.
Ia kemudian dibebaskan dengan syarat setuju untuk hadir dalam proses deportasi, dengan sidang yang dijadwalkan baru pada tahun 2027, karena kurangnya ruang di pusat-pusat penahanan.
Menyusul insiden yang melibatkan pangkalan Whiteman, dia ditangkap lagi, kali ini oleh agen ICE, pada Desember 2025.
Para ahli keamanan dan kontraintelijen sering mengingatkan bahwa di Amerika Serikat memotret pesawat militer dari area publik tidak selalu merupakan tindak pidana.
Praktik mengamati pesawat sudah lama ada dan, dalam banyak kasus, ditoleransi. Namun, batasan hukum sering dilanggar ketika ada aktivitas berulang, fokus pada infrastruktur sensitif, ketidakpatuhan terhadap perintah langsung dari otoritas militer, dan keadaan tambahan yang menunjukkan kemungkinan minat untuk mengumpulkan informasi di luar sekadar merekam pesawat.
Pangkalan Angkatan Udara Whiteman dianggap sebagai salah satu instalasi paling sensitif Angkatan Udara AS karena menampung B-2 Spirit, pesawat pembom siluman yang mampu menggunakan senjata konvensional dan nuklir dalam misi jarak jauh.
Pangkalan ini memainkan peran sentral dalam strategi pencegahan Amerika Serikat, dan detail yang tampaknya sepele, seperti gerbang, pagar, titik pengamatan, dan peralatan pendukung, dapat memperoleh nilai ketika dianalisis bersama, terutama dari perspektif intelijen militer.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan oleh otoritas AS terkait akses warga asing, khususnya warga negara Tiongkok ke area militer yang sensitif.
Dalam beberapa tahun terakhir, insiden yang melibatkan balon pengintai, laporan tentang drone di dekat pangkalan, dan investigasi terkait pengamatan instalasi pertahanan tanpa izin telah meningkatkan tingkat kewaspadaan di AS.
Meskipun sejauh ini belum ada kaitan publik antara insiden ini dan kampanye spionase terkoordinasi, proses tersebut mencerminkan kekhawatiran yang berkelanjutan tentang aktivitas pengumpulan intelijen yang terus-menerus terhadap aset strategis, terutama yang terkait dengan pencegahan nuklir. (RNS)

