Inggris Cari Jet Latih Baru: Akhir Era Hawk Menuju Jet Tempur Masa Depan
UK MoDAIRSPACE REVIEW – Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) secara resmi mulai berburu jet latih lanjut lanjut baru untuk Angkatan Udara Kerajaan (RAF) sekaligus tim aerobatik legendaris Red Arrows.
Melalui penerbitan dokumen permohonan informasi (Request for Information) ber-kode 700004994-RFI pada Agustus 2026, London memberi tenggat waktu hingga 11 September 2026 bagi produsen pertahanan global untuk menyerahkan profil dan keterlibatan mereka.
Langkah pengumpulan data awal di bawah naungan National Armaments Director group ini menjadi pijakan penting sebelum proses tender dan komitmen pengadaan resmi dimulai.
Langkah besar ini berpatokan pada Rencana Investasi Pertahanan Inggris yang mengalokasikan dana senilai £360 juta (sekitar 485 juta USD) untuk merombak total Sistem Pelatihan Jet nasional, lengkap dengan bagian porsi kerja bagi industri dalam negeri.
Pengadaan sistem baru ini difokuskan untuk memodernisasi pelatihan penerbang agar siap bertransisi ke jet tempur generasi kelima dan keenam, khususnya armada F-35 serta proyek jet tempur masa depan Global Combat Air Programme (GCAP).
Kelelahan Struktur
Proyek peremajaan ini mencakup dua armada jet utama yang terancam habis masa tugasnya. Armada Hawk T1, yang telah memperkuat RAF sejak 1976 dan dipakai tim Red Arrows sejak 1979, dipastikan pensiun pada akhir 2030.
Masalah kelelahan struktur rangka pesawat (airframe fatigue) bahkan telah memaksa Red Arrows tampil hanya dengan formasi 7 pesawat dari yang seharusnya 9 sepanjang musim 2026.
Sementara itu, armada Hawk T2 yang bermarkas di RAF Valley juga terus mengalami masalah kesiapan operasional akibat kendala pemeliharaan mesin yang berulang.
Inggris terpaksa berpaling ke produsen luar negeri karena tidak lagi memproduksi jet latih secara mandiri. BAE Systems telah menutup lini produksi Hawk, sedangkan Aeralis, satu-satunya pengembang asal Inggris, harus masuk jalur kepailitan pada Mei 2026 setelah investor utamanya dari Qatar menarik dana.
Kondisi ini melapangkan jalan bagi konsorsium internasional yang menggandeng mitra industri lokal Inggris.
Produsen Asing
Kemitraan Boeing dan Saab menjadi kandidat paling mencolok dengan menawarkan jet T-7A Red Hawk bersama BAE Systems sebagai kontraktor utama.
Di luar itu, Leonardo dari Italia diperkirakan menyodorkan M-346, Korea Aerospace Industries memboyong jet keluarga T-50, dan Turkish Aerospace berpeluang menawarkan Hürjet.
Krisis armada jet latih tua ini ternyata juga melanda negara tetangga. Angkatan Udara Prancis menghadapi masalah serupa pada armada Dassault/Dornier Alpha Jet yang digunakan oleh tim aerobatik Patrouille de France.
Kepala Staf Angkatan Udara Prancis menyatakan pesawat tersebut hanya mampu bertahan paling cepat hingga 2032.
Namun, dengan bangkrutnya Aeralis yang sebelumnya sempat mendirikan anak perusahaan di Prancis, opsi pesawat latih independen buatan Eropa resmi tertutup bagi kedua negara. (RW)
