Antara Su-35 dan F-35, ada tarik ulur yang belum terselesaikan

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Beberapa waktu lalu santer diberitakan bahwa diam-diam Indonesia akan membatalkan niat untuk membeli satu skadron jet tempur Su-35 Super Flanker karena tekanan dari Amerika Serikat (AS). Lebih jauh disebutkan bahwa Indonesia malah mencari kemungkinan atau peluang untuk membeli jet tempur siluman F-35 Lightning II dari AS.

Sebuah sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya mengungkapkan, sesungguhnya masih ada tarik ulur yang belum terselesaikan (bermakna: politik) yang kini memegang peranan. Pasalnya, disinyalir bahwa AS pun tak akan gampang melepas F-35 untuk Indonesia, kendati kemungkinan untuk pembelian F-35 itu tetap ada.

Dikatakan, peluang Indonesia untuk memperoleh “restu” dari Washington untuk membeli F-35 bisa menguat jika Indonesia jadi memborong F-16V Block 70/72.

Secara teknis bisa dimengerti karena biasanya AS menginginkan pembeli alutsista buatannya untuk tidak “melompat” secara teknologi. F-16V diakui merupakan pijakan yang tepat untuk menjembatani teknologi jet tempur TNI AU yang ada ke F-35.

Namun demikian, sumber yang sama menyebutkan bahwa sesungguhnya keinginan Indonesia untuk memiliki Su-35S Super Flanker masih kuat. Apalagi bila menyimak pengalaman selama ini, di mana Rusia selalu memberikan barang sesuai dengan spek yang ditawarkannya.

Dengan kata lain, apabila Rusia menganggap suatu sistem persenjataan terlalu sensitif untuk dijual, Moskow pun tidak akan menawarkannya kepada negara lain. Rusia juga tidak memberikan embel-embel persyaratan penggunaan persenjataan dagangannya itu kelak.

Hal ini berbeda dengan AS yang selalu memberikan segudang syarat. Misalnya, boleh membeli sistem persenjataan A, tetapi tidak boleh digunakan untuk B, tidak boleh dipakai untuk C, dan seterusnya ada persyaratan-persyaratan tambahan. Bila kita melanggar, sudah pasti AS akan mengunci atau melemahkan persenjataan yang dijualnya dengan berbagai cara.

Lalu bagaimana dengan peluang Su-35? Jadi tidaknya pembelian pesawat ini tergantung dari kecerdikan Indonesia memainkan kartu politik internasional. Apakah kita sudah siap dengan risiko hanya tergantung pada satu sumber dominan yaitu AS?

Secara spek teknis, Su-35 sudah memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan TNI AU sebagai pesawat pengganti F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14. Baik dari segi kemampuan tempur maupun daya gentar (deterrent) yang dibutuhkan.

Antonius KK

editor: ron

35 Replies to “Antara Su-35 dan F-35, ada tarik ulur yang belum terselesaikan”

      1. “…..di mana Rusia selalu memberikan barang sesuai dengan spek yang ditawarkannya.”

        Yakin om ????

        Heli raksasa mi-6 contohnya ….ketika dioperasikan oleh AURI, baru ketahuan kalo daya angkutnya tidak sebesar yg tercantum didalam brosur (sumber majalah angkasa).

        Lalu utk konteks alutsista generasi saat ini….nanti kalo MLU ke F-16 OCU dan “52id akan ketahuan kalo su-27/30 yg terakhir dibeli TNI AU teknologinya sudah ketinggalan.

        Ini belum lagi bicara faktor after sales service dan TOT

        1. bukan itu aja masalahnya. Kita pernah mengalami yg namanya diboikot militer oleh negara barat. alhasil F16 menjadi hanya beberapa gelintir yg beroperasi krn kekurangan suku cadang bahkan beberapa pswt TNI AU ada yg jatuh. Akibatnya TNI AU melemah dan australia seenaknya gentayangan di timtim. makanya TNI skrg menganut dual sistem militer barat dan timur. Jadi kalo yg satu diboikot kita masih ada yg bisa dioperasikan. Makanya kalo kita udah beli F16 blok 72, maka harus ada sistem dari blok timur. Jgn sampe terulang kita diboikot militer dan TNI jadi pincang.

      2. SU 35 lebih bagus, daya jangkau lebih jauh, daya angkut senjata lebih besar, mampu mendeteksi lawan dan menembak lebih 200 km kemampuan manuver lebih bagus, anti embargo, penjual tidak neko2, harga jauh lebih murah. Mampu mendeteksi pesawat siluman. Kami sangat mengharap Indonesia punya SU 35 apalagi sudah teken MOU. Malu bila kita membatalkan. Apalagi krn tekanan amerika. Dimana muka kita sbg negara berdaulat. Zaman ordebaru alustita banyak dari Amerika tapi hanya diberi yg kualitas dua, beda yg diberikan ke negara sekutu. Ayo bangkit dari ketergantungan dan tekanan. Kita hrs berani

  1. Ya kita tunggu keputusan Pak Presiden dan Kemenhan Yang dulu waktu kampanye koar koar mau utamakan alutsista yang lebih canggih generasi ++4 khususnya Pesawat tempur, cocok nggak dengan kampanyenya dan tidak usah takut dengan embargo dari negara tertentu, contoh saja waktu Ibu Mega jadi Presiden nggak takut namanya embargo.

  2. Katanya sih Indonesia gak akan mundur oleh tekanan AS, nyatanya saat ini bisa kita lihat …. Pembelian SU 35 dari Rusia sampai saat ini berlarut-larut dengan ketidak pastian … ?? Malah AS cuma menawarkan F16 , yaa kalah jauhlah dibanding SU 35.

    1. Kalah jauh dalam hal apa ? F-16VIPER itu varian tercanggih lho dalam keluarga F-16, yg mana mengadopsi sebagian teknologi F-35, seperti radar AESA, Jumming Pod, dan masih banyak lainnya. Su-35 hebatnya dmn sih ? Radar rawan kena jumming karena cuma 1 frekuensi, radar masih Pesa Irbis-E yg mana udh lumayan ketinggalan jaman -_- kalo itu ditahun 1999 mah radar Pesa merupakan yg tercanggih, lah kalo sekarang ? Udh kuno cuy

      1. Ini jongosnya amrik apa bukan?gak ada gunanya dan membeli senjata dari as sampai kapanpun.resiko terlalu tinggi,ancaman embargo.indonesia gak akan pernah menjadi mitra yang setara,yang ada cuma jadi boneka as.kecuali jadi sekutunya.janganlah jadi keledai .

        1. Betul…sia2 saja membeli alutsista dr AS krn penuh dgn remote kendali amerika dr HAM, kecanggihan kalah dgn sekutu sekitar indonesia, dan rawan embargo komponen suatu saat nanti. Amerika menginginkan Indonesia dbawah sekutunya di asia tenggara dan australia.

        2. sama aja datangin SU 35 kalo ga bisa diintegrasi sama sistem di Indonesia. lagian bener yg megumi bilang, emang bakal menang su 35 sama viper, F-16 blok 52 + AMRAAM aja dah cukup buat bikin gentar SU 30 MKI yg paling canggih itu, malah putar balik meskipun dah gotong penuh2 tuh R77.

    2. SU 35 lebih di butuhkan dari pada F35. Krn u hadang F35 australia yg hrs isi bahan bakar dulu jika serang indonesia. Sdgkan F 35 jangkauan lebih jauh meskipun agak sulit deteksi F35.

  3. Insyaalloh sebagai sahabat yang negara baik [AMERIKA].pasti diplomasi kita daPat membawa pesawat F 35 LIGTING II. SALAM KOMANDO🇮🇩

  4. bukan soal duit, bukan teknologi, bukan pula politik ……… ternyata yg diperlukan hanya “nyali” buat beli yg lethal.

  5. Gila abad udh 21 msh pke f16 ngakak gue dengernya .. Negara lain berlomba lomba pakai pesawat tempur generasi 5 ini malah generasi akhir perang dingin duh

    1. Makanya kenapa juga mau beli su35 ngakak ajg,negara lain berlomba pakai pesawat gen 5 ini malah generasi 4 akhir.

  6. Perlu taktik yg jitu nampaknya pemerintah, mungkin hanya waktu agak mundur lagi utk membeli SU 35, yg jelas kalau ada kemungkinan terburuk, mau ga mau harus beli produk2 Rusia… Rusia sederhana saja, tanpa embel-embel yg lain

  7. SU 35 Rusia jangkauan lebih jauh, manuver terbang bagus, daya angkut lebih besar, mampu menembak dan mendeteksi lebih dari 200 km, penjualnya juga tak neko2, bebas embargo. Selama orde baru alustita kita banyak dari mamarika tapi hanya diberi dg kualitas kedua beda yg diberikan kpd negara sekutunya spt singapura dll. Kami sangat mengharap SU 35 datang. Apalagi sdh teken MOU malu bila dibatalkan. Apalagi alasan krn ditekan Mamarika. Dimana muka kita sbg negara yg berdaulat. Kita hrs bebas dari tekanan Mamarika. Kita tak perlu ragu, dan harus berani. Rakyat selalu ada dibelakang

  8. Gemah Ripah loh jinawi Toto tentrem Kerto Raharjo sungguh ini hanya menjadi sebuah peribahasa buat negara kita Republik Indonesia, tetapi sayang beliau beliau yang disana mau periode orde baru maupun orde reformasi atau orde sekarang masih cenderung melihat masa depan hanya dengan binocular/teropong diselingi langkah maju selangkah selangkah dan bukan gerakan antusias. Beliau beliau yang berwenang dalam pengadaan alutista terlihat sehat sehat semua. Istilah mensana in copporesano (di dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat) kurang tampak. Apa ada yang salah sama mereka. SU 35 nggak F 35 juga nggak. Kesan tidak bagus di mata warga negaranya terlebih di mata negara negara lain.

    1. Sehat bukan berarti berpikir, bro. Kita terlalu sibuk dengan menciptakan “mekanisme” yang membuat bangsa ini bingung sendiri. Filosofi kebesaran mungkin berlaku hanya pada saat saat awal kemerdekaan. Sungguh sayang.

  9. lagi pula ngapain sih beli su 35. soalnya kalau beli su 35 percuma karena gak akan bisa di sambungin sama alutsista kita yang lain. Harus punya sistem komunikasi masing2. Punya data link masing2. Sekarang kan kalo lagi tugas, Sukhoi2 kita nggak bisa komunikasi data dengan kapal2 permukaan kita (misal PKR) yang menggunakan teknologi barat. Atau dengan F-16, nggak bisa nyambung. Paling cuma komunikasi radio doang. Akan jadi sulit untuk membuat sistem yang benar2 terintegrasi. apa lagi kita nanti ada rencana beli awacs wedgetail yang pasti juga teknologinya dari barat alias link 16 yang mana sukhoi family gak akan bisa nyambung. 🤬🤬

  10. Amerika di percaya la gudang nya orang picik, kita dulu di takutin angkatan perang juga karena seluruh alutsita kita dari soviet. Ingat

    1. dan ingat juga banyak alutsista kita dari uni soviet jadi terbengkalai karena di tahun 1965-1970 kita di embargo oleh uni soviet.

  11. Yg jelas saya nyesek klo su 35 gagal.diboyong.dari pada f35 banyak syarat. Ingat bantuan Rusia ketika merebut irian barat kala itu.klo tetep f35 berarti indo takut sangsi Amrik

  12. Yg jelas saya nyesek klo su 35 gagal.diboyong.dari pada f35 banyak syarat. Ingat bantuan Rusia ketika merebut irian barat kala itu.klo tetep f35 berarti indo takut sangsi Amrik

  13. Beda prinsip AS dgn Rusia
    AS tidak mau menjual alatnya kalau digunakan sembarangan yg melanggar HAM, tdk peduli kdpnnya alatnya tdk di beli lagi
    Beda dgn rusia yg paham komunis, tdk peduli alatnya dipakai utk pelanggran HAM yg penting barang laku laris manis

  14. jika NKRI beli peralatan perang milik amerika banyak persyaratan dan akan menjadi bumerang utk NKRI ya lebih baik beli peralatan perang milik Rusia aja .sebenarnya simpel aja

  15. Yg jelas, kalau beli apapun dengan embel2 ini itu artinya itu bukan beli namanya… hibah, gratisan.
    Namanya beli ya suka suka yang punya duit. Barang bagus, after sales-nya oke, teknologi terkini. Saya rasa Indonesia punya hak independen untuk beli SU-35.

    1. after salesnya oke ????, dengan segala hormat pak, kalo definisi after sales yg oke itu adalah kalo mau maintenance harus ke Belarusia, ane lebih pilih after sales yg kurang oke yg maintenancenya diTOT ke mekanik kita. satu lagi, teknologi terkini, SU-35 MASIH PESAAAAAAA

  16. Kalau bisa beli alutsista yg sesuai saja dengan kebutuhan dan anggaran yg ada, mau su35 atau f35 maupun yg lainnya. Apalagi menurut UU pertahanan yg baru persyaratan ToT harus ada, sebisa mungkin jangan terlalu sering mau didikte negara lain. Pembelian alutsista baru itu untuk memperkuat pertahanan negara kita, ya terserah kita to mau beli darimana. Gitu aja kok repot

  17. Bismillah,boleh juga tawaran baiknya,tapi… apakah tidak dikemudian hari TNI.AU akan diberikan embargo jika tidak sesuai dengan haluan politik amerika,ambil jalan tengah aja… beli su.35 tetap dijalankan,f.16 v tetap juga jadi 6 unit sesuaui dengan target awal.

  18. Let’s be honest here, baik russia ataupun amerika itu b******n. Amerika memang produknya bagus tapi memang terkenal syarat dan ketentuan berlaku seperti produk2 kapitalis umumnya, sedangkan russia banyak produk exportnya yang memang versi downgrade dari pemakaian domestiknya belum lagi terkenal susah TOT harus beli ratusan dulu mungkin baru dipertimbangkan bukan eceran seperti tiap indonesia beli. Dengan situasi sekarang kecil kemungkinan amerika mau kasih jual f35 apalagi indonesia masih suka nempel2 si panda. Dan kalau pilih su35 siap2 sanksi ekonomi dari amerika apalagi si panda paling juga gak akan bantu kalo kita bener2 dapat sanksi tersebut. IMHO sekarang sepertinya saat yg cocok untuk mendekat ke uni eropa. Beli rafale atau eurofighter terus ikut program FCASnya franco-german. Saat ini eropa sedang renggang dengan amerika mungkin sekarang syarat2nya bisa lebih lancar. Walaupun pasti memang terlihat mahal didepan tapi semoga TOT-nya lebih lancar. Tidak seperti nasib KFX/IFX yang sebagaian besar key technology-nya dari amerika sehingga jalannya macet2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *