India Cermati Akuisisi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi oleh Indonesia
Italian NavyAIRSPACE REVIEW – Akuisisi kapal induk bekas Angkatan laut Italia, Giuseppe Garibaldi, oleh Indonesia memicu perhatian dari para pengamat pertahanan India. Langkah Indonesia menempatkan kapal tersebut di kawasan strategis diperkirakan akan membawa implikasi strategis dan menuntut perhatian ekstra dari militer India terhadap dinamika keamanan di wilayah sekitarnya.
Media India melaporkan, Giuseppe Garibaldi, yang akan ditempatkan di Teluk Ratai, Lampung, berhadapan langsung dengan Selat Sunda dan berjarak sekitar 850 mil laut dari Pulau Nikobar Besar milik India di Kepulauan Andaman dan Nikobar.
Kehadiran kapal induk ini menjadikannya armada kapal induk pertama yang beroperasi secara permanen di dekat wilayah kedaulatan India.
Dari segi kapabilitas, TNI Angkatan Laut berencana mengoperasikan pesawat nirawak tempur (UCAV) Bayraktar TB3 buatan Turkiye serta helikopter antikapal selam AS-565 Panther dari atas geladak Giuseppe Garibaldi.
Kombinasi armada UCAV dan helikopter tersebut dinilai meningkatkan jangkauan pemantauan serta kapabilitas pengawasan maritim Indonesia secara signifikan di chokepoint penting kawasan.
Kerjasama Strategis Komprehensif
Meskipun hubungan bilateral antara India dan Indonesia saat ini terjalin sangat erat di bawah Kerjasama Strategis Komprehensif, termasuk kerja sama pertahanan seperti potensi pengadaan rudal BrahMos dan Astra oleh Jakarta, para analis keamanan India menilai kemunculan kapal induk di Samudra Hindia bagian timur tetap memerlukan kewaspadaan.
Bagi analis militer, keberadaan kapal induk yang membawa drone tempur di perairan internasional dekat Andaman berpotensi menyita fokus dan perhatian pertahanan maritim India, terutama apabila terjadi eskalasi atau konflik di wilayah geopolitik lain, tulis IDRW.
Tentang Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk ringan berteknologi STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) yang dibangun oleh galangan kapal Fincantieri di Monfalcone dan resmi masuk dinas Angkatan Laut Italia pada tahun 1985.
Dengan panjang sekitar 180 m serta bobot benaman muatan penuh mencapai 14.150 ton, kapal ini awalnya dikembangkan sebagai platform peperangan antikapal selam (anti-submarine warfare) sekaligus pusat kendali komando armada.
Ciri khas utamanya terletak pada geladak penerbangan sepanjang 174 m yang dilengkapi dengan landasan pacu menanjak (ski-jump) bersudut 6 derajat untuk memfasilitasi lepas landas pesawat tempur sayap tetap.
Selama hampir empat dekade mengabdi sebagai kapal bendera (flagship) Italia, Giuseppe Garibaldi memiliki rekam jejak operasi militer yang sangat luas di bawah naungan NATO dan PBB. Kapal ini pernah dikerahkan dalam berbagai misi krisis global, mulai dari operasi penjaga perdamaian di Somalia pada pertengahan 1990-an, Perang Kosovo, hingga Operasi Enduring Freedom di Afghanistan dan Operasi Unified Protector di Libya pada tahun 2011.
Baca Juga: TNI Angkatan Laut akan menyiapkan 500 personel untuk mengawaki kapal induk Giuseppe Garibaldi
Sepanjang pengabdiannya, kapal induk ini terbukti andal mengoperasikan kombinasi pesawat tempur AV-8B Harrier II serta berbagai jenis helikopter militer seperti AgustaWestland AW101 dan SH-3D.
Ditenagai oleh empat mesin turbin gas General Electric/Avio LM2500 yang mampu menghasilkan daya 81.000 tenaga kuda, kapal ini sanggup melaju hingga kecepatan maksimum 30 knot dan memiliki jarak jelajah mencapai 7.000 mil laut.
Selain kemampuan angkut udara, Giuseppe Garibaldi didesain mandiri dalam pertahanan diri melalui integrasi sistem rudal permukaan ke udara, kanon pertahanan jarak dekat (CIWS) DARDO 40 mm, serta peluncur torpedo antikapal selam.
Setelah dipensiunkan oleh Angkatan Laut Italia dan digantikan oleh kapal amfibi Trieste, platform ini kemudian diakuisisi oleh Indonesia. (PN)
