Bocor di Telegram: Rusia modifikasi helikopter Mi-8 jadi jammer terbang pemburu drone
Kirill FedorovAIRSPACE REVIEW – Rusia diketahui telah memodifikasi helikopter angkut legendaris Mil Mi-8 menjadi sistem perang elektronik terbang yang dirancang khusus untuk mengacak (jammer) navigasi satelit pada drone jelajah jarak jauh milik Ukraina.
Kehadiran sistem yang sebelumnya tidak terdeteksi ini terungkap secara tidak sengaja melalui foto-foto yang diunggah oleh saluran Telegram “Kirill Fedorov/War, History, Weapons” dari Rusia, sebelum akhirnya dianalisis oleh situs berita pertahanan Ukraina, Militarnyi.
Dari analisis foto yang beredar, badan pesawat Mi-8 dipasangi sejumlah antena panel datar dua saluran yang mampu memancarkan gangguan spektrum penuh 360 derajat untuk melumpuhkan sinyal GPS dan GLONASS yang diandalkan drone lawan.
Keunggulan Mobilitas yang Fleksibel
Strategi penempatan jammer pada helikopter ini memberikan keunggulan mobilitas yang sangat fleksibel dibandingkan instalasi darat statis. Meski drone jarak jauh umumnya dilengkapi sistem navigasi inersia cadangan saat sinyal satelit terputus, akurasi navigasi inersia tersebut akan menurun drastis dan menumpuk kesalahan penentuan posisi jika melintasi area jamming yang luas.
Dengan helikopter, militer Rusia dapat merespons pergerakan gelombang drone secara waktu nyata dan memindahkan zona gangguan ke titik-titik krusial yang sedang diincar musuh, sehingga drone terdorong melenceng jauh dari sasaran militernya.
Eksperimen teknologi perang elektronik ini bertumpu pada keandalan sejarah panjang platform Mi-8, helikopter angkut mesin ganda yang dikembangkan oleh Biro Desain Mil.
Sang Pekerja Keras, Mi-8 Selayang Pandang
Dirancang pada era Perang Dingin, helikopter mesin ganda Mil-Mi-8 (NATO: Hip) telah berevolusi dari sekadar angkut personel menjadi platform serbaguna yang terus merajai langit hingga era peperangan modern berbasis nirawak.
Sejarah dimulai pada akhir 1950-an ketika Uni Soviet membutuhkan pengganti untuk helikopter mesin piston Mi-4. Perancang kenamaan Mikhail Mil mengusulkan pemanfaatan mesin turboshaft yang lebih bertenaga, ringkas, dan efisien.
Baca Juga: Enam dekade helikopter legendaris Mi-8 menapaki evolusinya
Prototipe pertama (V-8) terbang pada Juli 1961 menggunakan mesin tunggal sebelum disempurnakan menjadi varian mesin ganda (V-8A) yang terbang pertama kali pada 17 September 1962. Helikopter ini kemudian resmi masuk ke jajaran Angkatan Udara Soviet pada 1968, di mana rancangan dasarnya yang kokoh, kabin lapang, serta pintu belakang model bilah kargo menjadikannya standar baru helikopter angkut sedang.
Performa dan Rekam Jejak Tempur
Kunci keunggulan heli Mi-8 terletak pada keandalan mekanisnya di iklim ekstrem, mulai dari dinginnya Siberia hingga panas terik gurun. Helikopter ini mampu membawa 24 hingga 30 prajurit bersenjata lengkap atau beban kargo seberat 4 ton.
Ditenagai dua mesin Klimov TV2-117 yang kemudian ditingkatkan ke TV3-117 pada varian modern, Mi-8 mampu melaju hingga kecepatan maksimum sekitar 250 km/jam dengan jangkauan terbang mencapai 450 hingga 800 km. Meski bertugas utama sebagai angkut, varian tempur seperti Mi-8AMTSh juga dilengkapi dengan gantungan senjata eksternal yang mampu mengusung peluncur roket unguided, rudal antitank, hingga senapan mesin berat.
Baca Juga: Army-2023: Kemhan Rusia menambah pesanan helikopter Mi-8AMTSh-V Terminator
Selama lebih dari lima dekade, hampir tidak ada konflik global besar yang tidak melibatkan keikutsertaan Mi-8. Helikopter ini menjadi tulang punggung logistik dan evakuasi medis tentara Soviet selama Perang Soviet-Afghanistan pada rentang 1979 hingga 1989.
Peran vital tersebut berlanjut dalam Perang Chechnya, Perang Suriah, berbagai pertempuran di benua Afrika, hingga digunakan secara masif oleh kedua belah pihak dalam Perang Rusia-Ukraina sebagai helikopter serbu, penyusup tim pasukan khusus, penerbang ambulans udara, hingga platform peperangan elektronik.
Transformasi Era Modern
Diproduksi lebih dari 17.000 unit dari gabungan Mi-8 dan varian ekspornya yaitu Mi-17, heli ini mencatatkan diri sebagai helikopter paling banyak diproduksi di dunia. Saat ini, Mi-8 dan Mi-17 dioperasikan oleh lebih dari 80 negara untuk melayani berbagai matra militer maupun operator sipil dari Asia, Afrika, Eropa Timur, hingga Amerika Latin.
Di Indonesia sendiri, TNI Angkatan Darat tercatat mengoperasikan varian Mi-17 V5 untuk memenuhi kebutuhan transpor berat dan operasi di medan yang sulit dijangkau, termasuk juga varian terbaru Mi-8AMT.
Baca Juga: Puspenerbad operasikan dua helikopter baru buatan Rusia: Mi-8AMT dan Ka-32T
Memasuki era perang modern yang didominasi oleh sistem otonom dan peperangan elektronik, Mi-8 membuktikan bahwa airframe tua ini masih sangat relevan lewat adaptasi peran baru. Rusia kemudian mengembangkan varian peperangan elektronik canggih bernama Mi-8MTPR-1 yang dilengkapi sistem jammer Rychag-AV untuk mengacak radar pertahanan udara musuh, rudal pencegat, serta sistem komunikasi drone dalam radius hingga 150 km.
Selain itu, menghadapi ancaman drone pengintai dan drone bunuh diri jenis FPV (first-person view), Mi-8 juga dialihfungsikan sebagai platform pemburu drone jarak dekat dengan mengintegrasikan sistem optronik atau FLIR thermal serta senapan mesin pintu untuk berpatroli memburu drone yang terbang rendah di malam hari.
Pengembangan terbaru ini yang kemudian ramai dibahas setelah bocor melalui sebuah akun Telegram dari Rusia. (RNS)
