Air China dan Shenzhen borong 55 pesawat Airbus senilai Rp200 triliun, Boeing boncos?

Air China Airbus A350-900Airbus
Air China Airbus A350-900.

AIRSPACE REVIEW – Pabrikan pesawat asal Eropa, Airbus, kembali mencetak kemenangan besar di pasar penerbangan raksasa Asia. Maskapai penerbangan nasional China, Air China, bersama anak perusahaannya, Shenzhen Airlines, resmi mengumumkan pesanan fantastis sebanyak 55 unit pesawat baru dengan total nilai katalog mencapai 12,4 miliar USD (sekitar Rp200 triliun).

Langkah agresif ini diambil di tengah upaya maskapai-maskapai besar China untuk memodernisasi armada mereka pascapandemi dan menggantinya dengan pesawat yang jauh lebih hemat bahan bakar.

Jet Jarak Jauh dan Domestik

Berdasarkan dokumen resmi yang dirilis di Bursa Efek Shanghai, pesanan jumbo ini dibagi menjadi dua segmen strategis.

Pertama, pesanan 15 A350-900 untuk Air China). Pesawat berbadan lebar (widebody) generasi terbaru ini bernilai katalog sekitar 6,09 miliar USD. Jet andalan ini dijadwalkan akan dikirim secara bertahap antara tahun 2030 hingga 2032 untuk memperkuat rute internasional jarak jauh.

Baca Juga: Genjot armada ramah lingkungan, Air China Cargo borong 10 pesawat Airbus A350F

Kedua, adalah 40 A320neo untuk Shenzhen Airlines. Pesawat berbadan sempit (narrowbody) yang sangat populer untuk rute domestik dan regional ini bernilai sekitar 6,35 billion USD. Pengirimannya direncanakan lebih awal, yaitu antara tahun 2029 hingga 2032.

Meski nilai total katalognya menyentuh angka yang mencengangkan, pihak Air China membocorkan bahwa mereka mendapatkan diskon besar-besaran dari Airbus —sebuah praktik yang lumrah terjadi dalam transaksi pembelian pesawat skala megah. Untuk pendanaannya, grup maskapai ini mengandalkan kombinasi dana internal perusahaan dan pinjaman bank.

Dongkrak Kapasitas Hingga 7,1%

Pesanan baru ini diproyeksikan akan mendongkrak total kapasitas angkut grup Air China hingga 7,1% dibandingkan kapasitas mereka di akhir tahun 2025.

Bagi Shenzhen Airlines, masuknya 40 armada A320neo baru akan melipatgandakan jumlah armada sejenis yang telah mereka miliki saat ini, yakni 35 unit. Mengingat usia rata-rata pesawat mereka yang baru berkisar 4,9 tahun, penambahan ini akan membuat operasional maskapai jauh lebih efisien dan ramah lingkungan.

Cengkeraman Kuku Airbus di China Makin Kuat

Transaksi ini mempertegas dominasi kuat Airbus di pasar penerbangan China selama satu dekade terakhir. Di saat yang sama, rival utamanya asal Amerika Serikat, Boeing, masih harus berjuang keras di pasar China akibat hambatan regulasi, ketegangan dagang global, serta proses sertifikasi pascakrisis armada 737 MAX yang sempat tertunda.

Menariknya, pesanan dari grup Air China ini ternyata merupakan bagian dari gelombang belanja besar-besaran maskapai China.

Di hari yang sama, Hainan Airlines juga mengumumkan pesanan 40 unit A320neo, membuat total belanjaan jet Airbus dari maskapai China hari itu menembus 95 pesawat dengan nilai kolektif mencapai 17,8 miliar USD (sekitar Rp288,36 triliun).

Komitmen dengan Boeing Belum Terealisasi

Menarik untuk mencermati perkembangan relasi dagang antara China dan Amerika Serikat, terutama dalam realisasi kesepakatan kedua belah pihak yang telah diumumkan sebelumnya menyusul pertemuan dua pemimpin besar, Trump dan Xi Jinping.

Jika kita bernostalgia jauh ke tahun 2017, saat kunjungan Presiden AS Donald Trump (periode pertama) ke Beijing pada November 2017, China sempat menandatangani kesepakatan megah untuk membeli 300 pesawat Boeing senilai 37 miliar USD (setara Rp663,077 triliun bila menggunakan kurs rupiah saat ini).

Namun, nasib komitmen 2017 ini sebagian besar membeku dan tidak terealisasi sepenuhnya akibat rentetan dinamika hubungan politik AS-China. Seperti diketahui, hubungan AS-China memburuk tak lama setelah kunjungan tersebut, memicu aksi saling balas tarif yang membuat Beijing mengerem pembelian produk strategis AS.

Insiden yang Membuat Boeing Terjepit

Insiden serius berupa kecelakaan fatal pesawat 737 MAX Lion Air dan Ethiopian Airlines membuat regulator penerbangan China (CAAC) menjadi yang pertama di dunia yang membekukan operasional (grounded) 737 MAX-8 pada 2019, serta menyetop seluruh pengiriman dan pesanan baru selama bertahun-tahun.

Atas kejadian tersebut, maskapai-maskapai China melakukan pengalihan pesanan ke Airbus yang sekaligus menjadi periode “puasa” pesanan Boeing tersebut. Model A320neo untuk penerbangan domestik dan A350 untuk rute jarak jauh menjadi pilihan terbaik bagi China.

Komitmen baru terhadap AS (Boeing) muncul lagi di tahun 2026 saat kunjungan kedua Trump ke Beijing. Setelah hampir satu dekade tanpa pesanan besar dari China, angin segar akhirnya berembus bagi Boeing. Pada kunjungan kenegaraan di bulam Mei tersebut, Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping menyepakati komitmen baru.

Pemerintah China secara resmi menyetujui komitmen awal untuk membeli 200 unit pesawat buatan Boeing. Langkah ini disahkan sebagai bagian dari upaya stabilisasi hubungan dagang non-sensitif di bawah lembaga baru yang dibentuk kedua negara, yaitu U.S.-China Board of Trade.

Baca Juga: Boeing berharap mendapat pesanan 600 pesawat dari China menyusul pertemuan Trump-Xi

Dalam keterangannya di atas pesawat Air Force One, Trump menyatakan bahwa komitmen ini bisa membengkak hingga total 750 pesawat di masa depan, dengan catatan China puas pada performa dan pengiriman fase awal (200 pesawat pertama) tersebut.

Kesepakatan baru tersebut diproyeksikan tidak hanya menguntungkan Boeing, tetapi juga General Electric (GE Aerospace) yang ditunjuk untuk memasok sekitar 400 hingga 450 mesin jet terkait pesanan ini.

Pesanan baru maskapai China kepada Airbus, malah semakin menguatkan strategi diplomasi hedging (keseimbangan) khas Beijing. China tetap tetap menjaga hubungan dagang dengan AS demi stabilitas politik, namun di satu sisi terus memodernisasi armadanya menggunakan kombinasi pasokan dari Airbus dan Boeing.

Washington dalam hal ini, mungkin perlu menanyakan ulang komitmen Beijing untuk memborong pesawat Boeing. Jangan iya-iya, tapi enggak. Ya nggak? (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *