Buntut bocornya rahasia Air Force One baru, pemerintah Trump panggil paksa jurnalis The New York Times

Air Force One dikawal 4 F-221st Fighter Wing
Air Force One VC-25B Bridge terbang dikawal 4 F-22 Raptor.

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mengintensifkan penyelidikan federal terkait kebocoran informasi rahasia Air Force One. Langkah ini memicu ketegangan baru setelah empat jurnalis dari media terkemuka The New York Times dipanggil paksa untuk memberikan kesaksian di depan dewan juri federal (grand jury).

Penyelidikan ini berpusat pada laporan jurnalistik The New York Times yang mengungkap adanya celah atau kerentanan keamanan pada armada pesawat kepresidenan AS yang baru tersebut.

Kronologi Pemanggilan Jurnalis

Empat jurnalis senior yang menerima surat panggilan tersebut adalah Julian E. Barnes, Eric Lipton, Tyler Pager, dan Eric Schmitt. Surat perintah tersebut dikeluarkan langsung oleh kantor Jaksa Federal Jay Clayton untuk Distrik Selatan New York.

Ketegangan semakin meningkat karena dalam beberapa kasus, agen federal dilaporkan mendatangi langsung kediaman pribadi para jurnalis secara tatap muka untuk menyerahkan dokumen panggilan tersebut.

Langkah agresif tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai organisasi pembela kebebasan pers.

Masalah Keamanan Jet Mewah Eks Qatar

Kontroversi ini bersumber dari pesawat Boeing 747-8i yang baru saja dimasukkan ke dalam jajaran armada kepresidenan AS.

Menariknya, pesawat ini awalnya merupakan jet VIP milik keluarga Kerajaan Qatar yang kemudian dihibahkan ke Amerika Serikat. Oleh Gedung putih pesawat tersebut kemudian digunakan sebagai solusi sementara (jembatan) akibat penundaan panjang pada program jet kepresidenan Air Force One utama yang baru.

Mengubah pesawat komersial mewah standar menjadi pusat komando udara kepresidenan terbukti mendatangkan tantangan besar. Pesawat Air Force One wajib memiliki spesifikasi yang jauh melampaui jet eksekutif biasa.

Di antara spesifikasi yang dipersyaratkan tersebut adalah terkait sistem komunikasi terenkripsi dan antipenyadapan, perlindungan terhadap serangan siber, dan kemampuan komando dan kendali penuh saat situasi krisis nasional (seperti perang nuklir).

Artikel yang ditulis oleh para jurnalis tersebut mengupas potensi celah keamanan dalam proses modifikasi tersebut.

Hal inilah yang mendorong pemerintah melakukan investigasi mendalam guna mencari tahu siapa “orang dalam” atau sumber yang telah membocorkan data rahasia negara kepada media.

Menimbulkan Efek Menakutkan

Kementerian Kehakiman AS (DoJ) menegaskan bahwa langkah ini murni ditujukan untuk mengidentifikasi pelaku kebocoran informasi rahasia di lingkup pemerintahan, bukan untuk mengkriminalisasi atau memburu para jurnalis.

Meski demikian, argumen tersebut tidak meredakan kritik. Pengacara utama dari The New York Times, David McCraw, mengecam keras tindakan agen federal yang mendatangi rumah para repórter.

Ia menilai tindakan ini mengancam perlindungan konstitusional terhadap aktivitas jurnalistik dan dapat menimbulkan efek menakutkan (chilling effect) yang membuat sumber-sumber tepercaya enggan berbicara kepada media demi kepentingan publik di masa depan.

Asal-usul Jet Mewah Kerajaan Qatar

Pesawat Boeing 747-8i Continental ini awalnya merupakan bagian dari Qatar Amiri Flight, yaitu armada maskapai VVIP milik pemerintah yang dioperasikan khusus untuk melayani keluarga kerajaan (Royal Family) dan pejabat tinggi negara Qatar.

Sebagai pesawat VVIP berukuran raksasa, interior jet ini awalnya tidak dirancang seperti pesawat komersial biasa yang padat kursi.

Pesawat ini kemudian dilengkapi dengan fasilitas super mewah kelas satu, mulai dari kamar tidur utama, ruang pertemuan eksklusif, ruang keluarga, hingga ruang perjamuan makan dengan material interior premium yang disesuaikan dengan standar kemewahan keluarga kerajaan.

Solusi Transisi di Tengah Krisis Penundaan Boeing

Amerika Serikat sebenarnya memiliki program resmi untuk mengganti armada Air Force One lama (Boeing 747-200B/VC-25A) dengan dua unit pesawat baru berbasis Boeing 747-8i yang diberi kode VC-25B. Program pengerjaan VC-25B ini dipegang oleh perusahaan manufaktur Boeing.

Namun, proyek bernilai miliaran dolar tersebut mengalami penundaan bertahun-tahun (successive delays) akibat berbagai kendala teknis, kekurangan tenaga kerja, hingga masalah biaya.

Sementara itu, dua pesawat kepresidenan yang saat ini aktif (VC-25A) sudah beroperasi sejak awal dekade 1990-an dan semakin menua.

Untuk mengatasi kekosongan armada dan melengkapi kebutuhan operasional sebelum VC-25B benar-benar siap pakai, pemerintah Amerika Serikat mencari solusi alternatif. Di sinilah jet Boeing 747-8i eks Kerajaan Qatar masuk sebagai opsi “jembatan” (solusi transisi) untuk melengkapi kebutuhan armada transportasi udara presiden.

Proses Pengalihan ke Amerika Serikat

Melalui serangkaian kesepakatan dan negosiasi politik, kepemilikan pesawat berbadan lebar milik Qatar ini akhirnya dialihkan ke Amerika Serikat. Setelah resmi berpindah tangan ke pemerintah AS, pesawat ini harus menjalani proses perombakan total secara radikal.

Modifikasi ini tidak lagi berfokus pada estetika kemewahan ala istana terbang, melainkan pada kebutuhan militer, pertahanan, dan kelangsungan pemerintahan AS (continuity of government).

Pengerjaan modifikasi dilakukan oleh L3Harris Technologies di fasilitas rahasia mereka di Texas. Proses pengerjaannya terhitung sangat cepat, yaitu hanya dalam waktu 10 bulan.

Durasi yang sangat singkat untuk ukuran pesawat kepresidenan ini bisa dicapai karena beberapa faktor. Demi kejar tayang, L3Harris mengerahkan sekitar 400 teknisi dan ahli bersertifikasi keamanan tinggi yang bekerja nonstop 24 jam dalam format 3 shift setiap harinya.

Baca Juga: Di balik layar proses modifikasi 747-8i hadiah dari Qatar menjadi VC-25B Bridge Air Force One

Proyek yang dijuluki sebagai proyek VC-25B “Bridge” ini dipacu dengan “kecepatan maksimum” demi mengejar tenggat waktu (deadline) dari Gedung Putih agar pesawat bisa diserahkan ke Angkatan Udara AS (USAF) dan siap digunakan untuk perayaan Hari Kemerdekaan ke-250 AS pada Juli 2026 ini.

Untuk mengejar waktu yang normalnya memakan waktu bertahun-tahun, L3Harris terpaksa memangkas beberapa paket peningkatan standar Air Force One konvensional. Sebagai contoh, pesawat jembatan ini dilaporkan tidak dibekali kemampuan pengisian bahan bakar di udara (air-to-air refueling) dan menyederhanakan beberapa modifikasi struktural masif agar proses sertifikasi terbangnya jauh lebih cepat.

Pesawat Air Force One baru ini sukses menjalani uji terbang pada Mei 2026 dan dikirimkan ke pangkalan militer USAF pada Juni 2026 lalu dengan balutan warna livery merah, putih, dan biru sesuai pilihan administrasi Trump.

Menjadi Pusat Kontroversi Keamanan

Transformasi dari sebuah jet pribadi VVIP komersial menjadi sebuah “Gedung Putih Terbang” (Flying White House) ternyata memicu perdebatan sengit di kalangan spesialis penerbangan dan otoritas pertahanan AS.

Banyak pihak mempertanyakan kelayakan dan tantangan teknis dalam menyuntikkan standar keamanan super ketat Pentagon ke dalam struktur pesawat yang awalnya dikonfigurasi untuk kebutuhan sipil/VVIP.

Kecepatan modifikasi 10 bulan memicu kecurigaan adanya celah keamanan yang terburu-buru, yang kemudian diangkat menjadi laporan investigasi oleh jurnalis The New York Times dan memicu penyelidikan kebocoran data rahasia oleh administrasi Trump.

Baca Juga: Heboh Trump mendadak ganti pesawat saat pulang dari Turkiye, ada hubungannya dengan ancaman Iran?

Langkah investigasi yang dilakukan oleh para jurnalis The New Yorks Times, juga berkorelasi dengan keganjilan ketika Presiden Donald Trump kembali dari KTT NATO ke Amerika Serikat tidak menggunakan VC-25B “Bridge” melainkan menggunakan Air Force One lama VC-25A yang berwarna biru muda.

Dari Ankara, Turkiye, Trump menggunakan VC-25A menuju Inggris. Dan setelah transit di sana, ia beralih pesawat lagi menggunakan Air Force One baru VC-25B menuju Amerika Serikat. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *