Guncangan di Ankara: Ketika Trump merobek perjanjian damai dan memaksa dunia memilih
Belga News AgencyAIRSPACE REVIEW – Rabu, 8 Juli 2026, tepat pukul 10:15 waktu setempat, arsitektur perdamaian Timur Tengah yang baru seumur jagung mendadak runtuh di ruang sidang KTT NATO, Ankara, Turkiye. Hanya butuh satu pernyataan unilateral dari Presiden AS Donald Trump untuk mengubah jalannya sejarah: Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad resmi berakhir, dan genderang perang kembali ditabuh.
Di sela-sela pertemuan bilateral darurat bersama Sekjen NATO Mark Rutte, Trump tidak hanya berbicara, tapi ia bertindak.
Sebuah perintah operasi tempur (execution order) langsung meluncur ke Komando Pusat AS (US CENTCOM). Di Laut Arab, armada tempur udara global (Global Strike Command) dan Gugus Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group) yang tadinya siaga, kini mulai bergerak. Targetnya jelas: Iran!
Diplomasi yang Mati Muda dan Kepanikan di Ankara
Pengumuman sepihak ini bak bom waktu yang menghancurkan upaya diplomasi internasional yang tengah dirintis dengan susah payah oleh Qatar dan Oman. Perjanjian damai yang baru berjalan tiga minggu itu menguap begitu saja, digantikan oleh retorika militeristik agresif khas Trump.
Di depan awak media yang terperangah, Trump menyebut para pemimpin Teheran sebagai “kelompok kejam” yang hanya bisa dihadapi dengan satu cara, menggunakan kekuatan pemusnah.
Seketika itu juga, atmosfer KTT NATO berubah total. Agenda awal yang seharusnya membahas pengadaan industri pertahanan kolektif senilai 50 miliar USD (sekitar Rp810 triliun) lenyap, digantikan oleh kepanikan diplomatik yang mencekam.
Baca Juga: Heboh Trump mendadak ganti pesawat saat pulang dari Turkiye, ada hubungannya dengan ancaman Iran?
Trump tidak hanya menyasar Iran. Ia juga mengarahkan telunjuknya ke dalam internal NATO. Sekutu Eropa seperti Prancis dan Spanyol diamuk karena menolak memberikan izin hak lintas udara (overflight rights) bagi pesawat pembom USAF. Madrid bahkan diancam sanksi perdagangan sekunder jika tidak segera menaikkan anggaran pertahanannya hingga 3,5% dari PDB.
Melalui utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, Trump mengirim pesan tanpa kompromi: Jika negosiasi buntu, AS siap menghancurkan seluruh infrastruktur sipil kritis Iran, mulai dari pembangkit listrik hingga fasilitas desalinasi air.
Realisme Ofensif dan Retaknya Hegemoni Barat
Di balik drama geopolitik yang tersaji di Ankara, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa kertas perjanjian damai begitu mudah robek?
Pertama, Hukum Rimba Geopolitik (Offensive Realism). Tindakan sepihak Trump adalah manifestasi murni dari teori Offensive Realism. Di panggung politik global, perjanjian tertulis seperti MoU Islamabad hanyalah secarik kertas tanpa arti jika tidak ditopang oleh keseimbangan kekuatan (balance of power) kinetik di lapangan.
Ketika kepentingan hegemoni AS diganggu oleh aksi sabotase tanker yang diduga dilakukan Iran, Washington memilih merespons dengan proyeksi kekuatan maksimal. Trump sadar betul, keraguan sekecil apa pun di depan sekutu NATO akan mengikis kredibilitas deteren (daya gentar) militer AS dan merusak statusnya sebagai polisi dunia.
Kedua, retaknya “Blok Historis” Barat. Di sisi lain, amarah Trump terhadap Eropa memperlihatkan keretakan ideologis yang mendalam. Jika dibedah dengan kacamata pemikir marxis Antonio Gramsci, kita sedang melihat rapuhnya “blok historis” kapitalisme Barat.
Prancis dan Spanyol menolak menjadi “stasiun bahan bakar” bagi ambisi perang AS bukan tanpa alasan. Mereka enggan menanggung beban ekonomi akibat lonjakan harga energi yang pasti terjadi di halaman belakang mereka sendiri.
Merespons pembangkangan ini, Trump menggunakan pendekatan transaksional yang brutal —memaksa kepatuhan lewat ancaman isolasi ekonomi. Ini adalah bukti nyata: ketika sebuah hegemoni mulai kehilangan legitimasi konsensualnya (sukarela), ia akan selalu kembali pada watak aslinya, yaitu dominasi kekuasaan koersif yang telanjang.
Akhir dari Sebuah Era?
Kegagalan aliansi Barat untuk merumuskan satu komunike bersama di Ankara bukan sekadar masalah miskomunikasi. Ini adalah sinyal kuat bahwa tata dunia lama di bawah komando Washington sedang mengalami krisis legitimasi struktural yang akut.
Baca Juga: Konflik Selat Hormuz: Strategi Iran gunakan drone murah untuk lumpuhkan rantai pasok energi global
Ankara telah menjadi saksi di mana ketika diplomasi kalah kelas dari ego kekuasaan, dunia kembali dipaksa hidup dalam bayang-bayang mesiu dan ancaman kehancuran global. (RNS)
Catatan: Tulisan di atas disarikan dari analisis Marsma TNI (Purn) Agung “Sharky” Sasngkojati, mantan Penerbang F-5 dan F-16 TNI AU, Pakar Strategi PPAU.

Trump dan Netanyahu tak ada bedanya sama sama garis keras Yahudi, trump presiden paling angkuh dalam sejarah Amerika, Amerika dibuat trump seperti perusahaannya saja dengan angkuhnya, semoga dunia memaafkan trump ini…