Heboh Trump mendadak ganti pesawat saat pulang dari Turkiye, ada hubungannya dengan ancaman Iran?

Air Force One old and newUSAF
Air Force One old and new.

AIRSPACE REVIEW – Keputusan mendadak Presiden AS Donald Trump saat melakukan perjalanan pulang dari KTT NATO di Turkiye memicu kehebohan publik. Secara tak terduga, Trump meninggalkan Ankara menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One lama berwarna biru muda klasik. Padahal, ia tiba di Ankara dengan jet baru supermewah hadiah dari pemerintah Qatar.

Langkah misterius ini langsung memicu spekulasi panas. Pasalnya, pergantian pesawat dilakukan di tengah eskalasi ketegangan yang meruncing antara Amerika Serikat dan Iran —negara yang berbatasan langsung dengan Turkiye.

Publik pun bertanya-tanya, apakah keputusan Trump tersebut ada kaitannya dengan ancaman keamanan serius dari Iran?

Jawaban Menggantung Trump

Saat dikonfirmasi oleh awak media di Ankara mengenai apakah ada ancaman pembunuhan atau masalah keamanan pada jet baru yang membuatnya mendadak ganti pesawat, Trump tidak memberikan jawaban langsung. Namun, ia secara terbuka mengakui besarnya risiko keselamatan yang sedang mengintainya.

“Saya ini nomor satu dalam daftar bunuh (kill list) Iran,” ujar Trump kepada wartawan dalam konferensi pers penutupan KTT NATO. Saya tidak tahu pasti. Saya tidak bisa mengatakannya kepada Anda, tetapi saya tidak terlalu peduli,” jawab Trump dikutip Defense News.

Melalui akun media sosialnya di Truth Social, Trump mencoba meredam suasana dengan memberikan alasan yang lebih santai. Ia mengklaim sengaja menerbangkan jet lama dari Turki ke Pangkalan Udara RAF Mildenhall di Inggris hanya demi “bernostalgia” (for old time’s sake).

Sementara itu, pesawat baru hadiah Qatar yang memiliki corak warna merah, putih, biru tua, dan emas pilihan Trump sendiri, diterbangkan terpisah ke pangkalan militer di Inggris tersebut.

Baca Juga: VC-25A Air Force One tidak langsung pensiun, walau VC-25B sudah siap digunakan Trump

Trump berdalih, jet baru itu sengaja diparkir di sana agar para prajurit militer AS yang bertugas di Inggris bisa masuk dan melihat-lihat kemegahan pesawat tersebut.

Setelah transit di Inggris dan memamerkan jet baru itu kepada para tentara, rekaman video menunjukkan Trump kembali menaiki Air Force One baru tersebut untuk melanjutkan penerbangan menuju Washington.

Jet Mewah Qatar yang Dicurigai

Di balik drama pergantian pesawat ini, jet baru pemberian Qatar tersebut memang sedang berada di bawah pengawasan ketat dan memicu perdebatan di AS.

Pesawat Boeing 747 mewah ini dimodifikasi secara kilat oleh kontraktor L3Harris Technologies sebagai pesawat kepresidenan sementara karena proyek Air Force One resmi dari Boeing mengalami keterlambatan parah hingga tahun 2028.

Anggota parlemen dari kubu Demokrat mengkritik keras proyek kilat ini. Mereka memperkirakan biaya perombakan sistem keamanan —seperti penambahan teknologi anti-sadap, sistem pertahanan rudal, dan komunikasi khusus— menelan biaya fantastis lebih dari 1 miliar USD (sekitar Rp16 triliun).

Bahkan, beberapa pakar militer sempat menyatakan kekhawatiran bahwa proses perombakan yang terlalu buru-buru membuat jet baru ini mungkin belum seaman pesawat Air Force One standar bawaan Pentagon.

Walau demikian, para pejabat pemerintah memastikan pesawat tersebut tetap aman dan sudah memenuhi standar protokol kepresidenan.

Apakah pergantian pesawat di Turkiye murni karena Trump ingin bernostalgia dan menyenangkan para prajurit di Inggris, ataukah ada peringatan intelijen rahasia terkait ancaman Iran? Misteri ini tetap menjadi perbincangan hangat di Washington.

Kemungkinan Alasan Sebenarnya

Melihat perbandingan kedua pesawat tersebut, rahasia di balik keputusan mendadak Donald Trump di Turki menjadi lebih masuk akal dari sudut pandang taktis. Selama puluhan tahun, Air Force One lama (VC-25A) telah beroperasi sebagai “Benteng Udara” yang teruji 100 persen oleh Pentagon.

Struktur lambungnya memiliki proteksi khusus yang mampu menahan radiasi serta denyut elektromagnetik (EMP) akibat ledakan nuklir. Selain itu, sistem pertahanan elektroniknya dalam mengecoh radar dan rudal pencari panas musuh sudah terkalibrasi dengan sangat matang.

Keandalan tingkat tinggi inilah yang tampaknya dicari oleh tim pengamanan presiden saat harus menerbangkan Trump keluar dari Turkiye di tengah eskalasi ketegangan yang sedang memuncak.

Sebaliknya, jet interim baru yang berasal dari hadiah pemerintah Qatar masih menyimpan banyak tanda tanya di kalangan pakar militer. Meskipun pesawat Boeing 747 mewah tersebut sudah dirombak oleh kontraktor pertahanan AS dengan biaya fantastis milaran dolar, proses modifikasinya dilakukan secara kilat (fast-track).

Demi mengejar waktu operasional, Angkatan Udara AS (USAF) bahkan sengaja melewati beberapa tahapan modifikasi sistem pengamanan yang biasanya wajib ada pada pesawat kepresidenan. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa sistem komunikasi anti-sadap dan pertahanan rudal di jet baru tersebut belum sekuat dan seaman pesawat klasik pendahulunya.

Dengan peta risiko seperti itu, menerbangkan Trump keluar dari zona rawan menggunakan Air Force One lama yang sudah teruji penuh merupakan langkah mitigasi bahaya yang sangat logis.

Begitu pesawat mendarat di Pangkalan Udara RAF Mildenhall di Inggris —sebuah wilayah yang jauh lebih aman dan terkendali— barulah Trump berpindah kembali ke jet baru hadiah Qatar tersebut untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Washington.

Dalih “bernostalgia” dan memberikan kesempatan bagi para prajurit di Inggris untuk melihat-lihat jet baru pun tampaknya menjadi narasi publik yang cerdik untuk menutupi kalkulasi keamanan yang sangat sensitif di balik perjalanan tersebut. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *