Di Asia Tenggara baru dua negara operator pesawat AEW&C, Indonesia kapan?

G550 CAEW dan Saab 340 ErieyeRSAF, RTAF
RSAF G550 CAEW dan RTAF Saab 340 Erieye

AIRSPACE REVIEW – Di kawasan Asia Tenggara, pesawat dengan kemampuan Airborne Early Warning and Control (AEW&C) baru dioperasikan oleh dua negara, yakni Singapura dan Thailand.

Sementara wilayah udara regional yang lebih luas diawasi secara ketat oleh pesawat militer China yang beroperasi dari pos-pos di Laut China Selatan dan di Pasifik oleh pesawat AEW&C Australia.

Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) mengoperasikan armada berupa empat pesawat Gulfstream G550 Airborne Early Warning (CAEW) sejak 2012 sebagai pengganti Northrop Grumman E-2C Hawkeye yang menua.

Dikembangkan bersama Israel Aerospace Industries (IAI), G550 CAEW dilengkapi dengan radar conformal active electronically scanned array (AESA) EL/W-2085 yang canggih.

Pesawat ini berfungsi sebagai pusat manajemen pertempuran terbang, yang mendeteksi ancaman udara dan maritim dari jarak ratusan kilometer.

Sementara itu, Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) mengoperasikan satu skadron yang menggunakan dua pesawat AEW Saab 340 Erieye sejak 2010, yang dilengkapi dengan antena side-looking airborne radar (SLAR).

Sistem ini menyediakan pengawasan 360 derajat jarak jauh yang penting dan terintegrasi penuh dengan armada jet tempur Thailand, memungkinkan manajemen wilayah udara dan pemantauan perbatasan yang tangguh.

Indonesia Sudah Pertimbangkan Sejak 2014

Sementara itu Indonesia, diketahui TNI Angkatan Udara (TNI AU) sejak tahun 2014 telah merumuskan kebutuhan akan pesawat peringatan dini dan kontrol udara ini.

Namun sayangnya, hingga saat ini kebutuhan pesawat tersebut belum terpenuhi untuk mencapai Minimum Essential Forces (MEF) hingga tahun 2024.

Awalnya, tiga pesawat telah dipertimbangkan, termasuk Boeing E-7 dari Amerika Serikat, lalu Saab 2000 GlobalEye dari Swedia, dan Airbus C295 AEW&C dari konsorsium Eropa.

Kini beredar rumor, selain E-7 dan GlobalEye yang menjadi kandidat utama, dipertimbangkan juga Shaanxi KJ-500 (versi lebih modern dari ZDK-03) dari China.

Seperti diketahui TNI AU sendiri saat ini mengoperasikan jet tempur buatan Barat dan Timur. Apapun pesawat AEW&C yang terpilih tentunya harus bisa bersinergi dengan pesawat-pesawat tersebut. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *