Garuda Indonesia akan menambah armada pesawat, Dreamliner dan 737 MAX jadi sorotan

Boeing 787 DreamlinerBoeing
Boeing 787 Dreamliner.

AIRSPACE REVIEW – Maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berniat menambah armada pesawat untuk memperkuat struktur operasionalnya.

Manajemen Garuda secara resmi mengumumkan strategi agresif untuk menambah jumlah kekuatan pesawat aktif dan memperluas efisiensi rute penerbangan global.

Langkah ini diambil guna mengantisipasi lonjakan trafik penumpang domestik, sekaligus memaksimalkan pasar penerbangan religi, seperti ibadah haji dan umrah, yang terus menunjukkan tren pertumbuhan masif.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menegaskan bahwa penambahan armada operasional ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim yang akan melaksanakan ibadah ke Tanah Suci.

“Nanti setelah kembali dari haji itu kita bisa melayani jamaah bukan hanya kembali ke Jakarta, tapi bisa juga ke Turki, bisa juga ke Malaysia, dan ini akan meningkatkan juga promosi kita, khususnya untuk pariwisata,” ujar Glenny Kairupan dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada 25 Juni.

Pengadaan Unit Baru Jangka Panjang

Strategi penambahan pesawat ini, kata Glenny, dijalankan melalui kombinasi percepatan restorasi pesawat yang sempat masuk masa perawatan intensif (grounded) serta penjajakan pengadaan unit baru secara jangka panjang.

Melalui langkah optimalisasi tersebut, Garuda Indonesia Group menargetkan dapat mengoperasikan total hingga 118 armada siap terbang pada akhir fase pemulihan ini.

Selain itu, perluasan utilisasi armada ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Kerja sama strategis ini memungkinkan Garuda Indonesia memanfaatkan penerbangan kosong (empty leg) dari pesawat carter haji untuk melayani rute internasional lainnya atas izin General Authority of Civil Aviation (GACA) Arab Saudi.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Haji dan Umrah menargetkan maskapai pelat merah ini mampu menyerap sedikitnya 50 persen dari total potensi pasar jemaah umrah asal Indonesia, yang saat ini diperkirakan mencapai 3 juta jemaah setiap tahunnya.

Dengan armada yang lebih kuat dan fleksibel, Garuda Indonesia optimistis mampu meraih keunggulan kompetitif sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional.

Glenny menambahkan, khusus untuk penerbangan haji tahun ini, OTP (On Time Performance) Garuda Indonesia mencapai 98%.

Komitmen Pembelian 50 Pesawat Boeing

Rencana pengadaan ini bukan sekadar keputusan komersial biasa dari pihak maskapai, melainkan sebuah komitmen makro-ekonomi tingkat tinggi.

Dalam catatan Airspace Review, komitmen pembelian 50 unit pesawat Boeing senilai total sekitar US$ 13,5 miliar (sekitar Rp227 triliun) telah dicanangkan sebagai bagian dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang disepakati oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.

Kesepakatan ini dirancang untuk menyeimbangkan tarif impor resiprokal antar kedua negara.

Karena payung hukumnya adalah kesepakatan antarpemerintah (G-to-G), jumlah total unit (50 pesawat) dan nilai investasinya diputuskan terlebih dahulu, sementara detail teknis operasionalnya diserahkan kemudian kepada pihak Garuda Indonesia.

Sementara itu, dari pihak Boeing sendiri belum ada pengumuman mengenai kontrak yang disepakati dengan Garuda Indonesia terkait akuisisi 50 pesawat ini.

Evaluasi Kebutuhan oleh Garuda

Garuda Indonesia bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) saat ini masih mengkaji business model dan melakukan kalkulasi mendalam.

Garuda harus mencocokkan tipe pesawat Boeing dengan strategi jaringan rute masa depan mereka.

Untuk produk Boeing sendiri, terdapat pilihan pesawat berbadan lebar 787 Dreamliner untuk untuk memperkuat rute jarak jauh (long-haul) seperti penerbangan Haji, Umrah, maupun rute internasional lainnya.

Pesawat tersebut dikombinasikan dengan pesawat berbadan sempit (narrow-body) seperti seri Boeing 737 MAX untuk efisiensi rute domestik dan regional.

Proses penentuan fleet mix (komposisi tipe armada) ini tentunya membutuhkan kajian aspek finansial dan teknis yang sangat ketat agar tidak membebani keuangan perusahaan di masa depan.

Menyesuaikan dengan Slot Produksi Boeing

Krisis rantai pasok (supply chain) global membuat antrean produksi di pabrikan Boeing sangat padat.

Manajemen Garuda masih terus bernegosiasi intensif dengan Boeing untuk melihat tipe pesawat mana yang memiliki delivery slot (jadwal pengiriman) paling realistis dan cepat agar bisa segera mendukung operasional maskapai tanpa harus menunggu indent yang terlalu lama.

Secara singkat, angka “50 pesawat Boeing” sudah dikunci sebagai komitmen politik-ekonomi dengan AS, yang tentunya “harus” direalisasikan.

Namun apa saja tipenya masih digodok oleh Garuda agar sesuai dengan kebutuhan komersial nyata di lapangan. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *