Pentagon terpaksa terima enam F-35 kopong tanpa radar: Demi produksi jalan terus

USMC F-35BVia Militarnyi
USMC F-35B.

AIRSPACE REVIEW – Departemen Perang AS (Pentagon) memutuskan untuk kembali menerima jet tempur F-35 baru tanpa dilengkapi radar utama. Langkah ini diambil karena adanya kendala pengembangan pada teknologi radar terbaru mereka.

Hal ini menegaskan program jet tempur siluman F-35 Lightning II Amerika Serikat kembali menghadapi tantangan baru.

Penerimaan pesawat, seperti diberitakan ASFM dilakukan guna menghindari penghentian kembali lini produksi di fasilitas Lockheed Martin, produsen jet tempur generasi kelima AS ini.

Keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut disepakati oleh Kantor Program Bersama F-35 (JPO) bersama Lockheed Martin dan Angkatan Bersenjata AS.

Pihak militer menilai bahwa menghentikan proses pengiriman pesawat justru akan berdampak jauh lebih buruk bagi rantai pasokan global, produksi, serta kontrak internasional.

Baru F-35B Korps Marinir

Direktur JPO, Letnan Jenderal Gregory Masiello, mengungkapkan dalam dengar pendapat di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat AS bahwa sejauh ini baru enam unit F-35B milik Korps Marinir AS (USMC) yang dikirim tanpa dipasangi radar.

Pesawat-pesawat tersebut diproduksi awal tahun ini dan masuk ke tahap uji penerimaan pada Februari.

Sementara itu, untuk versi F-35A milik Angkatan Udara (USAF) dan F-35C milik Angkatan Laut (US Navy) dipastikan belum ada yang dikirim tanpa radar.

Namun, USAF dilaporkan juga akan menerima beberapa unit serupa di masa mendatang.

Masalah pada Radar AN/APG-85

Keterlambatan ini berpusat pada radar Active Electronically Scanned Array (AESA) terbaru buatan Northrop Grumman, yakni AN/APG-85.

Radar ini merupakan salah satu komponen kunci untuk modernisasi F-35 ke standar Block 4.

Meskipun menjanjikan lompatan teknologi besar —termasuk jarak deteksi yang lebih jauh, ketahanan terhadap perang elektronik, dan pelacakan banyak target sekaligus— proses manufaktur, integrasi elektronik, dan sertifikasinya menghadapi kendala besar sehingga tidak sesuai jadwal.

Pihak militer tidak bisa begitu saja memasang radar lama (AN/APG-81) yang saat ini digunakan operasional pada pesawat baru tersebut.

Radar baru AN/APG-85 memiliki arsitektur fisik yang berbeda dan membutuhkan modifikasi struktural pada bagian hidung pesawat.

Akibatnya, jet F-35 yang sudah diproduksi untuk standar baru ini tidak kompatibel dengan radar versi lama.

Dipasangi Pemberat

Sebagai solusi sementara, pesawat yang keluar dari pabrik dipasangi beban pemberat (kompensasi) di bagian depan badan pesawat demi menjaga keseimbangan dan pusat gravitasi (center of gravity).

Meskipun tanpa radar utama, jet-jet ini tetap bisa digunakan untuk misi pelatihan, kualifikasi pilot, uji terbang, dan pembentukan skuadron baru.

Begitu radar AN/APG-85 siap diproduksi massal, jet-jet ini akan dibawa ke pusat perawatan untuk dipasangi radar dan diperbarui sepenuhnya ke standar Block 4.

Tantangan Kesiapan Armada

Langkah tak biasa ini menuai sorotan, terutama setelah laporan terbaru dari Government Accountability Office (GAO) menyoroti rendahnya tingkat kesiapan tempur armada F-35.

Laporan GAO menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, hanya sekitar 25% dari armada F-35 yang siap sepenuhnya (fully mission-capable) untuk menjalankan semua misi tempur mereka.

Letjen Masiello mengakui bahwa jet F-35 yang dikirim tanpa radar saat ini tidak bisa dikategorikan siap tempur penuh.

Kendati demikian, Pentagon menilai mempertahankan ritme produksi tetap menjadi prioritas strategis demi memenuhi peremajaan armada dalam negeri dan memenuhi pesanan dari 20 negara mitra internasional, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Hingga saat ini, Lockheed Martin telah mengirimkan lebih dari 1.200 unit F-35 ke berbagai negara di seluruh dunia, dengan rekor pengiriman tertinggi dicapai pada tahun 2025 sebanyak 191 pesawat. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *