Di balik layar proses modifikasi 747-8i hadiah dari Qatar menjadi VC-25B Bridge Air Force One

VC-25B Bridge Air Force One 747-8iX/ @cholubaz
VC-25B Bridge Air Force One Boeing 747-8i.

AIRSPACE REVIEW – Dinamai BC-25 “Bridge” pesawat Air Force One ini adalah hasil dari modifikasi pesawat Boeing 747-8i hadiah dari Qatar kepada Amerika Serikat.

Bridge berarti “jembatan” (interim) sebelum dua pesawat Air Force One, yang juga berbasis 747-8i, selesai dibangun oleh Boeing. Pembangunan kedua pesawat ini tertunda bertahun-tahun karena berbagai hal.

Yang menjadi sorotan, kenapa L3Harris yang ditunjuk pengerjaan modifikasi 747-8i dari Qatar untuk menjadi pesawat kepresidenan AS?

Jason Lambert, Presiden Divisi Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) di L3Harris, yang diwawancarai The War Zone (TWZ) mengungkapkan kisah luar biasa di balik proyek yang sebelumnya berstatus sangat rahasia (unacknowledged special access program) ini.

Kerja Kilat 24/7 Selama 10 Bulan

Mengubah pesawat komersial atau jet pribadi menjadi pesawat kepresidenan AS umumnya memakan waktu bertahun-tahun.

Namun, L3Harris berhasil menyelesaikannya hanya dalam waktu 10 bulan saja.

Lambert mengungkapkan bahwa timnya beroperasi dalam struktur tiga sif selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa henti.

Target mereka sangat emosional dan monumental, yaitu menyerahkan pesawat ini sebelum Hari Kemerdekaan AS ke-250 (4 Juli 2026).

Mengapa L3Harris, Bukan Boeing?

Sebagai integrator non-OEM (bukan pabrikan asli seperti Boeing atau Airbus) terbesar di dunia, L3Harris memiliki spesialisasi merombak pesawat yang sudah ada untuk misi-misi khusus militer, seperti pesawat perang elektronik EA-37B Compass Call dan pesawat mata-mata RC-135 Rivet Joint.

Selain itu, L3Harris adalah kontraktor utama untuk Senior Leader Communication System.

Perusahaan ini adalah otak di balik sistem komunikasi aman yang digunakan presiden AS untuk terhubung dengan para pemimpin dunia dan stafnya tanpa risiko disadap oleh musuh.

Karena pesawat ini sebelumnya dimiliki oleh Kerajaan Qatar, muncul kekhawatiran besar di kalangan publik mengenai keamanan, seperti kemungkinan adanya alat penyadap tersembunyi (bugs) atau celah siber.

Lambert menegaskan bahwa tim ahli keamanan siber dan elektronik dari pemerintah AS bekerja sama ketat dengan L3Harris untuk melakukan sterilisasi total.

Meskipun detail teknisnya sangat dirahasiakan (classified), ia menjamin bahwa semua potensi ancaman tersebut telah dimitigasi sepenuhnya hingga tingkat tertinggi.

Mempertahankan Kemewahan

Sebelum dikonversi, jet Qatari 747-8i ini adalah salah satu pesawat VIP paling mewah dan mahal di bumi.

Untuk mengejar waktu yang sangat mepet, L3Harris menerapkan aturan ketat: tidak mengubah struktur utama ruangan, dinding keras, atau sekat besar (monuments).

Kendati demikian, penyesuaian interior tetap dilakukan. Beberapa bagian estetika yang dirasa kurang mencerminkan gaya kepresidenan AS diubah.

L3Harris melakukan modifikasi pada sentuhan akhir, termasuk penggantian material kulit, kayu, dan aspek interior lainnya agar lebih sesuai dengan representasi Kepala Negara Amerika Serikat.

Skema Warna Baru

Salah satu aspek yang paling banyak menyita perhatian adalah eksterior atau livery pesawat.

Atas permintaan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan elemen bendera Amerika, skema warna baru ini memadukan warna putih di bagian atas, garis merah dan emas di tengah, serta warna biru dongker (navy blue) di bagian bawah lambung pesawat.

Proses pengecatan ini diakui sangat rumit. L3Harris bahkan harus melakukan uji coba terlebih dahulu pada badan pesawat jet bisnis bekas yang sudah tidak terpakai untuk melatih teknik pengecatan warna putih, merah, biru, dan emas tersebut.

Mereka juga menerapkan skema ini terlebih dahulu pada pesawat Boeing 757 (C-32A) untuk mengoptimalkan urutan pengecatan, di mana warna biru dongker diaplikasikan paling terakhir.

Pelatihan Pilot dan Kru

Karena Boeing 747-8i berukuran jauh lebih besar (lebih panjang sekitar 5,5 meter) daripada armada Air Force One lama (VC-25A berbasis 747-200) yang sudah berusia 35 tahun, L3Harris juga ditugaskan membangun program pelatihan pilot dan kru.

Perusahaan menyewa pesawat dari Atlas Air dan membeli satu unit 747-8i dari armada komersial Lufthansa khusus untuk dijadikan pesawat latih terbang bagi Presidential Airlift Group.

Di Joint Base Andrews, mereka membangun replika interior pesawat skala 1:1 di lantai hanggar.

Replika super akurat ini mencakup tata letak dinding, meja, kursi, hingga dapur (galley), sehingga kru kabin dapat berlatih melayani presiden secara sempurna bahkan sebelum pesawat itu lepas landas untuk pertama kalinya.

Paradigma Baru

Proyek VC-25B “Bridge” ini membuktikan bahwa proses pengadaan di dunia militer yang selama ini dikenal lambat dan birokratis bisa dihancurkan.

Menurut Lambert, ketika pemerintah, militer, dan industri berkolaborasi erat dengan keselarasan kepemimpinan dari tingkat paling atas, hal yang dianggap mustahil seperti membangun Air Force One dalam 10 bulan pun dapat diwujudkan.

Kini, sementara satu armada lama VC-25A sedang menjalani perawatan kosmetik dan cat di fasilitas L3Harris, jet interim 747-8i yang anggun dan modern ini siap membawa Presiden AS melintasi benua untuk misi-misi internasionalnya. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *