Pilot F-5 Iran ungkap rahasia misi menyerang Kuwait: Terbang hanya 15 meter dari atas tanah

AIRSPACE REVIEW – Sekelompok pilot jet tempur F-5 Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF) mengungkapkan detail terbaru bagaimana mereka berhasil menembus pertahanan ketat dan mengebom pangkalan militer AS, Camp Buehring, di Kuwait.
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, para pilot IRIAF tersebut menceritakan salah satu misi paling berisiko yang mereka jalankan dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel.
Misi rahasia yang diluncurkan sebagai aksi balasan atas serangan AS dan Israel terhadap fasilitas militer serta nuklir Iran ini mengandalkan taktik ekstrem.
Untuk menghindari radar dan sistem pertahanan udara musuh, jet tempur F-5 Kowsar Iran terbang dengan profil ketinggian yang sangat rendah.
Terbang di Bawah Ketinggian Tiang Listrik
“Kami benar-benar nyaris menyentuh tanah. Kami bahkan terbang di bawah jalur kabel transmisi listrik,” ungkap komandan misi tersebut, dikutip oleh Tasnimnews.
Jika dalam latihan normal mereka terbang di ketinggian sekitar 500 kaki, pada operasi ini para pilot mempertahankan ketinggian di bawah 50 kaki (sekitar 15 m) di atas permukaan tanah.
Sepanjang perjalanan, mereka juga menerapkan keheningan radio total (radio silence) dan memanfaatkan kontur medan untuk menyembunyikan pergerakan dari endapan radar berlapis, seperti sistem Patriot, pesawat AWACS, dan jet tempur patroli musuh.
Salah satu momen paling menegangkan terjadi saat melintasi Teluk Persia. Formasi jet tempur Iran terbang sangat rendah di antara kapal-kapal sipil dan militer yang sedang berlayar.
“Kami melintas di antara dua kapal dengan ketinggian yang sangat rendah hingga dek kapal tersebut berada di atas kami. Para pelaut bahkan harus mencondongkan badan ke pagar pembatas kapal untuk bisa melihat kami lewat di bawah mereka,” kenang sang pilot.
Kehancuran di Camp Buehring
Target utama misi ini adalah Camp Buehring yang terletak di utara Kuwait. Ini adalah sebuah pangkalan logistik strategis yang krusial bagi Angkatan Darat AS untuk menampung pasukan, kendaraan lapis baja, persenjataan, dan amunisi di kawasan Teluk.
Karena karakteristik persenjataan yang dibawa, jet tempur Iran harus terbang tepat di atas pangkalan untuk menjatuhkan bom.
Menurut pengakuan pihak Iran, bom-bom tersebut memicu ledakan masif dan kerusakan signifikan.
Komandan misi mengklaim bahwa gelombang kejut dari ledakan itu bahkan mementalkan helikopter-helikopter militer AS yang tengah diparkir di pangkalan serta memicu rentetan ledakan sekunder.
Meski klaim ini belum bisa diverifikasi secara independen, analisis citra satelit dan investigasi media internasional seperti The Washington Post mengindikasikan bahwa serangan Iran selama konflik ini menimbulkan dampak yang jauh lebih besar dari yang diakui Washington.
Investigasi mencatat setidaknya 228 struktur dan peralatan di 15 fasilitas militer AS di Timur Tengah mengalami kerusakan atau kehancuran.
Kekacauan dan Insiden Friendly Fire
Serangan mendadak Iran ini dilaporkan memicu kepanikan dan kekacauan pada sistem pertahanan sekutu.
Menurut pilot Iran, komunikasi dan koordinasi jet tempur serta pertahanan antiudara musuh saling tumpang tindih saat mencoba merespons rembatan tersebut.
Kekacauan ini diduga berkaitan dengan insiden fatal ketika sistem pertahanan Patriot yang dioperasikan oleh Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS karena salah identifikasi di tengah situasi genting.
Setelah menuntaskan pengeboman, jet-jet Iran melakukan manuver tipuan yang telah direncanakan demi menghindari pengejaran dan berhasil kembali ke pangkalan mereka dengan selamat.
Para pilot menegaskan bahwa misi tersebut sejak awal dirancang dengan doktrin “harus berhasil dengan cara apa pun”, bahkan jika mereka harus kehilangan nyawa atau pesawat dalam prosesnya.
Operasi udara berisiko tinggi ini merupakan bagian dari kampanye militer lebih luas yang diluncurkan oleh Iran, melibatkan kombinasi serangan rudal balistik, drone, dan taktik penetrasi udara konvensional berkecepatan rendah demi menyiasati arsitektur pertahanan udara tercanggih di dunia. (RNS)
