Radar ECRS Mk1 AESA pada jet Eurofighter Typhoon mulai diuji dalam operasi langsung
HENSOLDTAIRSPACE REVIEW – Dua mitra konsorsium Eurofighter Common Radar System Mark 1 (ECRS Mk1), HENSOLDT dari Jerman dan Indra dari Spanyol, secara resmi telah memulai pengujian radar AESA (active electronic scanned array) terbaru Mk1 dalam operasi langsung di pesawat Eurofighter Typhoon.
Pada fase pengujian awal, radar ECRS Mk1 AESA sudah menggunakan sepenuhnya perangkat keras dan perangkat lunak paling canggih saat ini.
Proses pengujian dilakukan dengan menstimulasi radar ECRS Mk1 menggunakan target langsung yang muncul secara kebetulan (targets of opportunity) serta target kerja sama langsung (live cooperative targets).
Pengujian bertujuan untuk menyimulasikan skenario nyata sekaligus mematangkan sistem perangkat lunak radar.
Tonggak Sejarah Penting
Hasil awal pengujian menunjukkan keunggulan yang signifikan, terutama dalam hal ketangguhan (robustness) serta performa dari arsitektur hardware dan software baru tersebut.
Capaian positif ini memperkokoh keputusan yang diambil tahun 2024 untuk meningkatkan subsistem radar ECRS Mk1.
“Dimulainya fase pengujian ini menandai tonggak sejarah penting dalam melengkapi Eurofighter dengan radar AESA yang memiliki kemampuan tingkat lanjut. Sistem ini akan mendukung keunggulan udara pesawat tempur ini di tahun-tahun mendatang,” ujar Mónica Pérez Fernández, Direktur Program Eurofighter di Indra.
Ia menambahkan bahwa radar ini akan menjadi salah satu radar lintas udara paling canggih yang pernah beroperasi.
Proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi jangka panjang antarperusahaan terkemuka di Eropa mampu mempercepat kemajuan dan menghadirkan solusi mutakhir bagi angkatan bersenjata.
Pengiriman Akan Dimulai Tahun 2027
Senada dengan hal tersebut, Falko Firl selaku Head of Eurofighter Radar di HENSOLDT, menyatakan bahwa pencapaian simbolis ini merupakan hasil komitmen tanpa henti dari para mitra industri (Airbus, Indra, dan HENSOLDT) serta dukungan kuat dari pemerintah Jerman dan Spanyol.
Langkah besar ini sekaligus melapangkan jalan bagi pengiriman perdana ECRS Mk1 ke kedua negara tersebut pada tahun 2027.
Seperti diketahui, ECRS Mk1 merupakan radar pada jet tempur Eurofighter Typhoon generasi berikutnya yang berbasis teknologi multi-channel AESA. Proyek yang pertama kali disepakati pada tahun 2020 ini mengintegrasikan prosesor berspesifikasi tinggi.
Arsitektur ECRS Mk1 dirancang khusus untuk meningkatkan seluruh spektrum misi jet tempur.
Kemampuannya mencakup pertempuran udara ke udara tingkat lanjut, pemindaian udara ke darat beresolusi tinggi, serta kapabilitas peperangan elektronik (EW) baik secara pasif maupun aktif.
Evolusi dari radar CAPTOR-M dan CAPTOR-E
Sebelum beralih ke varian AESA modern, jet Eurofighter Typhoon mengandalkan keluarga radar bernama CAPTOR (awalnya dikenal sebagai ECR-90).
Radar ini dikembangkan oleh konsorsium Euroradar yang dipimpin oleh Leonardo, BAE Systems, HENSOLDT, dan Indra.
Sejak awal operasionalnya (pada Tranche 1, Tranche 2, dan sebagian Tranche 3A), Typhoon menggunakan CAPTOR-M. Ini adalah radar pemindai mekanis pulsa-Doppler konvensional (mechanically scanned radar).
Meskipun masih digerakkan secara mekanis menggunakan gimbal untuk mengarahkan antena ke kiri dan ke kanan, CAPTOR-M diakui sebagai salah satu radar mekanis terbaik dan paling bertenaga di dunia pada masanya.
Jangkauan deteksi udaranya sangat jauh dan memiliki mode udara ke darat yang sangat andal.
Namun, kelemahannya tetap sama dengan semua radar mekanis, di mana kecepatan pindai (scan rate) terbatas oleh gerakan fisik antena, dan lebih rentan terhadap gangguan electronic jamming.
CAPTOR-E
Untuk mengejar ketertinggalan dari jet tempur generasi kelima, konsorsium Eurofighter kemudian mengembangkan varian AESA pertama mereka yang berbasis pada platform CAPTOR, yang kemudian diberi nama CAPTOR-E (Common European Advanced Radar – Electronically Scanned).
Menariknya, pengembangan radar AESA untuk Typhoon ini tidak seragam dan terbagi menjadi beberapa cabang berdasarkan kebutuhan negara penggunanya.
Di sinilah penamaan ECRS (Eurofighter Common Radar System) muncul untuk menggantikan nama CAPTOR-E.
Radar CAPTOR-E terdiri dari beberaoa varian. ECRS Mk0 (CAPTOR-E varian dasar) adalah radar AESA pertama yang diproduksi massal untuk Typhoon.
Radar ini dipasang pada jet Tranche 3A milik Kuwait dan Qatar. Keunikan radar ini (dan varian ECRS setelahnya) adalah antenanya dipasang pada repositioner (gimbal mekanis berputar).
Jadi, selain gelombangnya diarahkan secara elektronik, fisik antenanya juga bisa menengok, memberikan sudut pandang (field of view) mencapai 200 derajat —jauh lebih luas dari radar AESA statis biasa.
Setelah itu lahir ECRS Mk1. Inilah varian yang sedang diuji oleh Jerman dan Spanyol saat ini. Radar ini menggunakan hardware baru dari HENSOLDT dan Indra, serta modul TR (Transmit/Receive) berbasis Galium Nitrida (GaN) untuk daya pancar yang lebih kuat dan ketahanan jamming yang lebih baik.
Sementara itu ada juga ECRS Mk2. Ini adalah varian radar yang dikembangkan khusus oleh Inggris (bersama Leonardo UK) untuk armada Typhoon RAF.
Fokus Mk2 adalah kemampuan peperangan elektronik (EW) dan serangan elektronik (EA) berspesifikasi sangat tinggi yang bisa mengacak-acak radar musuh dari jarak jauh. Dapat dipahami ya...(RNS)
