Selain ratusan rudal untuk Su-35, Iran ternyata juga pesan 12 Su-30SM2 bekas Rusia: Tahun depan tiba
Vitaly V. KuzminAIRSPACE REVIEW – Upaya Iran dalam memperkuat pangkalan pertahanan udaranya terus menunjukkan pergerakan yang masif. Sebuah dokumen rahasia yang bocor baru-baru ini tidak hanya mengungkap ambisi Teheran untuk mempersenjatai armada jet tempur Su-35 miliknya dengan ratusan rudal canggih asal Rusia, namun juga mengonfirmasi adanya kesepakatan baru.
Kementerian Pertahanan Iran dilaporkan telah menandatangani kontrak untuk mendatangkan 12 unit jet tempur kelas berat multiperan Su-30SM2 dari Moskow. Pesawat dijadwalkan tiba tahun depan.
Menariknya, seperti diberitakan Military Watch Magazine, selusin Su-30SM2 yang dipesan ini bukanlah pesawat baru dari lini produksi, melainkan unit bekas (second-hand) milik Angkatan Laut atau Angkatan Dirgantara Rusia yang memiliki catatan jam terbang sangat rendah.
Berdasarkan laporan tertanggal 4 Juni 2026, persiapan infrastruktur untuk mendukung operasional armada Su-30SM2 ini akan segera dimulai di Iran.
Proses pengiriman jet tempur bermesin ganda tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pertengahan hingga akhir tahun 2027.
Paket Rudal Canggih Senilai Triliunan Rupiah
Pembelian Su-30SM2 bekas ini menjadi pelengkap dari proyek modernisasi udara Iran yang sebelumnya telah berjalan.
Berdasarkan dokumen rahasia milik Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran (MODAFL) yang bocor ke publik, Teheran telah menyetujui anggaran sebesar 835 juta dolar AS (sekitar Rp13,6 triliun) khusus untuk membeli persenjataan mutakhir dari Rusia guna mempersenjatai jet tempur Su-35 Flanker-E mereka.
Dalam dokumen kontrak tersebut, Rusia berkomitmen untuk memasok ratusan rudal pintar ke Iran dalam rentang waktu antara tahun 2024 hingga 2027.
Paket persenjataan maut tersebut mencakup rudal udara ke udara jarak dekat R-74M2, rudal jarak menengah R-77-1, serta rudal jarak jauh legendaris R-37M yang mampu menghantam target hingga jarak 350 km.
Kemudian rudal udara ke permukaan Kh-38M, Kh-31PM (penghancur radar musuh), serta rudal jelajah antikapal berkecepatan supersonik Kh-31AM.
Selain itu ada bom pintar berpemandu laser KAB-500Kr dan bom pintar berpemandu satelit/TV jenis UPAB-1500B-E yang dirancang untuk menghancurkan bunker serta target permukaan yang diperkeras.
Alasan Strategis Memilih Su-30SM2 Bekas
Para analis militer menilai, keputusan Teheran memilih opsi jet tempur bekas Su-30SM2, selain pengadaan Su-35, didasari oleh beberapa faktor krusial.
Faktor kecepatan pengiriman menjadi pertimbangan utama. Mengingat tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah, Iran membutuhkan penambahan armada dalam waktu cepat.
Mengambil pesawat siap pakai dari garda depan Rusia jauh lebih efisien daripada menunggu antrean produksi baru.
Selain itu adalah masalah efisiensi biaya di mana harga Su-30SM2 bekas diperkirakan 40 persen lebih murah dibandingkan Su-35S baru, namun menawarkan kemudahan perawatan yang serupa.
Dari sisi performa, Su-30SM2 juga ditenagai mesin AL-41F-1S yang sama dengan Su-35.
Hal ini memberikan kesamaan logistik dan performa yang sangat tinggi (mencapai 85–95% dari kemampuan Su-35), tetapi hadir dalam konfigurasi dua kursi (twin-seat).
Pengganti Armada F-4, F-5, dan F-14
Hingga kini, muncul spekulasi mengenai unit militer mana yang akan mengoperasikan 12 jet tempur Su-30SM2 ini.
Sebagian pihak memprediksi pesawat ini akan bergabung dengan Angkatan Udara Iran (IRIAF) untuk meremajakan armada tua era Perang Dingin seperti F-4 Phantom, F-5 Tiger, dan F-14 Tomcat.
Namun, sumber internal Rusia memberikan indikasi lain bahwa armada Su-30SM2 ini kemungkinan besar ditujukan untuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Selama ini, IRGC lebih dominan dalam penguasaan teknologi rudal dan drone. Jika IRGC benar-benar mulai mengoperasikan jet tempur kelas berat dengan radar luas serta kemampuan komando-kendali udara seperti Su-30SM2, hal ini diprediksi akan mengubah peta pencegahan (deterrence) di regional secara signifikan sekaligus memicu reaksi keras dari Blok Barat.
Kedatangan ratusan rudal pintar untuk Su-35 dan tambahan armada Su-30SM2 pada tahun 2027 dipastikan akan menjadi lompatan kuantum bagi kekuatan ruang udara Iran, sekaligus mempertegas semakin eratnya kemitraan strategis dan militer antara Teheran dan Moskow. (RNS)
