F-16V AS tertunda, Taiwan gandeng Prancis untuk perpanjang napas jet tempur Mirage 2000

Mirage 2000-5 TaiwanPeter R Foster IDMA/Shutterstock

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Taiwan (ROCAF) resmi menandatangani kontrak baru bernilai fantastis dengan produsen dirgantara asal Prancis, Dassault Aviation.

Langkah strategis ini diambil sebagai solusi interim (jangka pendek) guna memastikan kesiapan tempur armada Mirage 2000-5 miliknya, di tengah keterlambatan pengiriman jet tempur F-16V baru dari Amerika Serikat akibat kendala rantai pasok global.

Berdasarkan laporan dari Kementerian Pertahanan Taiwan, kontrak pemeliharaan ini bernilai NT$ 926,47 juta (sekitar Rp470 miliar) dengan durasi kontrak selama lima tahun ke depan.

Melalui kesepakatan ini, Dassault akan mengirimkan tim ahli dan teknisi khusus langsung ke Pangkalan Udara Hsinchu di Taiwan utara.

Tim tersebut bertanggung jawab untuk memberikan pelatihan teknis tingkat lanjut, perawatan berkala, serta perbaikan struktural armada jet tempur legendaris tersebut agar tetap prima mengawal langit Taiwan dari tekanan militer China.

Menjaga Kesiapan di Tengah Krisis Suku Cadang

Taiwan pertama kali menerima kiriman 60 unit jet tempur Mirage 2000-5 dari Prancis pada tahun 1997.

Saat ini, sebanyak 53 pesawat masih aktif beroperasi dan memegang peran vital sebagai pencegat (interceptor) utama dalam merespons setiap intrusi pesawat militer China di zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan.

Namun, karena usia pesawat yang sudah memasuki fase akhir siklus hidupnya, kelangkaan suku cadang sempat memicu perdebatan.

Waktu tunggu pengiriman suku cadang dari Prancis dilaporkan bisa memakan waktu hingga dua tahun.

Meski demikian, CEO Dassault Aviation, Éric Trappier, menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Taiwan.

“Dinamika suku cadang dan perbaikan memang menurun karena produksi global mulai dialihkan, tetapi kami tetap memberikan dukungan yang sangat baik untuk Taiwan,” ujarnya.

Rafale Jadi Alternatif Jet Tempur Masa Depan

Kontrak dengan Dassault melengkapi rangkaian investasi besar yang digelontorkan Taiwan untuk merawat armada Mirage mereka.

Taiwan masih menjalankan kontrak dengan perusahaan mesin Prancis, Safran Aircraft Engines, untuk pasokan komponen mesin jet M53.

Pada akhir tahun lalu, Taiwan juga mengamankan kontrak untuk pengadaan komponen rudal udara ke udara jenis MICA dan Magic II.

Taiwan sebelumnya juga mendanai studi kelayakan khusus senilai jutaan dolar bersama Dassault untuk mengevaluasi apakah rangka pesawat Mirage varian kursi ganda (twin-seat) mereka dapat terus diterbangkan hingga 20 tahun ke depan.

Di sisi lain, minat Taiwan untuk memodernisasi armada udaranya di masa depan tampaknya mengarah pada jet tempur generasi terbaru Prancis, Rafale.

Namun, kendali politik dan potensi reaksi diplomatik keras dari Beijing diprediksi akan menjadi tantangan besar bagi Prancis jika kesepakatan penjualan Rafale ke Taiwan benar-benar menggelinding di masa mendatang. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *