Imbas keterlambatan F-35, Angkatan Udara AS rombak total sistem komputer F-16

USAF F-16 Elephant WalkUSAF

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dilaporkan telah memulai pencarian industri untuk pengadaan komputer misi (mission computer) baru bagi armada jet tempur F-16 milik mereka.

Langkah ini diambil karena sistem avionik yang ada saat ini dinilai telah membatasi kemampuan pesawat untuk menerima pemutakhiran (upgrade) teknologi terbaru.

Keputusan ini mencerminkan tren yang lebih luas di mana Angkatan Udara AS secara signifikan meningkatkan investasi untuk memodernisasi armada F-16.

Hal tersebut terpaksa dilakukan menyusul berbagai kendala besar pada program jet tempur generasi kelima F-35, yang memaksa militer AS tetap mengoperasikan jet tempur generasi keempat F-16 dalam jumlah yang jauh lebih besar dan waktu yang lebih lama dari perkiraan semula.

Program F-35 tidak hanya mengalami penundaan besar sebelum resmi beroperasi, tetapi skala pengadaannya juga merosot tajam dari proyeksi awal.

Target pengadaan tahunan oleh Angkatan Udara AS terus terpangkas, mulai dari rencana awal sebanyak 110 unit, turun menjadi 80, kemudian 60, lalu 48, hingga baru-baru ini dilaporkan hanya berkisar antara 24 hingga 40 jet tempur saja per tahun, seperti dilaporkan Military Watch Magazine.

F-16 pertama kali bertugas di USAF pada tahun 1978 dan hingga kini masih menjadi jet tempur dengan jumlah operasional terbesar di AS maupun di dunia Barat.

Padahal, USAF telah menghentikan pembelian F-16 baru sejak tahun 2005, dengan ekspektasi akan menerima hampir 100 unit F-35 per tahun yang awalnya diproyeksikan mulai beroperasi sekitar tahun 2010.

Saat ini, varian F-16 Block 40, 42, 50, dan 52 masih menjadi tulang punggung armada udara AS.

Meskipun ratusan di antaranya telah dimodernisasi ke standar F-16V dengan avionik generasi empat plus (termasuk radar canggih AESA AN/APG-83), ketergantungan pada komputer yang menua tetap menimbulkan masalah serius dalam proses modernisasi.

Kesulitan akibat komputer lama ini sempat disoroti dalam kasus ekstrem di Angkatan Udara Taiwan (ROCAF) di mana upaya peningkatan armada F-16 Block 20 lama ke standar F-16V justru sempat memicu defisiensi operasional utama yang membahayakan keselamatan pilot.

Prosesor pada komputer misi memegang peran krusial karena bertugas mengolah input dari radar, sistem navigasi, jaringan data (data link), hingga targeting pod untuk menyajikan gambaran medan perang kepada pilot, sekaligus mengelola pelepasan senjata dan sistem perang elektronik (EW).

Arsitektur komputer misi Modular Mission Computer (MMC) yang digunakan saat ini masih berbasis pada konsep Common Configuration Implementation Program (CCIP) dari era 2000-an.

Arsitektur baru yang kini dicari oleh USAF diharapkan membawa perubahan mendasar dalam cara avionik jet tempur dibangun, dirawat, dan diperbarui, yaitu dengan mengadopsi sistem arsitektur terbukaberbasis perangkat lunak yang sesuai dengan Modular Open Systems Approach (MOSA).

Dengan arsitektur baru ini, USAF nantinya dapat langsung meningkatkan kartu prosesor di dalam komputer F-16 begitu cip yang lebih cepat tersedia di pasaran, tanpa perlu mengganti seluruh unit komputer.

Fleksibilitas ini juga akan mempermudah integrasi modul pemrosesan kecerdasan buatan (AI) di masa depan seiring matangnya teknologi sensor fusion dan penargetan berbasis AI, tanpa harus menunggu desain ulang avionik secara menyeluruh.

Meski F-16 secara teknis akan semakin dianggap usang di masa mendatang, biaya perawatan yang rendah serta tingkat keandalan yang tinggi, membuat investasi pada pemutakhiran komponen F-16 ini menjadi pilihan yang kian menarik bagi USAF. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *